LUTHFI AULIYA, RELAWAN RZ PENGHAFAL ALQURAN 30 JUZ

RZ LDKO CilegonSUMBAWA. Tekad Lutfi Aulia Amirekfa patut diacungi jempol bahkan menjadi inspirasi. Di tengah kesibukannya belajar, mahasiswa baru Fakultas Psikologi Universitas Tekhnologi Sumbawa (UTS) ini mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an. Artinya, meski belajar ilmu dunia, namun tidak meninggalkan ilmu akhirat.

Kecintaan Auliya—akrab gadis kelahiran Lampung 26 Mei 1994 terhadap Al-Quran sudah dimulai sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Meski hanya belajar tilawah biasa, tapi sudah sedikit fasih dan semakin terasah ketika berada di jenjang sekolah dasar (SD). Melihat kegigihan ini, Mukhson dan Siti Nurhasanah—orang tuanya memasang target dapat menghafal Al Quran sebanyak 6 juz hingga tamat SMP. Mendapat support dari wali kelasnya, Auliya berhasil memenuhi harapan ayah dan ibunya ini. Setamat SMP, wanita berdarah Jawa ini diboyong orang tuanya melanjutkan studi ke jenjang SMA di Bandung, Jawa Barat. Di sekolah itu Auliya hanya mengeyam pendidikan hingga kelas 2 SMA. Meski berat, namun keputusan Auliya sudah mantap, dan kedua orang tuanya tidak bisa berbuat setelah mengetahui alasannya. “Saya ingin konsen dengan Al Quran, jika tetap di sana (SMA) hafalan saya terganggu. Saya sudah hafal 6 juz sangat sayang jika tidak dituntaskan,” aku mahasiswa yang kini tinggal di Batu Alang Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa ini.

Ambisi untuk menghafal 30 juz menemui jalan. Auliya pindah ke Bogor menimba ilmu di Rumah Al Qur’an. Hanya dalam waktu 16 bulan, 24 juz yang tersisa berhasil diselesaikan. “Alhamdulillah ikhtiar saya tercapai,” ucapnya. “Baca Quran setiap habis sholat, dan menghafalnya usai sholat subuh atau tahajud. Insya Allah akan berhasil,” tambah Auliya membuka sedikit kunci kesuksesannya menjadi seorang hafiza.

Auliya memang cukup puas bisa memenuhi harapan diri dan orang tuanya, namun ilmu dunia pun harus dia tuntaskan juga. Sekolahnya yang sempat keteteran karena hanya sampai duduk di kelas 2 SMA, diupayakan untuk diselesaikan. Auliya mencoba mengikuti program Paket C. Dalam perjalanannya, dia mendapat tawaran dari salah satu sekolah filial (kelas jauh) di Madura untuk mengikuti Ujian Nasional. Kebetulan terdaftarnya Auliya menjadi salah satu peserta ujian, sekolah tersebut memenuhi syarat jumlah siswa untuk menggelar ujian secara mandiri. “Ini sudah jalan Allah, Allah akan memberikan kemudahan bagi orang-orang yang dikehendakinya,” ujar Auliya.

Setelah mengantongi ijazah SMA, dia kembali ke Rumah Qur’an. Keinginannya pun muncul untuk menimba ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Auliya memutuskan untuk kuliah dan memilih Al Imarot Bandung serta terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah Auliya banyak berkecimpung dalam kegiatan sosial mulai dari Tenda Visi untuk memperkuat akhlak dan aqidah anak-anak muslim yang tinggal di lingkungan non muslim, hingga menjadi Relawan Rumah Zakat. Pengalaman Auliya bertambah demikian dengan pergaulannya yang semakin luas karena dalam kegiatan amal itu dia bergaul dengan relawan lain yang sebagian besar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, salah satunya Sunsun—warga Bandung yang kuliah di UTS tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Teknobiologi di Sumbawa, NTB. “Saya pernah dengar nama Sumbawa, tapi belum pernah tau tempatnya,” kata Auliya.

Dari Sunsun inilah, Auliya sedikit mengetahui tentang UTS sehingga muncul keinginan untuk kuliah di universitas yang berada di kaki Bukit Olat Maras ini. Keinginannya semakin termotivasi ketika mendengar salah seorang guru sahabat ayahnya yang mengatakan UTS adalah perguruan tinggi baru namun berkembang sangat pesat. Bahkan sangat cocok dengan tipikal Auliya sebagai seorang yang agamais, pekerja keras dan memiliki mimpi untuk menjadi generasi berkualitas. Bersama Sunsun—sahabatnya mahasiswa UTS asal Bandung, Auliya memantapkan hati beranjak ke Sumbawa dan mendaftar sebagai mahasiswa psikologi. “Sebenarnya dari dulu saya ingin kuliah jurusan Ekonomi, karena sering berkecimpung dalam kegiatan sosial dan berinteraksi dengan berbagai macam karakter dan kehidupan di desa-desa, muncul keinginan saya untuk menjadi seorang psikolog. Saya ingin membangun karakter anak bangsa, dan paling penting mengenalkan Al Quran kepada mereka,” imbuhnya.

Selain itu Ia ingin merubah dan mencegah kesalahan dalam mendidik anak. Selama ini ketegasan sering diwujudkan dengan kekerasan fisik dan membentak anak-anak. Padahal mendidik anak-anak dengan lemah lembut akan menciptakan karakter mereka menjadi orang yang baik. “Untuk mendukung hal ini saya bercita-cita mendirikan sekolah buat anak-anak tidak mampu, agar mereka bisa menjadi orang-orang hebat di masa mendatang,” tandasnya.

Ia mengajak generasi muda sekarang untuk tidak malu mengekspresikan diri apalagi tujuannya untuk kebaikan. Karena orang-orang menjadi hebat karena bisa berekspresi dan berkarya. Dan kepada generasi di masa mendatang mulai dari sekarang bersama membangun Indonesia berprestasi dan berbudi. “Insya Allah saya yakin cita-cita ini akan terwujud,” ujarnya mantap.

Apalagi lanjutnya, sekolah di UTS khususnya Psikologi sangat menyenangkan. Ternyata sebagian besar anak local Sumbawa yang menjadi temannya adalah orang-orang hebat yang menginginkan daerahnya maju. Di samping dosennya yang sangat menginspirasi.***

Sumber : http://www.samawarea.com/2014/10/luthfi-auliya-mahasiswa-uts-penghafal-al-quran-30-juz/

Tags :
Konfirmasi Donasi