[:ID]MENGENAL TAKDIR TUHAN[:en]UNDERSTAND GOD’S DESTINY[:]

[:ID]Oleh: Muhammad Nasrulloh

“Sesungguhnya, Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan takdir (yang telah Kami tetapkan kepadanya di Lauhil Mahfudz.” (QS al-Qamar:49). Takdir adalah keniscayaan dan kehidupan yang tidak terlepas darinya. Jika seseorang memahami takdir dengan benar, niscaya ia memahami kehidupan tetapi jika keliru memahaminya, niscaya ia tak mampu memahami kehidupan.

Apakah kepintaran dan kebodohan, kebahagiaan dan kesengsaraan, masuk surga dan neraka adalah ketentuan Allah semata? Ternyata, takdir terbagi menjadi dua, ada takdir yang memaksa dan ada takdir yang bijaksana.

Pertama, ada takdir yang memaksa. Takdir yang memaksa adalah ketentuan Allah yang diterima tanpa ada sangkut paut dengan usaha seorang hamba. Ketika dilahirkan, bisakah Anda memilih untuk menjadi seorang laki-laki atau memilih menjadi seorang perempuan?

Yah, jawabannya tidak bisa. Demikian adalah contoh takdir yang memaksa. Takdir tersebut tidak bisa diganggu siapa pun, hanya Allah yang maha tahu atas ketetapannya. Kedua, ada takdir yang bijaksana. Takdir ini merupakan ketetapan Allah kepada seluruh hamba-Nya agar mereka dapat memilih dan berusaha.

Jika kepintaran dan kebodohan adalah ketetapan Allah yang memaksa, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mau belajar. Karena mereka tahu, meskipun mereka belajar, kalau Allah menakdirkan bodoh, ya pasti bodoh.

Lalu, di mana letak takdir Allah? Jika ingin pintar maka belajarlah dan jika ingin bodoh maka bermalas-malasanlah, itulah ketetapan Allah dan pilihlah sesuai keinginanmu. Begitupun dengan masalah masuk surga dan neraka. Ini masalah pilihan, jika beriman dan beramal saleh, pastilah surga bagiannya.

Maka, sesungguhnya Allah tidak pernah zalim kepada makhluknya, justru makhluklah yang menzalimi diri sendiri.Takdir Allah bisa disebut dengan sunatullah. Sunatullah (hukum Allah) sering disebut dengan hukum alam.

Orang kafir (ateis) meyakini, hukum alam ini berdiri sendiri, tidak ada seorang pun yang mengatur hukum alam ini. Namun, Islam memahami bahwa hukum alam tidak berdiri sendiri. Artinya, hukum alam beroperasi sesuai aturan yang telah ditetapkan Allah.

Contoh, hukum alam menyatakan, api itu panas dan memang itu faktanya. Namun, apakah hukum alam ini bisa berubah? Islam menjawab ‘bisa’. Ketika nabi Ibrahim AS dimasukkan ke dalam api yang sangat panas, apakah nabi Ibrahim merasakan panas? Allah memerintahkan api tersebut supaya terasa dingin dan aman. Inilah bukti, Allah yang menghukumi alam. Jadi, kenalilah takdir Allah dan kenalilah hukum alam. Wallahu a’lam bisshawab.

sumber: republika.co.id[:en]

By: Muhammad Nasrulloh

“Truly, We have created everything with destiny (which We have set for him in Lauhil Mahfudz.” (Surah al-Qamar: 49). Destiny is a necessity and life is inseparable from it. If someone understands destiny correctly. undoubtedly he understands life but if one mistakenly understands it, surely he is unable to understand life.

Are intelligence and ignorance, happiness and misery, entering heaven and hell are God’s provisions only? Apparently, destiny is divided into two, there is a predestined fate and there is a prudential destiny.

First, there is a predestined destiny. The destiny that are forced is a provision of God which is accepted without any relation to the efforts of a servant. When born, can you choose to be a man or choose to be a woman?

Well, the answer is no. Such is the example of fate which forces it, it cannot be disturbed by anyone, only Allah is all-knowing about His provisions. Second, there is a prudential destiny. This destiny is the decree of Allah to all His servants so that they can choose and make an effort.

If intelligence and ignorance are God’s decrees which forces, no one in this world will want to learn. Because they know, even though they are learning, if God predestines one to be stupid, one can only be stupid.

Then, where is God’s destiny? If you want to be smart then learn and if you want to be stupid then be lazy, that’s God’s decree and choose according to your wishes. Likewise, with the problem of entering heaven and hell. This is a matter of choice, if you have faith and do good deeds, surely heaven will be a part of it.

Then, surely Allah has never wronged his creatures, it is the creatures who wrong themselves. God’s destiny can be called Sunatullah. Sunatullah (the law of God) is often referred to as natural law.

Infidels (atheists) believe, this natural law stands alone, no one governs this natural law. However, Islam understands that natural law does not stand alone. That is, natural law operates according to rules set by God.

For example, natural law states, fire is hot and indeed that is the fact. However, can this natural law change? Islam answers ‘Yes, it can’. When the prophet Ibrahim AS was put into a very hot fire, did the prophet Ibrahim feel the heat? God ordered the fire to feel cold and be safe for him. This is proof, God is the ruler of nature. Therefore, recognize the destiny of God and recognize the laws of nature. Wallahu a’lam bisshawab.

Source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia