LIMA PULUH TAHUN MENDATANG ANAK KITA

oleh: M. Faudzil Adhim

Lima puluh tahun yang akan datang, mungkin kita sudah mati dan jasad kita dikubur entah di mana atau tua renta, sehingga harus berpegangan tongkat untuk berjalan. Lima puluh tahun mendatang mungkin kita sedang menjemput syahid di jalan Allah di hari yang sama dengan hari ketika kita bertemu sekarang, dan jam yang sama dengan jam saat kita berbincang di tempat ini. Bisa jadi pula kita sedang menunggu kematian datang dengan kebaikan yang besar dan bukan keburukan. Allahumma amiin. Lima puluh tahun yang akan datang, anak-anak kita mungkin sudah tersebar di seluruh dunia. Saat itu, mungkin ada yang sedang menggugah inspirasi umat Islam seluruh dunia, berbicara dari Mesir hingga Amerika, dari Makkah Al-Mukarramah hingga Barcelona. Ia menggerakkan hati dan melakukan proyek-proyek kebaikan, sehingga kota-kota pada zaman keemasan Islam yang terang benderang oleh cahaya-Nya, dari Gibraltar hingga Madrid, dari Istambul hingga Shenzen, kembali dipenuhi gemuruh takbir saat penghujung malam datang. Sementara siangnya mereka seperti singa kelaparan yang bekerja keras menggenggam dunia. Mereka membasahi tubuhnya dengan keringat karena kerasnya mereka bekerja meski segala fasilitas telah mereka dapat, sementara pada malam hari mereka membasahi wajah dan hatinya dengan air mata karena besarnya rasa takut kepada Allah Ta’ala. Rasa takut yang bersumber dari cinta dan taat kepada-Nya.

Ya, mereka bekerja keras meski harta sudah di tangan. Mereka gigih merebut dunia bukan karena gila harta dan takut mati, melainkan karena mereka ingin menjadikan setiap detik dalam hidupnya untuk menolong agama Allah Azza wa Jalla dengan mengambil fardhu kifayah yang belum banyak tertangani. Mereka gigih bekerja karena mengharap setiap tetes keringatnya dapat menjadi pembuka jalan ke surga. Kelak (ijinkan saya bermimpi) anak-anak kita bertebaran di muka bumi. Mereka berjalan di muka bumi meninggikan kalimat Allah, menyeru kepada kebenaran dengan cara yang baik, saling mengingatkan untuk menjauh dari kemungkaran dan mengimani Allah Ta’ala dengan benar. Tangan mereka mengendalikan kehidupan, tetapi hati mereka merindukan kematian. Bukan karena jenuh dan berputus asa terhadap dunia, melainkan karena kuatnya keinginan untuk pulang ke kampung akhirat dan mengharap pertemuan dengan Allah dan Rasul-Nya. Mereka inilah anak-anak yang hidup jiwanya, bukan cuma cerdas otaknya. Mereka inilah anak-anak yang kuat iman, ibadah, ilmu, himmah, ikhtiar dan sujudnya. dan semua itu tak akan pernah terwujud jika kita tidak mempersiapkannya hari ini!

Lima puluh tahun yang akan datang anak-anak kita mungkin sedang mengendalikan dunia di tangan mereka, dan memenuhi hatinya dengan dzikir kepada Allah. Mereka mungkin sedang mengendalikan jaringan bisnis besar yang meliputi supermarket-hypermarket di seluruh dunia hingga perusahaan-perusahaan manufaktur berteknologi tinggi. Sebagian lainnya mungkin sedang memimpin ma’had putri yang setiap alumnusnya menjadi kekuatan penentu sejarah dunia. Sebab, bukankah al-umm masdrasah al-ula? Bukankah seorang ibu adalah madrasah pertama yang membentuk karakter dan cara berpikir satu generasi di belakangnya? Maka mempersiapkan visi dan kecakapan seorang ibu sama pentingnya dengan mempersiapkan peradaban umat ini lima tahun yang akan datang. Sedangkan membiarkan anak-anak perempuan itu menyibukkan diri dengan hasrat untuk memperoleh perhatian lawan jenisnya, sama seperti mengizinkan masa depan agama dan umat ini hancur. Maka anak-anak itu harus kita bekali agar kelak mampu menjadi perempuan untuk agama ini, perempuan yang setiap tutur katanya akan meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Sementara rahimnya, tidaklah akan tumbuh benih di dalamnya kecuali generasi yang sejak awal pertemuan sudah bertabur kalimat suci. Bukankah kepribadian itu terbentuk sejak benih bapak ibunya bertemu? Maka, bagaimana kedua orangtua mereka mempertemukan benih, sangat mempengaruhi bagaimana benih itu kelak akan tumbuh dan berkembang.

Kita juga harus mempersiapkan setiap anak laki-laki kita agar mereka mampu menjadi lelaki pemberani bagi agama ini. Mereka menghiasi hidupnya dengan tangis pada malam hari, dan usaha yang gigih pada siang hari. Mereka mampu menegakkan kepala dengan izzah yang tinggi di hadapan manusia disebabkan kehormatan, kemuliaan, keimanan dan kekuatannya. Tetapi, terhadap istrinya, mereka bersikap lemah lembut dan penuh cinta. Sebab, bukankah untuk melahirkan anak-anak yang hebat dan salih, pintu pertamanya adalah mencintai ibu mereka dengan sepenuh hati? Ketulusan cinta inilah yang mampu menggerakkan hati para bunda untuk tak henti-hentinya memberikan perhatian. Ia tetap mampu tersenyum pada saat anak bangun tengah malam, tepat ketika ia baru saja terlelap, tatkala ia merasa ada suami yang mencintainya sepenuh hati dan jiwa. Seorang suami yang bukan hanya memberikan hartanya. Lebih dari itu, ia memberikan perhatian dan kesediaannya berbagi. Bukankah yang membuat Aisyah menangis kagum kepada suaminya, Rasulullah SAW adalah perhatiannya yang lembut? Sebagaimana dinukil Ibnu Katsir, Aisyah ra menangis seraya berucap, “Kanaa Kullu Amrihi ‘ajaba. Ah semuanya menakjubkan bagiku,” tatkala ditanya tentang apa yang paling berkesan baginya dari Rasulullah SAW. Dia kemudian bertutur tentang bagaimana Rasulullah SAW meminta ijin untuk melakukan qiyamul lail. Hanya itu, tetapi perkara yang kecil itu takakan hadir jika tidak ada perhatian yang besar.

Lima puluh tahun yang akan datang, di negeri ini kita mungkin menemui pusara bapak-bapak yang hari ini sedang mewarnai anak-anak kita. Mereka terbujur tanpa nisan dan prasati, sementara hidangan di surga telah menanti. Atau sebaliknya, beribu monumen telah berdiri untuk mengenangnya, sementara takada lagi kebaikan yang bisa diharapkan. Mereka menjadi berhala yang dikenang dengan perayaan, tetapi tidak ada doa yang membasahi lisan anak-anaknya. Nau’dzubillahi min dzalik. Betapa banyak pelajaran yang bertabur di sekeliling kita, dari orang-orang yang masih hidup atau mereka yang sudah tiada. Tetapi betapa sedikit yang kita renungkan. Kisah tentang K.H. Ahmad Dahlan yang mengulang-ulang pembahasan tentang al-ma’un hingga menimbulkan pertanyaan dari murid-muridnya, masih kerap kita dengar. Jejak-jejak kebaikan berupa rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah-sekolah juga masih bertebaran. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealisme yang membuat KH Ahmad Dahlan bergerak menata akidah umat ini, rasanya semakin lama semakin sulit kita lacak.

Tulisan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, sahabat dekat KH Ahmad Dahlan, yang mendirikan Nahdatul Ulama, masih bisa kita lacak, meski semakin langka. Tetapi, jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya semakin sulit kita temukan. Apa yang dulu diyakini haram oleh Hadratus Syaikh, hari ini justru dianggap wajib oleh mereka yang merasa sebagai pengikutnya. Apa artinya? Iman tidak kita wariskan, kecuali hari ini kita didik mereka dengan sungguh-sungguh untuk mencintai Tuhannya. Keyakinan, cara pandang, dan idealisme juga tidak bisa kita wariskan ke dalam dada mereka kalau hari ini kita hanya sibuk memikirkan dunianya, bukan akhiratnya. Kita mempersiapkan mereka menuju akhirat, tetapi kita hanya bekali mereka dengan kekuatan, keterampilan, dan ilmu untuk memenangi hidup di dunia dan menggenggamnya dengan tangan mereka. Betapa banyak anak yang dulu rajin puasa senin-kamis, tetapi ketika harus bertarung melawan kesulitan hidup, imannya yang berubah menjadi senin-kamis. Kadang ada kadang nyaris tak tersisa. Na’udzubillahi min dzalik.

Teringatlah saya dengan perkataan nabi Ya’kub AS saat menghadapi sakaratul maut. Allah Ta’ala mengabadikannya dalam firman, “adakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya,” (QS. 2: 133). Ya, inilah pertanyaan Nabi Ya’kub AS, ma’tabuduuna min ba’di?, apakah yang akan kalian sembah sepeninggalku? bukan, ma’ta’kuluuna min ba’di? apakah yang akan kalian makan sesudah aku tiada? Lalu, seberapa gelisah kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan agar kelak mereka tidak kebingungan cari makan sesudah kita tiada? Ataukah kita bekali jiwanya dengan tujuan hidup, visi besar, semangat yang menyala-nyala, budaya belajar yang tinggi dan kesediaan untuk berbagi karena Allah. Kita hidupkan jiwanya dengan memberi bacaan yang bergizi, nasihat yang menyejukkan hati, dorongan yang melecutkan semangat, tantangan yang menggugah, dan dukungan pada saat gagal, sehingga ia merasa kita perhatikan. Kita nyalakan tujuan hidupnya dengan mengajarkan mereka untuk mengenal Tuhannya. Kita bangun visi besar mereka dengan menghadirkan kisah orang-orang besar sepanjang sejarah, orang-orang saleh yang telah memberi warna bagi kehidupan ini, sehingga mereka menemukan figur untuk dipelajari, dikagumi, dan dijadikan contoh. Lima puluh tahun mendatang anak-anak kita, hari inilah menentukannya. Semoga warisan terbaik kita untuk mereka adalah pendidikan yang kita berikan dengan berbekal ilmu dan kesungguhan. Kita antarkan pesan-pesan itu dengan cara yang terbaik. Sementara doa-doa yang kita panjatkan dengan tangis dan air mata, semoga menggenapkan yang kurang, meluruskan yang keliru, menyempurnakan yang baik, dan di atas semuanya, kepada siapa lagi kita meminta selain kepada-Nya.

Tags :
Konfirmasi Donasi