KORELASI ZAKAT DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Oleh Dr. Amran Jaenudin

Dosen Pascasarjana Unswagati, Cirebon, Ketua Umum Islamic Centre, Kota Cirebon dan Ketua II Lajnah Tanfidziyah Majlis Mujahidin

Krisis moneter atau yang sering dikenal dengan sebutan Krismon pada tahun 1997 yang lalu, menyebabkan banyak perusahaan bangkrut, sehingga terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada karyawan secara besar-besaran. Kasus ini menuntut masyarakat dan para tokohnya untuk melakukan reformasi dalam pemerintahan. Sedangkan di kalangan kaum agamawan, mencoba membangkitkan semangat solidaritas sosial dengan melakukan sosialisasi himbauan untuk “membangun keshalehan sosial”. Reformasi berjalan terus mencari jati dirinya yang dimotori oleh para politisi sebagai pembawa dan pengayuh biduk kebijakan politik. Krismon melahirkan sejumlah kemiskinan yang hingga saat ini angkanya terus “dinegosiasikan”.

Adapun korupsi yang dianggap biang keladinya, telah menjadi alat strategis dalam menimbun kekayaan bagi para pelakunya sehingga kemewahan (hedonisme) menjadi suatu tren khusus yang terjadi dalam satu waktu. Dampak lainnya berupa wabah tindak kriminal dan asusila, sikap konsumerisme masyarakat dan merebaknya pengemis, seolah sedang menunjukkan citranya masing-masing. Yang satu menjadi pilihan sedangkan yang lainnya dinyatakan sebagai tindak darurat atau keterpaksaan.

Birokrat dan politisi berpidato, mari kita perangi kemiskinan!, karena kemiskinan adalah biang keladi segala tindak kerawanan sosial. Kemiskinan sebagai sumber rendahnya daya beli, rendahnya pendidikan dan rendahnya kesehatan dalam masyarakat. Sedangkan di pihak lain kemewahan dipacu terus untuk mewujudkan daerah-daerah menjadi kota-kota metropolitan. Kemudian pertanyaannya, akankah bangsa ini menuju visinya sebagai masyarakat bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa? Bisakah bangsa ini menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Dalam hal ini tampaknya sangat sulit ditempuh, karena masyarakat dan pemerintah menghadapi suatu dilema kepentingan. Mayoritas masyarakat Indonesia menyatakan beriman kepada Allah SWT dan Kitab-Nya, akan tetapi pemerintah masih enggan menjadikan Kitabullah sebagai sumber hukum positif. Oleh sebab itu bagi orang muslim yang tidak mau membayar zakat, tidak setuju untuk dikenakan sanksi hukum secara formal. Persepsi hukum tentang zakat masih dibiaskan, padahal zakat bukanlah kewajiban suka-suka bagi seorang muslim yang mampu. Zakat adalah kewajiban bagi yang mampu, dan harta pada orang mampu itu adalah hak yang harus diterima oleh mustahiknya (orang miskin). Maka zakat harus dijalankan melalui kekuatan hukum, karena berlaku untuk kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Orang yang mengaku muslim tetapi tidak membayar zakat, maka ia harus dipersepsikan atau wajib dituduh sebagai manusia yang zalim, karena melakukan perlawanan terhadap hukum Allah dan menjadi pelaku tindak kriminal dalam kemanusiaan. Jika orang yang mangkir untuk membayar pajak ada ungkapan “ apa kata dunia?”, kepada mereka yang mangkir bayar zakat maka harus dikatakan, “apa kata akhirat?”.

Sesungguhnya bumi Allah Maha kaya. Allah memberikan rezeki pada semua makhluknya, asalkan manusia tidak bersifat zalim. Sebagaimana janji Allah bahwa bencana yang terjadi tidak hanya menimpa pada pembuat kerusakan saja, akan tetapi semua manusia akan terkena imbasnya. Firman Allah dalam Surat Al-Anfal. 25. “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu”.

Kaya dan miskin di antara manusia adalah fitrah, yaitu sesuatu yang Allah kehendaki, karena Allah menciptakan kemampuan manusia berbeda satu sama lain. Kaya dan miskin termasuk salah satu alat uji keberadaan orang-orang yang beriman. Perhatikan firman Allah dalam Surat Al-A’raf. 96. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”.

Berkaitan dengan hal-hal di atas dapat disimpulkan bahwa merebaknya kemiskinan di bumi Indonesia setidaknya dikarenakan tiga hal :

  • Pertama, masyarakat Indonesia memiliki perbedaan kepentingan dan keyakinan /idiologi mengenai jalan kehidupan, disatu sisi ia merasa beriman kepada Allah SWT, akan tetapi di pihak lain mereka tidak bisa atau terlarang untuk menjadikan Qur’an sebagai sumber hukum bagi kehidupannya.
  • Kedua, zakat dianggap sebagai kewajiban sukarela bagi umat Islam sehingga harta orang miskin yang melekat pada harta orang kaya tidak bisa diambil melalui kekuatan hukum positif.
  • Kezaliman manusia kepada Allah, berdampak rusaknya pola kehidupan masyarakat keseluruhan.

Syari’at Islam memiliki interaksi dan interelasi satu dengan lainnya, artinya tidaklah sempurna tata kehidupan kaum muslimin apabila hanya menjalankan syari’at Islam sebagaian-sebagaian saja. Islam harus dijalankan secara “kaafah” oleh umatnya. Kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah, baldah toyibah, wa Robbun Ghofuur dalam masyarakat, tidak hanya dibangun oleh pembayaran zakat. Akan tetapi keengganan membayar zakat dikalangan umat Islam, akan menyebabkan terjadinya malapetaka baik terhadap fisik lingkungan maupun bagi kehidupan sosial kemasyarakatan.#

 

Tags :
Konfirmasi Donasi