MENIMBANG KEMANFAATAN DIRI

Oleh : Abu Syauqi


Sudahkah diri kita bermanfaat bagi orang lain?

Pertanyaan ini sepertinya sederhana tapi bisa jadi jawabannya tidak seperti yang kita sadari. Katakanlah kita mengaku sudah bermanfaat bagi orang lain, tapi yakinkah kita bahwa orang lain sebenarnya merasakan manfaat atas kehadiran kita selama ini? Melalui tulisan ini saya bermaksud menggugah kesadaran pembaca sekalian bahwa ternyata tak cukup kita hanya merasa bermanfaat bagi orang lain tapi kita harus MENGORIENTASIKAN DIRI KITA untuk membantu orang lain.  

 Ajakan ini bukan sekedar karena selama ini saya berkecimpung di dunia sosial, namun karena secara riil kita bisa melihat bahwa begitu kompleksnya permasalahan kita baik mulai level RT hingga negara, banyak bermula dari orientasi yang terlalu dominan pada kepentingan diri sendiri.

Orientasi untuk orang lain ini ternyata tidak selalu mudah dilakukan, apalagi dalam kondisi dimana kita sering menghitung justru diri kitalah yang perlu dibantu. Jadi apakah kita harus jadi orang kaya? Nah itu satu jawaban bagus, tapi tentu tidak selalu harus demikian. Orientasi atau arah kecondongan diri biasanya terlahir dari pengalaman dan pengetahuan. Pengalaman karena mungkin kita dahulu pernah merasakan sendiri betapa pahit getirnya jadi orang susah. Pengetahuan karena barangkali kita pernah berpikir atau mencermati keadaan bahkan kisah sejarah bahwa kemiskinan akan sangat dekat pada keterbelakangan atau justru menjadi pintu masuk terjadinya kelemahan iman.

Dua hal yang menentukan ’ringannya’ kita membentuk orientasi diri bermanfaat bagi orang lain adalah pola berpikir dan pola bersikap. Pola berpikir sangat vital berperan. Saya pernah menemani tamu sahabat dari Eropa, saya temani keliling ke beberapa lokasi. Menariknya ketika dia melihat tumpukan batok kelapa sisa warung es kelapa muda, dia menunjuk-nunjukkan tangannya, ”Ini dolar..ini dolar!” Artinya dia sedang melihat peluang dari sesuatu yang kita anggap sisa ternyata baginya bernilai ekonomi luar biasa. Sama juga dengan pola berpikir bahwa sukses dalam bisnis harus main sogokan. Pikiran kita harus terus diluruskan dan itu perlu pendidikan. Termasuk bagaimana mendidik pikiran dan perasaan kita bahwa membantu mengeluarkan sebagian harta kita untuk membantu orang lain bukanlah sebuah kerugian. Baru-baru ini saya mendengar ada seorang pengusaha batu permata yang zakatnya setahun 12 Milyar. Subhanallah..tentu tak mungkin uang sebesar itu diberikan kepada orang lain yang membutuhkan jika tanpa pembentukan pola berpikir yang bersatu dengan jiwa kepedulian. Oleh karena itu salah satu tugas kita adalah membantu orang lain untuk bisa memiliki pola pikir yang sama bahwa dengan berbagi pasti keberkahan terjadi.

Yang tak kurang penting juga adalah pola sikap kita. Kita harus banyak mendengar apakah kehadiran kita sudah memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan. Untuk itulah kita perlu timbang sikap-sikap mana saja yang berkenan atau pantas dan mana yang tidak. Apalagi dalam bermasyarakat, selain terus mengembangkan sikap yang ringan tangan suka menolong kita juga perlu selalu membersihkan hati dan menambah terus kebaikan. Sebab bisa saja terjadi kita sudah selalu berorientasi menolong orang lain ternyata malah direspons kurang menyenangkan, dicurigai, dan sebagainya. Orientasi kepada orang lain tak kan lengkap jika tanpa disempurnakan dengan orientasi kita kepada Rabb, Allah.

Ramadhan adalah saat yang sangat tepat menumbuhsuburkan semangat berbagi. Sepuluh hari telah berlalu jangan lewatkan kesempatan yang tersisa!


Wallahu a’lam bishshowab.

 

 

 

 

Tags :
Konfirmasi Donasi