Berpartisipasi Aktif Dalam
Mengurangi Kejahatan Dan Kemiskinan
Agar Hatimu Menjadi Lebih Tenang
Agar Diri Menjadi Pribadi Yang Lebih Produktif


DALIL TENTANG ZAKAT PENGHASILAN

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Al-Baqarah 267).

Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa segala hasil usaha yang baik-baik wajib dikeluarkan zakatnya. Dalam hal ini termasuk juga penghasilan (gaji) dan profesi sebagai dokter, konsultan, seniman,akunting notaris, dan sebagainya. Sayyid Quthub dam tafsirnya Fi Zhilalil Qur'an juga pernah menyatakan bahwa nash ini mencakup seluruh hasil usaha manusia yang baik dan halal dan mencakup pula seluruh yang dikeluarkan Allah SWT dari dalam dan atas bumi, seperti hasil-hasil pertanian, maupun hasil pertambangan seperti minyak.

Karena itu nash ini mencakup semua harta baik yang terdapat di zaman Rasulullah SAW maupun di zman sesudahnya. Semuanya wajib dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan dan kadar sebagaimana diterangkan dalam sunnah Rasulullah SAW, baik yang sudah di ketahui secara langsung, maupun yang diqiyaskan kepadanya.

" Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengan lagi Maha mengetahui."
(At-Taubah:103)

Penjelasan Ayat: Makan Nabi saw mengambil spertiga harta mereka, kemudian menyedekahkannya. Di sini Nabi Muhammad saw diperintah: Ambillah atas nama Allah sedekah, yakni harta yang berupa zakat dan sedekah yang hendaknya mereka serahkan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan hati, dari sebgaian harta mereka, bukan seluruhnya, bukan pula sebagian besar, dan tidak juga yang terbaik; dengannya yakni dengan harta yang engkau ambil itu engkau membersihkan engkau membersihkan harta dan jiwa mereka dan mensucikan jiwa lagi mengembangkan harta mereka.

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk"
(QS. al-Baqarah Ayat 43)

Akan sangat tidak adil jika petani yang berpenghasilan panen sebesar 5 wasaq (520 kg beras) yang jika dinilai rupiah Rp 5,2 juta perkali panen (sekitar 4 bulan) harus mengeluarkan zakat pertanian sebesar 5%, sementara seorang karyawan yang penghasilanya perbulan jauh lebih tinggi dari Rp 5,2 juta tidak mengeluarkan zakat, dengan alasan tidak ada dalil khusus tentang zakat penghasilan.



ZAKAT PENGHASILAN TIDAK ADA PADA ZAMAN RASUL?
Di zaman Nabi Saw jenis usaha dikenal adalah tiga jenis saja : perdagangan, pertanian dan peternakan. Oleh karena itu dalil khusus berkenaan dengan zakat hanya pada tiga jenis usaha tersebut saja pada zaman rasul.

Sementara untuk penghasilan dari gaji sebagaimana yang ada sekarang belum dikenal pada masa tersebut, shingga tentu saja Nabi muhammad SAW tidak menyebutkannya secara khusus. Walaupun subtansinya sudah ada dalam nash-nash di atas.

Fatwa MUI no 3 tahun 2003 tentang zakat penghasilan
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan "penghasilan" adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah,jasa, dan lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.



Hukum Zakat Menurut Fatwa MUI

Semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab. Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.

Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa segala hasil usaha yang baik-baik wajib dikeluarkan zakatnya. Dalam hal ini termasuk juga penghasilan (gaji) dan profesi sebagai dokter, konsultan, seniman,akunting notaris, dan sebagainya. Sayyid Quthub dam tafsirnya Fi Zhilalil Qur'an juga pernah menyatakan bahwa nash ini mencakup seluruh hasil usaha manusia yang baik dan halal dan mencakup pula seluruh yang dikeluarkan Allah SWT dari dalam dan atas bumi, seperti hasil-hasil pertanian, maupun hasil pertambangan seperti minyak.

Karena itu nash ini mencakup semua harta baik yang terdapat di zaman Rasulullah SAW maupun di zman sesudahnya. Semuanya wajib dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan dan kadar sebagaimana diterangkan dalam sunnah Rasulullah SAW, baik yang sudah di ketahui secara langsung, maupun yang diqiyaskan kepadanya.


Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengan lagi Maha mengetahui."
(At-Taubah:103)

Penjelasan Ayat: Makan Nabi saw mengambil spertiga harta mereka, kemudian menyedekahkannya. Di sini Nabi Muhammad saw diperintah: Ambillah atas nama Allah sedekah, yakni harta yang berupa zakat dan sedekah yang hendaknya mereka serahkan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan hati, dari sebgaian harta mereka, bukan seluruhnya, bukan pula sebagian besar, dan tidak juga yang terbaik; dengannya yakni dengan harta yang engkau ambil itu engkau membersihkan engkau membersihkan harta dan jiwa mereka dan mensucikan jiwa lagi mengembangkan harta mereka.





"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk"
(QS. al-Baqarah Ayat 43)

Akan sangat tidak adil jika petani yang berpenghasilan panen sebesar 5 wasaq (520 kg beras) yang jika dinilai rupiah Rp 5,2 juta perkali panen (sekitar 4 bulan) harus mengeluarkan zakat pertanian sebesar 5%, sementara seorang karyawan yang penghasilanya perbulan jauh lebih tinggi dari Rp 5,2 juta tidak mengeluarkan zakat, dengan alasan tidak ada dalil khusus tentang zakat penghasilan.





ZAKAT PENGHASILAN TIDAK ADA PADA ZAMAN RASUL?
Di zaman Nabi Saw jenis usaha dikenal adalah tiga jenis saja : perdagangan, pertanian dan peternakan. Oleh karena itu dalil khusus berkenaan dengan zakat hanya pada tiga jenis usaha tersebut saja pada zaman rasul.



Sementara untuk penghasilan dari gaji sebagaimana yang ada sekarang belum dikenal pada masa tersebut, shingga tentu saja Nabi muhammad SAW tidak menyebutkannya secara khusus. Walaupun subtansinya sudah ada dalam nash-nash di atas.

Fatwa MUI no 3 tahun 2003 tentang zakat penghasilan
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan "penghasilan" adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah,jasa, dan lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.





Hukum Zakat Menurut Fatwa MUI Semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab. Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.



BAGAIMANA CARA MENGHITUNG ZAKAT



Zakat Penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan yang kita peroleh bila telah mencapai nishab.

Menurut Yusuf Qorodhowi, sangat dianjurkan untuk menghitung zakat dari pendapatan kasar (brutto), untuk lebih menjaga kehati-hatian.

Nisab sebesar 5 wasaq / 652,8 kg gabah setara 520 kg beras. Besar zakat penghasilan yaitu 2,5 %. Ada 2 cara dalam menghitung zakat profesi



1. Menghitung dari pendapatan kasar (brutto)
Besar Zakat yang dikeluarkan = Pendapatan total (keseluruhan) x 2,5 %
2. Menghitung dari pendapatan bersih (netto)
a. Pendapatan wajib zakat=Pendapatan total – Pengeluaran perbulan*
b. Besar zakat yang harus dibayarkan=Pendapatan wajib zakat x 2,5 %

Bagaimana jika memiliki hutang apakah masih wajib zakat ?
Menurut Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam buku fiqih Zakat kontemporernya Seandainya ada seseorang yang pada dasarnya punya harta melebihi nisab, namun kebutuhan dasarnya jauh lebih besar, maka harta itu harus untuk menutupi kebutuhan paling dasar terlebih dahulu.



Bila masih ada sisanya, barulah dikeluarkan zakatnya. Selain itu, pemilik harta itu terbebas dari beban harus membayar hutang. Istilahnya as-salamatu minad-dain. Maksudnya, seseorang baru dibebani untuk berzakat manakala harta yang dimilikinya bebas dari hak milik ‘semu’ milik orang lain. Seorang yang berhutang dan sudah jatuh tempo untuk membayarnya, jelas-jelas punya kewajiban nomor satu untuk membayar hutangnya. Sedangkan kewajiban bayar zakat baru muncul manakala hutang yang menjadi kewajiban membayar hutangnya terlebih dahulu.


Terdapat 2 kaidah dalam menghitung zakat profesi

- Menghitung dari pendapatan kasar (brutto) Besar Zakat yang dikeluarkan = Pendapatan total (keseluruhan) x 2,5 % - Menghitung dari pendapatan bersih (netto) 1. Pendapatan wajib zakat=Pendapatan total

– Pengeluaran perbulan* 2. Besar zakat yang harus dibayarkan= Pendapatan wajib zakat x 2,5 %


Keterangan : * Pengeluaran per bulan adalah pengeluaran kebutuhan primer (sandang, pangan, papan ) * Pengeluaran perbulan termasuk : Pengeluaran diri , istri, nak, orang tua dan Cicilan Rumah.

Zakat Emas dan Tabungan bisa di satukan atau tidak?

Apabila seseorang memiliki emas simpanan dan uang tabungan, maka keduanya dihitung menjadi satu dalam pencapaian nishab. sebab, emas dan uang memiliki ‘illat dan kedudukan yang sama dalam syariat. Para ulama menerangkan bahwa keduanya sama-sama berperan sebagai standar harga atau tsamaniah.



Untuk zakat tabungan, emas dan perniagaan dikeluarkan setiap tahun. Jadi, penghitungan zakat ini dilakukan setiap tiba haul (genap satu tahun). Sementara untuk emas perhiasan (yang kepemilikannya untuk dipakai, bukan investasi atau simpanan) para ulama berbeda pendapat.


Sebagian ulama berpendapat bahwa emas yang kepemilikannya untuk dipakai tidak termasuk harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Pendapat pertama ini adalah pendapat ulama syafi’iah dan sebagian ulama madzhab hambali. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa emas perhiasan wajib dikeluarkan zakatnya sebagaimana emas simpanan.

Pendapat kedua ini adalah pendapat ulama hanafiah dan sebagian kalangan hanabilah. sedangkan pendapat yang ketiga, wajib dikeluarkan zakatnya. Namun, zakatnya hanya sekali saja. Pendapat yang ketiga ini adalah pendapat sebagian kalangan ulama mazhab maliki. Menurut hemat kami pendapat yang ketiga ini pendapat yang cukup kuat dan memberikan maslahat bagi muzakki maupun penerima zakat atau mustahik.


Dengan begitu, caranya menghitungnya:

uang cash + tabungan + investasi (bila ada) + emas (baik berupa logam mulia atau perhiasan simpanan) x 2,5% = nilai wajib zakat yang harus dikeluarkan





Zakat Emas/Tabungan ditunaikan setahun sekali atau setiap tahun?



Siapa yang mempunyai harta/tabungan cukup nisab kemudian harta itu berkembang, baik karena keuntungan/ bagi hasil maka maka wajib zakat.



Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya “Fiqh az-Zakat” menjelaskan zakat wajib dikeluarkan termasuk zakat tabungan jika sudah cukup nishabnya (85 gram emas) dan mencapai setahun (haul). Semua harta (termasuk seluruh tabungan baik I dan II yang dimiliki) jika sudah berlalu satu tahun maka wajib zakat jika sudah cukup nishab 85 gram emas. Meskipun tahun lalu sudah berzakat tidak hanya bagi hasil saja. Sebab harta dizakati setiap tahunnya.

Apabila kita sudah menunaikan Zakat penghasilan apakah harus menunaikan zakat Tabungan?

Umumnya ulama kontemporer seperti Dr. Yusuf Al-Qardhawi dan Prof Dr. Wahbah Az-Zuhaili

Sebagaimana Sabda Rasulullah yang Artinya: “Tidak wajib membayar zakat sampai sudah berlalu satu tahun” (HR. Abu Dawud) "Bila engkau memiliki 20 dinar emas dan sudah mencapai satu tahun maka zakatnya setengah dinar (2,5%)". (HR Ahmad).



menjelaskan meskipun muzakki sudah berzakat profesi maka jika harta simpanan baik berbentuk tabungan/deposito/emas sudah cukup haul (satu tahun) dan cukup nishab (85 gram emas ) maka wajib zakat. Sebab dalam Islam setiap harta wajib dizakati setiap tahunnya.

Dahulu, Rasulullah telah mewajibkan zakat emas dan perak, padahal Rasulullah pun tahu bahwa emas dan perak yang mereka miliki adalah dari hasil usaha mereka seperti perdagangan. Jika kita berfikiran bahwa kita tidak wajib mengeluarkan zakat emas/simpanan/tabungan dengan alasan bahwa kita sudah mengeluarkan zakat penghasilan kita, tentu Rasulullah pun tidak akan mewajibkan zakat emas dan perak, karena tentu zakat emas dan perak sendiri berasal dari hasil usaha mereka yang hasil usaha merekapun Rasulullah memerintahkan untuk dikeluarkan zakatnya. Contoh lain yang semisal dengannya adalah seseorang yang mempunyai tabungan yang sudah dikeluarkan zakatnya, apabila dari tabungan tersebut tahun berikutnya cukup nishab maka wajib atasnya berzakat 2,5%.



