MENILIK PENGELOLAAN SAMPAH DI WILAYAH URBAN

RZ LDKO CilegonJAKARTA. Seperti layaknya kampung yang berada di daerah urban, siang itu udara di wilayah Rengas cukup panas. Meski masih banyak pekarangan dengan pepohonan hijau di pinggiran jalan, tapi matahari musim penghujan masih saja gagah menyinari. Sebuah mobil pick up hitam yang masih kelihatan baru terparkir di sebelah bangunan serupa pos hansip.

Tampak beberapa perempuan paruh baya lalu lalang membawa plastik berukuran besar berisi sampah kering dan juga bertumpuk-tumpuk kardus yang telah terikat rapi menggunakan tali. Tak ketinggalan puluhan botol kosong bekas saus dan kecap yang dibawa oleh warga lainnya teronggok manis di pojokan menunggu giliran penimbangan.

Hari itu adalah hari penimbangan sampah bagi warga Kel. Rengas, Ciputat, Tangerang Selatan. Sejak setahun terakhir, warga Rengas mempunyai aktivitas baru yaitu mengelola Bank Sampah Berseri. Meskipun hanya digawangi oleh tiga orang pengurus yang bertugas sebagai ketua, bendahara dan sekretaris, segala proses pemilahan, penimbangan hingga penjualan ke pengepul dapat berjalan lancar.

Setidaknya setiap bulan ada empat kali jadwal penimbangan sampah di beberapa titik di wilayah Kel. Rengas. Tidak ada yang menyangka, bank sampah yang digagas sejak September tahun lalu kini telah menuai hasil yang cukup memuaskan.

“Alhamdulillah, bank sampah Berseri ini sudah memiliki 130 lebih nasabah dengan omset rata-rata Rp1,6 Juta – Rp2,4 juta per bulan,” ujar Rio, fasilitator wilayah Integrated Community Development (ICD) Rengas.

Dari awal pembentukannya, bank sampah di wilayah Rengas ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Bahkan didukung penuh oleh aparat pemerintah setempat termasuk juga Pak Lurah. Sosialisai demi sosialisasi dilakukan kepada warga. Mulai dari jenis-jenis sampah, cara pemilahannya maupun sistem bank sampah itu sendiri.

Masalah yang diperoleh justru berasal dari para pemulung yang rupanya telah rutin menjadi pengepul sampah di daerah Rengas. Meski kemudian hal tersebut bisa diselesaikan dengan baik, sebab para pemulung tersebut rupanya bukan berasal dari daerah Rengas dan tak kembali lagi ke Rengas setelah berdirinya Bank Sampah Berseri.

“Kami masih terus belajar dan belajar bagaimana membuat sistem yang lebih nyaman dan cepat mengingat nasabah yang semakin hari semakin bertambah. Sampah yang disetorkan juga semakin banyak jenisnya. Semua butuh dipilah dan ada harganya masing-masing,” terang Budiasih, ketua dari bank sampah Rengas.***

Newsroom/Yosef
Jakarta

Tags :
Konfirmasi Donasi