MENCARI INSPIRASI AMANAH

Oleh : Abu Syauqi

“Dunia tidak sedang kekurangan dana, tetapi kekurangan kepercayaan,” kata Sung Won Sohn, profesor ekonomi California State University.

Pernyataan di atas muncul sebagai tanggapan sehubungan terjadinya ‘tsunami finansial’ yang sedang melanda lantai bursa Amerika hari-hari ini. Pasca kebangkrutan Lehman Brothers, bank keempat terbesar Amerika, Senin (15/9) lalu, banyak investor mulai meragukan apakah lembaga sekuritas yang lain tidak akan mengalami kondisi yang sama? Sikap ini mungkin wajar ditunjukkan mengingat 158 tahun sudah Lehman Brothers mampu bertahan. Sebuah angka yang jauh melebihi usia negara kita, bahkan tahun 1850 saat bank investasi terbesar di dunia ini lahir, istilah Indonesia baru dikenalkan, tepatnya oleh seorang ahli etnologi Inggris bernama James Richardson Logan dalam ilmu bumi.

Kembali kepada masalah kepercayaan yang disampaikan Sung Won Sohn tadi, tentu pernyataan tersebut bisa diberlakukan untuk banyak dimensi lainnya. Kita bisa melihat, hampir semua usaha berdiri di atas nilai trust. Karena dengan bisa dipercayalah, orang lain akan menitipkan amanahnya kepada kita, baik itu dalam kepentingan ekonomi, politik, sosial bahkan agama.

Rasanya tak ada teladan paling sempurna untuk menjadi inspirasi keamanahan atau kelayakan dipercaya ini selain Rasulullah Muhammad SAW. Saya sangat yakin tak ada gelar kemanusiaan yang lebih baik selain Al Amiin, dan sejarah membuktikan hanya Muhammad SAW yang memilikinya. Dalam karakter al Amiin ini tertanam karakter kompetensi, kredibilitas, profesionalisme yang berdiri dalam nilai-nilai kejujuran dan keluhuran. Karakter inilah kemudian kini banyak diadaptasi oleh perusahaan bisnis dalam falsafah dan sistem ‘Good Corporate Governance’.

Bagaimana karakter amanah itu sebenarnya? Mungkin ada baiknya kita melihat dari sisi kebalikannya. Salah satu sifat yang menunjukkan ketidakamanahan itu digambarkan Rasulullah SAW dalam karakter orang munafik. Ada 3 tandanya : 1) Bila berbicara suka berdusta 2) Bila berjanji, tidak ditepati. 3) Bila diberi kepercayaan selalu mengkhianati.

Ketiganya bila dikembangkan dapat meluas ke berbagai karakter anti-amanah yang sebenarnya menjadi biang kehancuran negeri. Kembali ke kasus di Amerika tadi, jika dengan sistem dan manajemen yang sudah begitu rapi dan canggih saja, auditnya juga sangat ketat, masih juga ambruk dan krisis, tentu mungkin di kita akan lebih cepat kolapsnya. Sistemnya rubuh akhlaknya rapuh, na’dzubillahi min dzaalik! Kejadian 15 Ramadhan lalu saat 21 ibu-ibu menjadi korban meninggal akibat penyaluran zakat langsung di Pasuruan sungguh fakta yang menguatkan kegeraman dan kebencian saya pada koruptor. Kemiskinan merajalela tapi KPK tak kunjung sepi dari penangkapan kasus korupsi.

Koruptor umumnya berangkat dari pribadi-pribadi yang sedang dalam posisi ”dipercaya”. Artinya mereka sebenarnya memiliki kompetensi untuk mendapatkan kepercayaan, tapi sayang 3 karakter anti-amanah tadi dijalani. Saya pernah berbincang dengan seorang doktor yang kini aktif menjadi konsultan SDM di beberapa BUMN, pesannya tajam, ”Jika sekali karyawan Anda berlaku curang dengan uang, jangan sekalipun mentolerirnya. Segera cepat keluarkan!” Mengapa? Karena logikanya jika seseorang sudah berani bermain-main dengan uang, sebenarnya perbuatan ketidakjujuran dalam level lebih kecil lainnya sudah beberapa kali dilakukan. Ada semacam training pendahuluan untuk coba-coba berlaku korupsi.

Saya yakin Rasulullah SAW sangat bersedih hati jika bangsa kita tak kunjung semakin amanah. Rasanya cukup kita menemukan banyak inspirasi teladan sejarah sejak zaman Nabi, sahabat, tabi’in dan bahkan orang-orang terbaik di sekitar kita yang mencontohkan bagaimana perilaku bersih dan amanah dilekatkan sebagai kepribadian. Mari kita mulai semampu kita bisa. Kita sudah berada di penghujung 10 hari Ramadhan, semoga janji Allah untuk dibebaskan dari api neraka juga semakin lengkap dengan harapan semoga kita terbebas dari perilaku korupsi dan ketidakamanahan diri.

Wallahu a’lam bishshowab!

 

 

 

 

 

 

 


Tags :
Konfirmasi Donasi