MAKNA DARI KESABARAN

Oleh: Hiznu Sobar

Dalam kehidupan, semua yang terjadi sudah ditentukan oleh Allah SWT. Bahkan, daun yang jatuh sekalipun tidak luput dari ketentuan yang sudah digariskan-Nya.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian, diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kejadian jatuhnya crane di Masjidil Haram beberapa hari lalu menyisakan duka mendalam bagi kita. Siapa pun tidak berharap akan terjadinya musibah itu. Namun, musibah itu telah terjadi. Terlepas dari penyebabnya apakah murni faktor alam atau kesalahan manusia.

Jika kita terus berprasangka baik kepada Allah, tentu akan mendatangkan hikmah dari kejadian ini. Karena, kita percaya bahwa setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Firman Allah SWT, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(QS al-Syarh [94]: 5-6).

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah menguatkan kesabaran. Jika kita terus berupaya sabar, terlebih ini adalah sabar dalam beribadah, Allah SWT akan selalu menyertai kita dan memberikan petunjuk-Nya. “(Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita semua akan kembali. Mereka itu akan dikaruniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk.”(QS al-Baqarah [2]: 156-157).

Kesabaran yang kita miliki mempunyai arti penting dalam menghadapi pelbagai musibah. Keluhan, rasa sakit, dan segala ketidaknyamanan akan berganti dengan perasaan lapang. Prasangka buruk, waswas, dan perasaan gelisah akan hilang digantikan oleh ketenangan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata, “Sabar yang dipuji ada beberapa macam, pertama, sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Kedua, sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Ketiga, sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan….”

Dari Shuhaib, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin, setiap perkara baik baginya dan hal ini tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia diberikan kesenangan, ia bersyukur dan hal ini baik baginya dan jika ia ditimpa musibah, ia pun bersabar dan hal ini baik baginya.” (HR Muslim)

Dalam kitab al Minhaj Syarh Sahih Muslim, Ibnu Atha menuturkan, “Sabar adalah menyikapi musibah dengan cara yang baik.” Karena dengan sikap terbaiklah, segala perkara akan menjadi lebih baik. Yakinlah bahwa akan ada hikmah di balik segala musibah. Allah Maha Pemilik segala sesuatu mempunyai rencana setelah kejadian ini.
Wallahu a’lam.

Sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi