[:ID]MEMAKNAI IBADAH HAJI[:en]UNDERSTAND THE ACT OF HAJJ[:]

[:ID]Oleh: Fauzul Iman

Menurut Wahbah Zuhaeli dalam bukunya, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh, haji berarti mengunjungi Kakbah untuk melaksanakan beberapa perbuatan tertentu, di tempat-tempat tertentu, dan dalam waktu tertentu pula. Kegiatan ibadah itu dengan sendirinya mengandung makna ritualitas yang sangat tinggi baik dari segi simbol, sejarah, maupun sosiologi.

Ali Syari’ati, salah seorang pemikir kontemporer Islam, dalam bukunya Hajj, telah mengulas secara detail makna ritualitas haji. Tulisan berikut ini ingin mengemukakan percikan pemikirannya mengenai makna ritualitas haji dari aspek ibadah: ihram, tawaf, sai, dan wukuf. Ihram adalah tahap mulai niat mengerjakan haji dengan mengenakan dua helai pakaian.

Menurut Ali Syari’ati, pakaian adalah lambang status yang dapat memicu sikap diskriminasi, keakuan, dan egois. Pakaian telah memecah belah anak-anak Adam. Oleh karena itu, kata Ali Syari’ati, pakaian model ibadah ihram bukanlah penghinaan, tetapi justru penggambaran kualitas manusia di hadapan Tuhan.

Pakaian ihram, lanjutnya, telah menuntun manusia untuk mengubur pandangan yang mengukur keunggulan karena kelas, kedudukan, dan ras.

Adapun tawaf merupakan kegiatan ibadah mengelilingi Kakbah. Di hadapan Kakbah yang berbentuk kubus ini, kata Ali Syari’ati, para pelaku tawaf akan merenungkan keunikan Kakbah yang menghadap ke segala arah, yang melambangkan universalitas dan kemutlakan Tuhan; suatu sifat Tuhan yang tidak berpihak tetapi merahmati seluruh alam (Q. S. 106: 21).

Dengan tawaf, umat manusia dididik aktif bergaul menjaring komunikasi dengan Tuhan dan antarmanusia (Q. S. 112: 2). Sementara tentang sai, Ali Syari’ati melambangkan ibadah ini dengan kegigihan dan keperkasaan manusia dalam menempuh perjuangan hidup. Sai yang merupakan rekonstruksi peristiwa Siti Hajar mencari air Zamzam dari Bukit Shafa menuju Marwa, merupakan lambang figur manusia yang berjuang dari niat yang tulus (shafa), tanpa patah semangat mencapai tujuan (marwa).

Selanjutnya, setiap calon haji harus wukuf di Arafah. Arafah merupakan sebuah padang yang luas. Di tempat ini manusia singgah sebentar (wukuf). Lalu bermalam (mabit) di Muzdalifah dan tinggal di Mina. Arafah berarti pengetahuan dan Mina artinya cinta.

Setelah wukuf di Arafah, para jamaah menuju ke Muzdalifah untuk mabit. Wukuf dilakukan pada siang hari, sementara mabit pada malam hari. Siang, demikian Syari’ati, melambangkan sebuah hubungan objektif ide-ide dengan fakta yang ada, sedangkan malam melambangkan tahap kesadaran diri dengan lebih banyak melakukan konsentrasi di keheningan malam.

Kemudian di Mina, jamaah melempar Jumrah. Ini merupakan lambang perlawanan manusia melawan penindasan dan kebiadaban. Demikianlah makna ritualitas haji yang penuh dengan simbol kejuangan hidup manusia. Semoga para jamaah haji dapat menangkap makna simbol-simbol itu dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

sumber: republika.co.id

[:en]By: Fauzul Iman

According to Wahbah Zuhaeli in his book, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh, hajj or pilgrimage means visiting the Ka’ba to carry out certain acts, in certain places, and at certain times as well. The activity itself implies a very high act of worship in terms of symbols, history, and sociology.

Ali Shari’ati, one of the contemporary thinkers of Islam, in his book Hajj, has reviewed in detail the meaning of the pilgrimage ritual. The following article would like to express a spark of his thinking about the meaning of the pilgrimage ritual from the aspects of worship: ihram, tawaf, sai, and wukuf. Ihram is the starting stage of the intention to perform the pilgrimage by wearing two strands of clothing.

According to Shari’ati, clothing is a symbol of status that can trigger an attitude of discrimination, selfishness, and egoistic. Clothing had divided Adam’s children. Therefore, said Ali Shari’ati, the ihram style of clothing is not an insult, but rather a depiction of human qualities before God.

The ihram clothes, he continued, have led humans to bury the view that measures excellence because of class, position, and race.

As for tawaf, it is a worship activity for circling the Ka’ba. In the presence of this cube-shaped Ka’ba, said Shari’ati, the performers of tawaf will contemplate the uniqueness of the Ka’bah that faces in all directions, which symbolizes the universality and absoluteness of God; an attribute of God that does not take sides but blesses the whole nature (Q. S. 106: 21).

With tawaf, humanity is educated to actively socialize and capture the communication between God and humans (Q. S. 112: 2). As for Sai, Shari’ati symbolizes this worship with the perseverance and courage of men in their struggle for life. Sai, which is a reconstruction of the Siti Hajar incident, looking for the water of Zamzam from mount Shafa to Marwa, a symbol of a human figure that fights with sincere intentions (shafa), without a broken spirit in achieving their goals (marwa).

Furthermore, every prospective pilgrim must stand before Arafat. Arafat is a vast field. In this place, humans stop and stand briefly (wukuf). Then spend the night (mabit) at Muzdalifah and stay at Mina. Arafat means knowledge and Mina means love.

After standing at Arafat, pilgrims go to Muzdalifah to stay for the night. Wukuf is done during the day, while mabit is done at night. During the day, Shari’ati said, symbolizes an objective relationship of ideas with existing facts, while night symbolizes the stage of self-awareness by concentrating more in the stillness of the night.

Then in Mina, worshipers threw the Jumrah (small stone). This is a symbol of the human resistance against oppression and outrage. Thus, the act of hajj is full of symbols of the struggle of human life. Hopefully, the pilgrims can grasp the meaning of these symbols and realize them in everyday life.

Source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia