MENJAGA KEIKHLASAN

OLEH AHMAD AGUS FITRIAWAN

Beramal yang sebaik-baiknya merupakan inti dari keberadaan manusia di dunia ini (QS al-Mulk [67]:2). Tanpa amal, manusia kehilangan fungsi dan peran utamanya dalam menegakkan khilafah dan imarah.

Namun, pada tahap implementasinya, ternyata tidak cukup hanya beramal saja karena memang Allah akan menyeleksi setiap amal itu dari niatnya dan keikhlasannya. Tanpa niat dan keikhlasan, amal seseorang akan sia-sia tidak berguna dan tidak dipandang sedikit pun oleh Allah SWT.

Imam al-Ghazali menuturkan, “Setiap manusia binasa kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu akan binasa kecuali orang yang beramal (dengan ilmunya). Orang yang beramal juga binasa kecuali orang yang ikhlas (dalam amalnya). Namun, orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal.”

Dalam hal ini, hanya mereka yang ikhlas beramal akan mendapatkan keutamaan dan keberkahan yang sangat besar, seperti yang dijamin Allah dalam firman-Nya, “Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS ash-Shaaffat [37]:40-43).

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk berusaha menjaga keikhlasan dari semua amal perbuatan kita kepada Allah SWT. Pertama, banyak berdoa. Nabi SAW mengajarkan kepada umatnya melalui doa yang sering dipanjatkannya, “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku pun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (HR Ahmad).

Nabi Muhammad SAW sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan, padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan.

Kedua, menyembunyikan amal kebaikan. Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih dapat diharapkan keikhlasannya karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali Allah semata.

Ketiga, memandang rendah amal kebaikan. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya.”

Ditanyakan kepadanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Beliau menjawab, “Seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap azab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu. Sedangkan, ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.”

Keempat, takut tidak diterimanya amal. Allah SWT  berfirman: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS al-Mu’minun [23]: 60).

Seorang ulama ahli hikmah menasihatkan, “Perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan bahwa tidak ada kekuatan sendiri, bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan pertolongan Allah saja.” Wallahu a’lam.

Sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia