KESEMPURNAAN RASA CINTA KEPADA ALLAHTHE LOVE OF ALLAH AND HIS MESSENGER

Sesungguhnya rasa cinta yang paling agung adalah cinta kepada Allah Ta’ala yang telah menciptakan rasa cinta dan Sang Pemilik cinta. Kesempurnaan cinta kepada Allah tergambar pada tiga hal:

Mencintai Allah.
Mencintai apa-apa yang dicintai Allah.
Membenci apa-apa yang dibenci Allah.

Jika kita mencintai apa-apa yang tidak dicintai Allah, maka rasa cinta kita kepada Allah dianggap kurang. Yang banyak terjadi adalah apa-apa yang terkadang mencampuri hati, berupa syahwat-syahwat sederhana yang dapat mengganggu pengaplikasian rasa cinta kepada Allah, melaksanakan peribadatan kepada-Nya, dan juga keikhlasan dalam melakukan sesuatu untuk-Nya.

Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan konsekuensi keimanan yang paling besar. Setiap aktivitas yang ada merupakan ekspresi dari rasa cinta, yang baik maupun yang buruk.

Setiap amalan shalih yang didasari atas rasa keimanan tidak terjadi kecuali karena adanya kecintaan yang terpuji. Dasar dalam kecintaan yang terpuji adalah kecintaan kepada Allah dan kecintan kepada Rasul-Nya. Kecintaan kepada agama dan syariat. Kecintaan kepada para kekasih Allah dan hamba-hamba-Nya yang shalih.

Semua perbuatan yang buruk tidak terjadi kecuali dari rasa cinta yang tercela. Fitnah akan senantiasa menimpa hati manusia, kecuali jika agama dan rasa cinta seorang hamba hanya ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla saja. Jika tidak, maka rasa cinta kepada makhluk termasuk dalam kategori kecintaan kepada syahwat seperti telah dijelaskan di muka.

Kecintaan kepada makhluk memiliki sebab pendorong. Kecintaan manusia kepadanya mengharuskan usaha untuk mengerahkan semua kekuatan untuk mendapatkan apa yang dicintainya itu.

Jika dia tidak memiliki kekuatan yang dapat menghalanginya dari kecintaan dan takut kepada Allah, maka rasa cinta kepada makhluk itu akan membawa dan menggiringnya untuk mendapatkannya. Seperti rasa cinta istri seorang raja pada Nabi Yusuf Alaihissalam. Kuatnya keimanan, kecintaan dan takutnya Nabi Yusuf kepada Allah Azza wa Jalla, lebih kuat jika dibanding dengan kecantikan, keanggunan dan cintanya kepada istri raja.

Terkadang manusia mencintai seseorang karena ilmu yang dimiliki, agama atau kebaikannya. Fitnah dalam masalah ini sangatlah besar, kecuali jika diiringi dengan kuatnya keimanan, rasa takut kepada Allah dan tauhid yang sempurna.

Sesungguhnya ilmu, popularitas dan kedudukan merupakan fitnah yang dapat menghampiri siapa saja. Mereka akan meminta semua kebutuhan kepada orang tersebut. Jika dia tidak memberikannya, maka akan berkuranglah rasa cinta mereka dan akan lahirnya rasa benci.

Teman-teman yang dimiliki seseorang senantiasa memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga terkadang dia laksana budak bagi mereka. Sedangkan musuh-musuh yang dia miliki akan senatiasa berusaha untuk mencelakai dan membahayakannya.

Dua kelompok ini sebenarnya tidak bermaksud mengeksploitasinya dan juga tidak untuk menolak keburukannya, akan tetapi mereka hanya menginginkan terwujudnya apa yang mereka inginkan.

Jika seeorang tidak mampu untuk menjadi hamba Allah yang baik, tidak mampu bertawakal kepada Allah, maka dia akan dibinasakan oleh dua kelompok tadi, sehingga yang demikian itu akan menjadikannya hancur di dunia maupun di akhirat.

Setiap manusia mencintai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Lemah lembut dan perhatian dengannya. Menolongnya dan mengalahkan musuh-musuhnya. Membantunya untuk memenuhi semua kebutuhannya. Maka orang yang seperti ini akan sangat dicintainya.

Ketika seseorang mengetahui dengan baik, maka dia akan sadar bahwa yang telah berbuat baik kepadanya hanyalah Allah Ta’ala . Kebaikan yang dimiliki Allah tidak terbatas dan terhitung. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).

Ketika seseorang memberikan kesenangan kepadamu dengan semua yang dia miliki, memberikan kedudukan khusus untukmu sehingga engkau dapat memperlakukannya semaumu, maka engkau akan mengira bahkan akan yakin jika kebaikan itu berasal darinya. Ini adalah sebuah kesalahan.

Sesungguhnya dia dapat memberikan kebaikan dikarenakan uang yang dimiliki, dengan kemampuannya untuk menghadirkan uang tersebut dan dorongan yang ada dalam dirinya untuk menggunakan uang tersebut.

Siapakah yang memberikan nikmat kepada para makhluk? Yang telah memberikan harta kepada makhluk tersebut? Siapakah yang telah menciptakan kemauan dalam diri orang tersebut sehingga berkeinginan untuk menginfakkan hartanya? Siapakah yang mengarahkannya sehingga hanya mencintaimu saja dan memalingkan wajahnya hanya kepadamu saja dan tidak kepada yang lain?

Siapakah yang telah membimbing diri dan hatinya, sehingga berkesimpulan bahwa kebaikan agama dan dunianya dapat ditempuh dengan cara berbuat baik kepadamu? Kalau bukan karena hal itu, niscaya dia tidak akan memberimu apapun. Seolah-olah dia pasrah untuk memberikan hal itu kepadamu dan dia tidak kuasa untuk menolaknya.

Pada hakikatnya, yang telah berbuat baik adalah Allah saja, tidak ada sekutu baginya. Allah Ta’ala yang telah memerintahkan dan memaksa orang tersebut, serta memberikan karunia-Nya kepadamu. Allah Ta’ala yang memerintahkan malaikat penjaga kerajaan untuk memberikan sedikit bagian kepada orang tersebut.

Malaikat penjaga tidak dianggap telah berbuat baik karena memberikan sedikit bagian dari kekuasaan tersebut, karena dia juga melakukannya karena semata-mata untuk melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Jika malaikat tidak diberikan kuasa atas kerajaan tersebut, maka dia tidak mungkin dapat menyerahkan bagian tadi. Begitu juga orang yang berbuat baik. Seandainya Allah membebaskannya dari segala kebaikan, maka dia tidak mungkin dapat memberikan secuil kekayaannya, sampai Allah berikan dorongan kepadanya untuk melakukan kebaikan-kebaikan tersebut. Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepadanya, bahwa dia harus memberikan sesuatu itu, sehingga diapun melakukannya.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi siapa saja yang telah mengetahui, untuk tidak mencintai kecuali hanya kepada Allah saja. Karena kebaikan tidak mungkin datang dari selainnya. Kebaikan manusia itu semuanya berasal dari kebaikan Allah Azza Wa Jalla.

Sumber: fimadani.com

When the Messenger of Allah P.B.U.H. invited Ka`ab ibn al-Ashraf and his companions to Islam, they said, “We hold an honorable status as the sons of God, and indeed we love Allah more [than you].”
On this occasion, Allah (subhanahu wa ta`ala – exalted is He) revealed the following verse:

Say, [O Muhammad], “If you truly love Allah, then follow me; Allah will love you and forgive you your sins; and Allah is Forgiving and Merciful” [Qur’an, 3:31].

The love of the believers for Allah is reflected in following His commands, favoring His obedience and seeking His pleasure. The love of Allah for the believers is in His praise of them, His reward, His forgiveness, and His mercy upon them. It is also in His granting `ismah (protection from committing sins), and tawfīq (success) to them.

If the servant knows that true perfection belongs to none other than Allah, that any good he sees in himself is from Allah, and that his love is only for Allah’s sake, he becomes motivated to obey Him and begins to love whatever brings him closer to Allah. Therefore, love is explained as the desire to obey, and is reflected in following the Messenger P.B.U.H. and in persistently encouraging others to obey him.

Sahl ibn Sa`d (may the mercy of Allah be upon him) said: the sign of the love of Allah is the love of the Qur’an, and the sign of the love of Allah and the Qur’an is the love of the Prophet P.B.U.H.; and the sign of the Prophet’s love is the love of his sunnah, and the sign of the sunnah’s love is the love of the Hereafter; the sign of the Hereafter’s love is detachment from the worldly life, and the sign of detachment from the worldly life is taking only sustenance needed to attain Paradise in the Hereafter.

Whoever claims four things without accompanying them with four actions is a liar: claiming to love Paradise without being obedient; claiming to love the Prophet P.B.U.H. without loving scholars and the poor; claiming to fear Hellfire without avoiding acts of disobedience; and claiming to love Allah but complaining in times of adversity.

A scholar was asked about the one who loves Allah. He said, “It is one who spends little time with people and much time alone; who is always in thought and outwardly silent; who is in a spiritual state that overtakes his sight, hearing and speech…who does not become sad if inflicted with a calamity, and if inflicted with hunger he is not aware…who looks to Allah in times of solace, who is happy with His company and speaks to Him intimately, and does not contend with the people of this world over their world.

Whoever claims three, but does not purify himself of three is arrogant: claiming to seek the sweetness of remembrance of Allah but loving this world; claiming to love sincerity in one’s actions yet reveling in people’s adorations; and claiming to love one’s Creator without purifying one’s nafs (self).

The Prophet of Allah P.B.U.H. said:

“A time will come when my Ummah will love five (things) and forget five others: they will love this world and forget the Hereafter; they will love money and forget the Reckoning; they will love creation and forget the Creator; they will love sins and forget repentance; they will love palaces and forget the grave.”

Source: http://www.virtualmosque.com/islam-studies/prophet-muhammad/the-love-of-allah-and-his-messenger/

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia