LAST MINUTES TRADITION

oleh : Bayu Gawtama

“Ayo ke masjid!”

“Nanti, belum adzan” begitu yang kadang terdengar saat seseorang menjawab ajakan rekannya untuk sholat berjamaah di masjid. Begitu kumandang adzan sudah terdengar, lain lagi jawabannya, “nanti, belum qomat”. Lebih sering kejadian ini terjadi pada saat hari Jumat, menjelang ibadah sholat Jumat. Meski sebenarnya, di hari selain Jumat pun kejadian seperti ini selalu ada, dan terjadi berulang-ulang. Pada akhirnya, yang bersangkutan terlambat berjamaah. Ini masih lebih baik, karena ada juga yang benar-benar tidak sholat sama sekali.

Last minutes tradition – tradisi menit terakhir, seolah menjadi potret kultur orang Indonesia dalam beragam aktifitas sehari-hari. Dalam pekerjaan misalnya, menumpuk pekerjaan menjadi kebiasaan yang mudah ditemui di banyak kantor, mulai dari kantor pemerintahan, swasta juga instansi non pemerintah lainnya. Kita akan mudah menemukan antrean para pegawai kantor di depan pintu masuk untuk absen hanya beberapa menit sebelum jam masuk kantor, semakin mendekati waktu jam masuk, semakin panjang antreannya.

Anak-anak sekolah dan mahasiswa pun hingga kini masih menerapkan tradisi menit terakhir. Belajar tidak setiap hari, dan baru dikebut pada malam menjelang ujian esok hari. Tentu saja hasilnya akan lebih baik jika dipersiapkan lebih dini, tidak tergesa-gesa dan tidak terasa berat. Mereka yang belajar terus menerus, apakah ada ujian atau tidak, lebih siap menghadapi ujian ketika hari ujian tiba. Mereka yang terbiasa belajar hanya pada saat menjelang ujian, bukan hanya akan tidak tenang menghadapinya, belum tentu mereka juga siap karena boleh jadi buku-buku pelajarannya pun tidak pernah disiapkan. Akhirnya, hanya ada dua hal yang mungkin mereka peroleh, hasil tidak maksimal, atau gagal total!

Dalam hal ibadah, tradisi ini ternyata tidak hanya berlaku untuk ibadah sholat saja. Dalam ibadah lainnya pun demikian sering terjadi. Misalnya saja, sudah lama kita dibuat lupa oleh berbagai aktifitas selama berbulan-bulan sebelum Ramadhan tiba, nah pada saatnya bulan Ramadhan tiba, selalu saja ada yang berkata, “nggak terasa, tiba-tiba sudah bulan Ramadhan saja ya, saya belum ada persiapan nih”.

Begitu juga untuk ibadah haji. Setiap kali ibadah haji tiba, kita selalu hanya bisa menjadi jamaah khusus walimatusshafar (acara yang biasa diadakan oleh orang yang akan berangkat ke tanah suci) atau jamaah khusus pengantar. Kalau ditanya, “kapan berangkat ke tanah suci?” jawabannya memang beragam, tetapi intinya karena satu hal, kita tidak pernah menyiapkan segala hal untuk bisa berangkat haji. Setidaknya, kita tidak pernah menabung untuk bisa ke tanah suci tahun depan. Begitu musim haji tiba, kesadaran baru muncul, tetapi setelah musim haji berlalu, menabung pun tidak pernah kita mulai. Begitu seterusnya sampai datang kembali musim haji berikutnya.

Meskipun belum mampu pergi ke tanah suci, kesempatan bagus di waktu yang sama masih ada, yakni ibadah qurban. Sayangnya, yang besar seperti pergi haji tidak disiapkan, ibadah qurban yang lebih mudah pun juga belum siap. Saat sudah waktunya, tiba-tiba kebutuhan hidup pun sedang banyak-banyaknya, sehingga keputusan untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli hewan qurban pun terasa berat untuk diambil.

Padahal, jauh sebelum hari raya qurban boleh jadi kita sering mendapat rezeki yang sebenarnya bisa ditabung untuk membeli hewan qurban. “Ah qurban masih lama, dipakai buat yang lain dulu saja,” ujar kita saat punya rezeki jauh sebelum musim qurban. Baru tersadar lagi untuk berqurban ketika melihat selebaran informasi tentang qurban, itu artinya waktunya sudah dekat. Meskipun akhirnya bisa berqurban, namun alangkah baiknya jika dipersiapkan lebih jauh sebelum hari raya Idul Adha.

Tags :
Konfirmasi Donasi