Cara Menghitung Zakat dari Penjualan Barang/Tanah/Rumah





Untuk harta mustafad dari penjualan sesuatu, bila harta tersebut mencapai nishab (senilai 85 gram emas) berarti wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 persen. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang waktu wajib mengeluarkan zakatnya.


Pendapat pertama mengatakan bahwa harta mustafad dikeluarkan zakatnya setelah menerima uang tersebut. Zakat ini dikeluarkan setelah dikurangi hutang jatuh tempo atau kebutuhan darurat lainnya. Zakat juga bisa dikeluarkan tanpa mengurangi sama sekali terlebih dahulu. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, ketua persatuan ulama international, menguatkan pendapat ini. Hal ini merujuk pada pendapat Abdullah bin Mas’ud, Mu’awiyah, Umar bin Abdul Aziz dan Imam Zuhri.

Sementara pendapat yang kedua mengatakan bahwa harta mustafad dikeluarkan zakatnya setelah genap tersimpan satu tahun. Apabila ada pengurangan dalam satu tahun, pengurangan itu tidak masuk dalam hitungan zakat. Banyak ulama yang mengikuti pendapat ini. Hanya saja, mereka sepakat apabila seseorang telah memiliki harta yang mencapai nishab lalu mengeluarkan zakatnya sebelum tiba haul, hal itu diperbolehkan. Bahkan, sebagian ulama berpandangan itu lebih afdhal karena menyegerakan penyampaian hak-hak orang tidak mampu.

Cara Menghitung Zakat dari sewa Kendaraan/Rumah/Tanah




Para ulama telah sepakat bahwa rumah yang disewakan tidak termasuk harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini berdasarkan pada hadits, “Tidaklah seorang muslim itu berkewajiban mengeluarkan zakat atas hamba sahanya dan kudanya”. Jadi, rumahnya (bukan hasil dari sewa rumah itu) tidak termasuk harta wajib zakat.


Di saat yang sama, para ulama juga sepakat bahwa hasil dari penyewaan rumah tersebut itulah yang harus dikeluarkan zakatnya bila telah memenuhi syarat. Hanya saja, mereka berbeda pendapat tentang syarat wajib zakat atas harta hasil penyewaan rumah. Mereka menyebut zakat atas hasil penyewaan rumah, mobil dan sejenisnya dengan istilah zakat mustaghillat.

Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat mustaghillat (hasil penyewaan dan sejenisnya) mengikuti zakat pertanian. Dengan begitu, nishab dan nilai zakat yang dikeluarkan mengikuti zakat pertanian.

Apabila hasil penyewaannya mencapai nilai 520kg beras berarti telah mencapai nishab. sedangkan nilai zakatnya adalah 5% bila diambil dari hasil kotor atau 10% dari hasil bersih (setelah dipotong kebutuhan operasional).

Bisa Kah Bukti Setoran Pajak dijadikan pengurang Pajak?

Hal tersebut tercantum dalam Pasal 1 ayat (1) PP No. 60 Tahun 2010 tentang Zakat atau Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib yang Boleh Dikurangkan dari Penghasilan Bruto.

selain itu membayar zakat bisa menjadi pengurang penghasilan kena pajak. Hal ini juga telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, dan dipertegas dalam UU UU Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.



CARA MENUNAIKAN ZAKAT PENGHASILAN
Untuk menunaikan Zakat Penghasilan caranya mudah sekali.


2. Pilih Program Zakat: Zakat Penghasilan

3. isi jumlah dan nominal

4. Isi data diri (donatur / muzaki) dan terakhir

5. Transfer sesuai dengan jumlah donasi hingga 3 digit terakhir

6. Alhamdulillah selesai

*Donasi otomatis langsung diterima oleh kami tanpa perlu konfirmasi. Sahabat akan dapat langsung SMS notifikasi, pastikan transfer sesuai dengan kode unik

Bisa kah Bukti Setoran Pajak dijadikan pengurang pajak ?

Hal tersebut tercantum dalam Pasal 1 ayat (1) PP No. 60 Tahun 2010 tentang Zakat atau Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib yang Boleh Dikurangkan dari Penghasilan Bruto.



selain itu membayar zakat bisa menjadi pengurang penghasilan kena pajak. Hal ini juga telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, dan dipertegas dalam UU UU Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.



Konfirmasi Donasi