MENGIMANI TAKDIR KEMATIAN

OLEH ABDILLAH

Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan, pada suatu hari Rasulullah SAW membuat garis persegi empat. Nabi menarik garis pada pusatnya, lalu menarik garis-garis lain pada sisinya, dan menarik sebuah garis lain di luarnya.

Beliau bersabda, “Kalian tahu, apa ini?” Para sahabat kemudian menjawab, “Allah dan Rasulnya yang tahu.”

Sambil menunjuk garis yang ada di tengah-tengah Beliau bersabda, “Ini adalah manusia, dan ini adalah ajal yang mengelilinginya.”

Kemudian sambil menunjuk pada garis-garis yang mengitarinya, Nabi bersabda, “Dan ini adalah peristiwa-peristiwa yang mengancam. Jika lolos dari yang satu, ia akan terkena oleh yang lain. Dan garis di luar ini adalah angan-angannya.” (HR Bukhari).

Kita semua akan mati. Itulah pelajaran yang bisa kita ambil dari hadis tersebut. Kematian akan menghampiri siapapun tanpa kecuali. Maut tidak bisa kita hindari. Tidak ada tempat untuk kita bersembunyi. Di manapun kita berada, ajal akan datang menghampiri dan tanpa kita sadari.

Ada banyak cara bertemu maut. Entah karena sakit, terjatuh, kecelakaan atau tanpa sebab sekalipun. Semua cara tersebut adalah kuasa Allah yang pada akhirnya membawa pada satu jalan yaitu kematian. Allah SWT berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS al-‘Ankabut: 57).

Usia tidak menjadi ukuran. Tua dan muda tidak menjadi patokan. Jabatan dan kekayaan juga tidak menjadi jaminan. Pada waktunya, manusia akan dijemput maut.

Rasulullah SAW menyampaikan sebuah hadis Qudsi yang berbunyi: “Wahai anak cucu Adam, kematian itu laksana pintu dan setiap manusia akan memasukinya.” Sungguh, Kematian adalah sebuah keniscayaan yang tidak seorangpun bisa melepaskan diri.

Ajal akan menghampiri siapa saja. Di manapun kita berada, entah sedang di rumah, di kantor, di tempat kerja, di kendaraan dan bahkan di pesawat. Maut akan datang menjemput. Sungguh kita tidak bisa lari dari kematian.

Allah SWT berfirman: Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS al-Jumu’ah: 8).

Oleh sebab itu, imanilah takdir kematian karena hal itu sudah menjadi ketentuan Allah SWT. “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun (QS al-A’raf: 34).

Wallahu a’lam.

sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia