M.ARI RIANSYAH PUTRA, PIATU BUKANLAH PILIHANNYA

RZ LDKO CilegonMEDAN. Ari panggilannya. Ari adalah anak bungsu dari latar belakang keluarga yang unik. Ari memiliki dua abang yang usianya sangat jauh darinya. Abang keduanya sudah tamat SMA dan bekerja sedangkan Ari masih kelas VI SD.

Ari, benar-benar kurang perhatian keluarga. Sejak kecil ia tak pernah beroleh belaian ibu. Ari luntang-latung tinggal bersama ayah dan kedua abangnya. Ketika usia 4 tahun, Ari ikut abangnya yang telah menikah. Ia pun dirawat dengan baik oleh kakak ipar dan nenek dari mertua abangnya. Saat itu adalah masa-masa emas Ari.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Ketika kakak ipar Ari mulai mengandung, abang Ari meninggal dunia. Tak lama kemudian juga nenek yang selama ini merawatnya turut menghembuskan nafas terakhir. Kakak ipar Ari yang sedang hamil pun tak lagi memiliki kemampuan untuk merawatnya. Ari dikembalikan kepada ayah dan abangnya yang belum menikah.

Sejak itu kondisi Ari memburuk. Sering sakit-sakitan bahkan berulang kali menolak berangkat ke sekolah. Tak jarang Ari menangis karena harus dipaksa ayahnya untuk bangun pagi. Di kelasnya juga Ari seperti kehilangan motivasi.

Tubuhnya lesu dan matanya sayu. Ternyata Ari sering tak sarapan pagi. Namun beruntung Ari tetap ceria dalam berteman dan bermain. Hanya di awal pagi saja ia kehilangan semangat. Namun sejak waktu dhuha, matanya berbinar ceria. Ia memilih untuk menikmati waktunya di sekolah.

Saat mengikuti tes IQ, kemampuan Ari di bawah rata-rata. Untuk menggenjot akademiknya, wali kelas rajin melakukan remedial. Sedangkan Ari juga harus bekerja kerasa mengejar ketinggalannya membaca Al-Qur’an.

Ari punya waktu khusus untuk remedia Al-Qur’an. Sekarang tinggal Ari yang belum membaca Al-Qur’an di kelasnya. Namun usaha sederhana ini juga hanya setitik menampakkan hasil. Ari masih seperti biasa.

Bagi Ari, toleransi adalah hal paling mungkin dilakukan. Mengingat selama di rumah ia tidak memiliki sesiapa yang bisa diajak curhat, belajar dan bermain. Ari benar-benar tumbuh dengan sendirinya. Ayah Ari yang jua telah renta sibuk mencari nafkah hingga tak ada lagi waktu baginya untuk mengajari Ari di rumah.

Wajar saja pekerjaan rumah tak pernah selesai saat tiba di sekolah. Begitu pun abang Ari. Sibuk bekerja dan jarang berada di rumah. Tak jarang ibadah Ari juga bolong-bolong, tak ada yang mengajarinya ke masjid selama di rumah.

Ari, menjadi anak piatu bukanlah pilihannya. Hanya langkah sederhana yang bisa sekolah lakukan. Namun selama di rumah, hanya doa yang dapat dilantunkan. Semoga kehidupanmu berkah duhai anak lelaki yang sayapnya telah patah sebelah.***

Newsroom/Sahidan Gayo
Medan

Tags :
Konfirmasi Donasi