MEMBACA KRISIS

Oleh: Abu Syauqi

Berita-berita ekonomi global sedang mengarah pada satu kabar utama. Lehman Brothers Holdings Inc, bank investasi terbesar keempat di Amerika Serikat, bangkrut! Per 31 Mei 2008, total aset Lehman sebesar US$ 639 miliar, akan tetapi utangnya mencapai US$ 631 miliar.

Sejumlah lembaga keuangan pun ikut terseret karena begitu banyak bank dan investor kelas dunia menanamkan uang dan piutang­nya di Lehman Brothers. Sebagai negara yang sementara ini menjadi yang ter­besar di dunia, krisis Amerika ini banyak dikhawatir­kan akan menimbulkan efek domino ke banyak negara, termasuk Indonesia.

Melihat keadaan ini, saya teringat kejadian dalam al-Quran Surat Yusuf yang banyak menceritakan tentang kisah hidup Nabi Yusuf as, mulai masa remaja hingga men­duduki posisi tertinggi di negeri Mesir. Apa kaitannya dengan kondisi dunia saat ini?

Kalau kita lihat sebenarnya dua masa tersebut terjadi momentum krisis yang hampir sama, dimana krisis tersebut diawali dengan terjadinya keberlimpahan harta yang luar biasa. Coba simak lagi dalam al-Quran, bandingkan betapa Amerika Serikat selalu direferensikan sebagai pusat kekayaan, kemajuan teknologi dan peradab­an modern. Namun mendadak, khususnya sejak Juli 2007, terjadi gonjang-ganjing ekonomi akibat skandal kredit pemilikan rumah (subprime mortgage). Resesi pun mengancam dunia.

Mengapa Yusuf sukses mengelola krisis masa itu? Kesuksesannya bermula dari dua karakter utama yang menjadi modal fit and proper test-nya saat melamar jadi bendahara raja, yaitu Disiplin dan Kompetensi atau bisa juga dibahasakan Amanah dan Profesional. Kunci pengambilan solusi saat itu diawali dengan proses prediksi dan analisis yang akurat. Bukan hanya atas mimpi sang raja, namun juga analisis situasi yang sedang berkembang saat itu.

Sebagaimana krisis Amerika ini, banyak pengamat yang telah memprediksinya. Meski banyak yang tak percaya. Sama juga jika disampaikan Indonesia akan menjadi sembilan negara terbesar pada tahun 2030, apakah ada yang percaya?

Disinilah jiwa kepemimpinan diuji, termasuk bagaimana menjawab keraguan atau ketidakpercayaan tadi. Pemimpin diangkat karena memang visinya di atas rata-rata. Yusuf menangkap gejala tersebut, walaupun bagi kebanyakan orang masih samar-samar.

Tahap selanjutnya dari apa yang dilakukan Nabi Yusuf as adalah Komitmen dengan efisiensi. Diriwayatkan, saat itu selama tujuh tahun negeri Mesir akan mendapat kelim­pahan pangan karena suksesnya lahan-lahan pertanian. Tapi kelimpahan tersebut tidaklah dihabiskan untuk sekedar menye­nang­kan hati rakyat (tebar pesona) atau sekedar pesta pora. Yusuf memberikan kebijakan yang kuat dan tegas bahwa meski­pun melimpah, dilarang keras untuk berlebih-lebihan karena semua warga masyarakat harus terlibat dalam misi SIAGA GIZI DAN PANGAN NASIONAL yang akan terjadi tujuh tahun kemudian.

Sense of crisis digemakan di pelosok negeri, sehingga setiap rencana dan persiapan tidak bertepuk sebelah tangan. Semua warga sadar jika tidak mendukung sepenuh­nya, bahaya kelaparan akan merenggutnya.

Prediksi dan analisa akurat ditunjang kebijakan yang efektif pada komitmen efisiensi inilah di antara yang menjadi kunci sukses masa krisis dilewati dengan ceria. Semoga ini bisa menginspirasi kita menghadapinya di Indonesia. Wallahu a\\\’lam bishshowab!***

 

Tags :
Konfirmasi Donasi