MENGAPA AL QURAN DAN HADITS RAHASIAKAN KIAMAT?

Wahai orang-orang yang beriman, selalulah bertakwa kepada Allah, dan perhatikanlah kreasi serta kontribusi apa yang telah Anda persiapkan untuk hari esok (hari kiamat) … (QS Al Hasyr: 18). Pertanyaan tentang hari kiamat telah ada sejak masa kerasulan.

Alquran banyak merekam tentang hal itu. Perhatikan, misalnya, surah Al Ahzab ayat 63, Al A’rof ayat 187, serta An Nazi’at ayat 42. Bahkan, ada surah yang dinamai dengan hari kiamat, seperti surah Al Waqi’ah dan surah Al Haqqah. Namun, dalam waktu yang bersamaan ayat-ayat Al Quran juga menegaskan tentang kepastian pengetahuan tentang hal itu hanyalah berada di sisi Allah.

Dalam surah Al Ahzab ayat 63 itu, misalnya, Allah menegaskan bahwa: Orang-orang bertanya kepadamu tentang hari kiamat. Katakanlah, “Pengetahuan tentang hal itu hanya berada di sisi Allah. Tetapi bagaimana bila ternyata hari kiamat itu sangatlah dekat?!”

Karena itu, menurut Ibnu Taimiyah dan para ulama lainnya, menujumkan atau menyibukkan diri dan orang lain dengan memastikan kapan terjadinya peristiwa kiamat itu adalah bagian dari pernyataan yang tanpa dilandasi argumen yang baik secara syar’i maupun benar secara logika.

Bahwa, kiamat pasti terjadi, itu jelas benar. Sebab, begitulah yang ditegaskan oleh Alquran dan As-Sunnah as-Shahihah (hadits). Tetapi, mengapa Alquran dan hadits merahasiakan kapan persis terjadinya kiamat?

Menurut Sayid Quthb, hal itu bersesuaian saja dengan jati diri manusia yang penuh dengan faktor majhul (ketidakjelasan), hal itu terlihat pada kepribadian orang per orang, maupun perjalanan nasib kehidupan mereka. Agar dengan cara itu ia terus tertantang untuk secara dinamis beraktivitas membongkar apa di belakang ke-majhulan itu.

Ia akan berhati-hati, terus belajar, dan tetap berharap. Bila semua serba dibuka, maka kehidupan dunia akan stagnan dan berhenti. Dan, bukan untuk itulah kehidupan manusia dihadirkan.

Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya mengingatkan seandainya hari ini terjadi kiamat juga, sedangkan di tangan Anda masih terdapat bibit tetumbuhan (kurma, misalnya) yang dapat Anda tanam, maka tanamlah. Hadits ini jelas menunjukkan sebuah metode Islami untuk menghadapi dan mempersiapkan diri bila terjadi kiamat.

Yaitu, tidak dengan panik menyebar teror isu dan fitnah, apalagi menunggangi kuda politik bellum omnium contra omnes (perang oleh semua melawan semua), melainkan dengan proaktif berkontribusi menyebarkan peace, welfare, and justice for all (kedamaian, kesejahteraan, serta keadilan bagi semua, termasuk bagi generasi yang akan menuai tanaman generasi kita).

Di tengah hiruk pikuk isu tentang kiamat, pernyataan Rasulullah SAW itu hendaknyalah kita jadikan sebagai pedoman. Sebab, seperti kata Alquran tadi, kita memang harus mempersiapkan kreasi untuk kehidupan bila kiamat terjadi. (Lihat Tafsir Faidh al Qodir V/289).

sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia