LEBIH BAIK JADI MANTAN PREMAN DARIPADA MANTAN USTADZ

Ivan Kurniawan Arifin (39) atau yang lebih akrab di panggil Bang Ivan, merupakan pencabik Bass dari Band Slank. Pria kelahiran Jakarta ini mulai bergabung di Slank sejak tahun 1996 menggantikan Bongki. Bersama Slank, Ivan telah menghasilkan 12 album, dimulai dari Lagi Sedih sampai Anthem for The Broken Hearted. Selain akan merilis album yang ke-18, bersama Slank, ia juga sedang menyiapkan album religi.

Di balik gaya yang apa adanya, tersimpan jiwa sosial yang tinggi di dalam diri bapak dua anak ini. Pada Idul Adha 1430 H lalu, Ivan tercatat sebagai donatur Superqurban dan dia juga kerap menitipkan zakat ke Rumah Zakat. Bersama Slank, beberapa kali Ivan mengadakan konser amal dan hasilnya disumbangkan untuk kegiatan sosial.

Dalam sebuah kesempatan, Rumah Lentera berhasil menemui Ivan di rumahnya, Jl. Lobi – lobi Perumahan Kalibata Indah Jakarta. Suami dari Putri Dewi Ariyanti ini memiliki jam terbang yang cukup tinggi, sehingga dia sangat menikmati waktu bersama keluarga.

Saat menemui Rumah Lentera, Ivan tengah bersantai dengan mengenakan kaos pendek hijau dan celana pendek coklat. Ivan berbincang hangat seputar perjalan hidupnya. Sesekali obrolan terhenti karena kedatangan Jilli Sabriya (5), anak pertamannya yang merengek minta diajak jalan-jalan. Berikut hasil wawancara Rumah Lentera dengan Ivan.

Bagaimana ceritanya Bang Ivan bergabung di Slank?
Gue masuk Slank tahun 1996. Sebelum di Slank, Gue bergabung dengan komunitas musisi di Potlot  yang merupakan tempat berkumpulnya berbagai musisi seperti Anang, Krisdayanti, Opi Andaresta dan Imanez. Pada awalnya Gue udah main sama  Imanez sebagai pembukanya Slank.

Awal berdirinya Slank itu tahun 1983. Karena perbedaan visi akhirnya Slank pecah. Bongki dan Pay mengundurkan diri. Akhirnya Gue diajak gabung.

Bang Ivan apa akan terus berkarier di jalur musik?
Sebenarnya Gue nggak bermimpi berkarier di jalur musik. Waktu itu Gue kuliah di Trisakti STMT (Sekolah Tinggi Management Transportasi). Tapi karena kondisi perekonomian keuangan keluarga Gue waktu itu kurang mendukung, Gue berpikir untuk mencari uang sendiri. Karena Gue senang main musik, akhirnya Gue gabung di komunitas Potlot yang ternyata pada akhirnya menghasilkan uang. Lumayanlah meski cuma dapat Rp 40.000 dari hasil manggung di Pentas Seni dan lain-lain. Trus pas Imanez gabung di Potlot, Gue direkrut. Dan sejak itu Gue bermain secara profesional. Mulai deh ikut tur ke luar kota.

Saking asyiknya bermusik, kuliah Gue keteteran. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Gue memutuskan untuk berhenti kuliah dan serius bermusik pada tahun 1996. Alhamdulillah orang tua merestui apa yang Gue lakuin sampe sekarang ini. Dan yang penting rezeki lancar.

Mimpi besarnya apa sih bang?
Sebenarnya dulu Gue pengen jadi dokter. Cuma pas waktu SMA, justru pelajaran Biologi sama Kimia Gue merah. Makanya Gue nggak bisa masuk FK UI. Namun di tengah-tengah itu, ketertarikan Gue di jalur musik semakin tinggi. Akhirnya sampai saat ini musik tetap jadi prioritas yang akan terus Gue jalani.

Dulu memang waktu Gue masih SMA, menjadi musisi itu bukan sebuah cita-cita yang didambakan banyak orang. Jadi kalau orang tua bertanya cita-cita kamu apa, lalu kita jawab ingin jadi musisi, pasti orang tua akan ngomong mau makan apa? Jadi musisi itu nggak ada masa depannya. Tapi kondisi sekarang berubah. Musisi sudah menjadi profesi yang menjanjikan secara finansial.

Selain sibuk bersama Slank, kegiatan lain Bang Ivan apa nih?
Gue sudah mencoba untuk mempromosikan tiga artis yang bermain di jalur musik indie. Berat  tidaknya jalur Indie tergantung dari talenta artisnya. Gue sempat kepentoknya pada pribadi artis yang berbeda-beda. Atitude merupakan hal yang menentukan apakah artis itu bisa maju apa nggak. Sementara Gue tidak bisa memaksakan artis untuk berperilaku seperti yang Gue mau. Diarahkan itu pasti, namun ada aja yang nggak sabar. Beberapa di antara mereka ada yang berkeinginan untuk mendapatkan ketenaran secara instant.

Kebanyakan orang melihat Gue yang sekarang sebagai musisi yang sukses bersama Slank. Mereka tidak melihat bagaimana kami mencapainya setelah melalui proses yang berat. Untuk bisa masuk ke industri rekaman, Slank sering ditolak, dicerca, dimaki dengan cacian ”Itu musik apaan tuh. Ini mah bukan rock and roll, tapi musik anak-anak slenge-an”. Akhirnya jadilah nama band Slank.

Jadi butuh proses panjang untuk orang mendapatkan sesuatu. Intinya sabar, dan dalam menjalani kesabaran itu dengan perjuangan terus-menerus.

Main bass udah pasti jago, trus bisa main alat musik apa lagi Bang?
Gue mainin gitar dan perkusi.  Semua dipelajari secara otodidak. Gue belajar dari orang-orang. Dan bergaul adalah proses pembelajaran Gue. Learning by doing. Jadi jangan menyerah.

Maaf nih bang, sebagian orang menilai kalau musisi itu identik dengan dugem, narkoba dan lainnya. Gimana tanggapan Bang Ivan?
Tidak dipungkiri Slank memang pernah mengalami hal-hal kayak gitu. Yah namanya proses. Dulu informasi mengenai bahaya narkoba masih sangat minim sehingga hal itu membuat kami cuek saja menggunakan obat-obatan itu. Tapi kini kampanye bahaya narkoba sudah sangat banyak. Peraturannya pun sudah sangat jelas terutama mengenai sanksi bagi pemakai narkoba.

Tapi yang perlu dicatat tidak semua musisi dan seniman pernah menggunakan narkoba. Yah, semua orang punya perjalanan hidup masing-masing. Akan sangat bagus jika grafik perjalanan hidup itu selalu meningkat. Kalau tadinya hancur menjadi bagus. Jangan sampai dari baik terus menjadi hancur. Kan mending jadi mantan preman daripada mantan ustadz.

Apakah Slank punya program untuk mengkampanyekan anti narkoba melalui musik?
Nggak ada. Cuma dulu pada saat anggota Slank masih mengonsumsi narkoba, kami berpikir bahwa band ini harus diselamatkan. Akhirnya sekitar tahun 2000-an, Slank mengatakan kepada semua orang bahwa kami berhenti menggunakan narkoba. Kita panggil wartawan lalu nyatakan untuk berhenti. Dan dampaknya lingkungan di sekitar Potlot dibersihin. Akhirnya, kalau dulu Slankers dengan bangga datang ke Potlot sambil mabuk, sekarang Slankers yang datang sambil mabuk jadi malu sendiri datang ke sana.

Kita juga bikin lagu yang bait-baitnya ngomongin kayak gitu seperti ”kemana aja loh gini hari masih gitu”. Kalau dulu masih okelah. Tapi sekarang kan informasinya sudah meluas. Masa sih udah liat teman-teman dan sodara-sodara lo mati gara-gara narkoba, eh masih nggak takut juga pakai narkoba.

Artis kan biasanya sibuk. Apa kiat Bang Ivan untuk tetap dekan dengan keluarga?
Kita harus pintar bagi waktu. Kalau Gue sih yang penting jaga kualitas waktu pertemuan dengan keluarga. Misalnya hari libur, Gue manfaatkan untuk jalan-jalan. Dan pada saat keluar kota, sebisa mungkin membawa oleh-oleh untuk keluarga. Ya pokoknya gimana caranya supaya keluarga bisa senang.

Ada nggak pengalaman paling tidak mengenakkan saat konser?
Sejauh ini nggak ada sih. Karena kita main musik untuk menghibur agar mereka senang. Otomatis kita harus senang juga. Cuma kalau ada penonton yang pada berantem, ya kita sedih juga. Kita kan bawa lagu yang isinya menyebarkan pesan-pesan perdamaian, eh di depan kita kok malah pada berantem.

Penyebab penonton berantem itu banyak. Misalnya ada copet yang ketangkep kemudian dipukuli. Nah parahnya, justru dari media yang dicari malah yang jeleknya doang. Tapi kalau ada show yang bagus malah tidak pernah ada beritanya. Bad news is good news, kata mereka.

Slank juga sering tampil dalam event gerakan anti korupsi (bersama KPK), pesan apa yang ingin disampaikan?
Kita sebenarnya mendukung gerakan-gerakan yang sifatnya perbaikan moral bangsa misalnya pemberantasan korupsi, pelestarian lingkungan hidup dan hingga rehabilitasi untuk korban narkoba. Kita dukung dan peduli terhadap gerakan seperti itu. Misalnya korupsi yang sudah menjadi masalah besar bagi bangsa kita sehingga menjadikan negara ini terpuruk. Walaupun akhirnya banyak ”serangan-serangan” ke kita, tapi tidak menyurutkan semangat Slank.

Tidak hanya itu, gerakan yang diinisiasi Rumah Zakat juga Gue dukung deh. Gue suka Rumah Zakat karena dengan zakat bisa menyelesaikan masalah kemiskinan di dunia. Gue yakin kalau masyarakat pada zakat, nggak ada orang miskin di dunia. Dan untuk itu masyarakat harus diberi pengetahuan dan ditanamkan kepercayaan. Rumah Zakat sendiri kan sudah diakui sama pemerintah sebagi lembaga yang kredibel.

Katanya Bang Ivan suka ngadain kegiatan sosial? Boleh diceritakan?

Kita senang sih kalau memberikan manfaat untuk orang lain. Itu kepuasan tersendiri yang tidak bisa diukur sama uang. Kalau misalnya dengan konser itu kita bisa menghasilkan uang banyak untuk kemaslahatan orang banyak kan bagus.

Seperti pada tanggal 18 April 2010 lalu kita ikut konser save water di Bali. Itu merupakan program dunia tentang gerakan penyelamatan air untuk daerah yang kekeringan. Masih banyak daerah dimana warganya harus berjalan jauh untuk mengambil air. Dari konser ini amalnya nanti akan dibuatkan fasilitas air bersih di daerah-daerah rawan air.

Dan apa yang dilakukan Rumah Zakat dengan program sarana air bersih itu juga penting, karena setiap saat kita butuh air.

Tidak lama lagi Rumah Zakat akan mengadakan Kemah Juara. Kalau misalnya Slank diundang untuk menyumbang lagu buat anak-anak asuh gimana?
Ya asal konsepnya jelas, kita nggak akan berpikir dua kali untuk menyetujuinya. Dan kita tidak hanya sekali dua kali mengadakan konser amal kayak gitu. Bikin saja proposalnya yang jelas dan kasih ke Potlot. Pokoknya Gue dukung deh kegiatan positif kayak gitu.

Tags :
Konfirmasi Donasi