MELAWAN KETERBATASAN DALAM TAWANAN

Oleh: titintitan

Selalu ada hal yang berbeda dalam diri orang-orang besar atau pahlawan. Mereka dapat tumbuh dan berkembang dalam berbagai keterbatasan. Merka dapat tetap menebar manfaat dalam sebuah ketertawanan, secara fisik mereka memang terbelenggu tetapi tidak dengan hati dan pikir. Sebut saja tafsir Fi Zilalil Qur’an, maka yang terbayang pasti nama Sayyid Quthb. Seorang Pemikir Islam yang sempat besar di Amerika ini akhirnya terpikat dengan indahnya Islam, bahkan karena kekritisannya ia dipenjara oleh rezim Mesir kala itu.

Dari dalam penjara itulah sejarahnya bermula, ia tak mau menyerahkan hidupnya dengan terkungkung dan mati begitu saja di sana. Penjara baginya adalah tempat untuk menebar manfaat, saat yang tepat untuk tetap berkarya. Hingga kemudian lahirlah tafsir Fi Zhilalil Qur’an yang kini bahkan telah dicetak di berbagai negara dan dirasakan manfaatnya oleh umat islam di dunia.

Di dalam negeri, Indonesia punya Haji Abdul Karim Malik Abdullah atau yang biasa dikenal dengan Buya Hamka. Ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua MUI pertama ini juga pernah mendekam di dalam hotel prodeo. Namun di sana segala keterbatasan tidak ada artinya, sebab tiga hari di dalam penjara, HAMKA sudah mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak lima kali. Dan dalam kurun waktu dua tahun di dalam penjara, dia mengkhatamkan Al Qur’an sekitar 150 kali.

Selama dua tahun di dalam tahanan, HAMKA menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar sebanyak 28 juz. Karena dua juz (yakni juz 18 dan 19) sudah diselesaikan sebelum HAMKA dijebloskan ke dalam jeruji besi.

Begitulah, bagi mereka penjara bukanlah apa-apa. Kungkungan itu hanya melilit fisik, tapi tidak bisa membatasi alam pikir serta kejernihan hati. Betapa ilmu Allah yang begitu luas telah berhasil mereka pahatkan menjadi sejarah peradaban.

Usia mereka melampui umur biologis yang hanya beberapa puluh tahun. Namanya masih tetap harum kini, ilmu yang telah terikat dalam berjilid-jilid buku telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dunia. Hingga tak ada alasan untuk berleha-leha membiarkan ilmu terlewat begitu saja. Sebab usia kemanfaatannyalah yang bisa mengantarkan manusia ke gerbang surga-Nya yang indah.

Maka tidak heran, jika para sahabat dan ulama terdahulu tak pernah jemu menghabiskan waktu mereka di dunia untuk berburu ilmu.

Tags :
Konfirmasi Donasi