MENYAMBUT TAHUN 2009 DENGAN TERUS BELAJAR

Oleh:

Rahmat Ali Hakim

Pengamat Perkembangan Rumah Zakat Indonesia

British Petroleum Offshore Installation Manager

Dalam sebuah penerbangan dari Jakarta, saya membaca sebuah majalah maskapai triwulanan. Sang CEO di halaman depan menjelaskan komitmen terhadap keselamatan dan kenyamanan penumpang. Salah satunya adalah mengganti armada udara dengan pesawat baru. Tujuannya adalah untuk menjawab analisis para ahli tentang penyebab banyaknya kecelakan pesawat di Indonesia sepanjang 2006-2007 karena penggunaan pesawat-pesawat uzur, meski secara teknis analisa ini masih diperdebatkan. Sebuah visi untuk menembus jalur penerbangan ke Eropa juga disinggung di sana. Perbaikan, itulah tema utama yang ingin disampaikan CEO.

Rumah Zakat Indonesia telah melalui satu dekade dalam mengemban amanah para donatur di Indonesia.  Sejak tahun pertama sampai saat ini, lembaga tersebut berusaha mengelola zakat, infak, sodakoh (ZIS) hingga meluas ke segenap daerah-daerah dan menambah variasi produk di Indonesia. Hal ini menuntut organisasi untuk mengalami perbaikan-perbaikan yang masing-masing membawa konsekuensi. Demi menjaga ketersediaan dan kualitas layanan, maka dalam menyambut 2009, Rumah Zakat harus terus menjawab satu demi satu konsekuensi dengan peningkatan berkesinambungan.

Salah satu ciri organisasi hebat yang mampu bertahan sampai saat ini ialah kemampuan meningkatkan diri. Sekali lagi, hanya untuk bertahan. Peningkatan diri organisasi selalu memerlukan perubahan budaya di dalam organisasi. Tentu saja tidak setiap perubahan budaya adalah totalitas, sebaiknya bertahap.

Rumus Perubahan

Perubahan hanya dapat dilakukan ketika nilainya lebih besar dari resistensi pihak-pihak terkait. Besaran perubahan merupakan faktor perkalian tiga fungsi yaitu rasa tidak nyaman, visi organisasi dan langkah kerja nyata.

Peran agen perubahan sangat penting. Agen harus bisa menularkan rasa tidak nyaman akan kondisi atau gejala menyimpang dari cita-cita kepada seluruh anggota timnya. Agen juga mampu untuk menyampaikan visi guna memperjelas capaian yang dikehendaki. Terakhir, agen harus punya rencana kerja yang diteruskan dengan langkah-langkah nyata. Melihat pentingnya peran sang Agen, maka mau tidak mau dia haruslah seorang pemimpin.

Mengembangkan Pemimpin

Aset utama organisasi adalah orang yang tepat. Jadi, orang yang tidak tepat bukanlah aset organisasi. Salah satu tanggung jawab pemimpin tim adalah memilih anggota yang tepat untuk setiap posisi. Selanjutnya dia bertanggungjawab mengembangkan anggotanya agar bisa melepaskan energi seoptimal mungkin.

Melalui pengembangan anggota tim, pemimpin saat ini dituntut untuk bisa menciptakan pemimpin lain. Bukan menciptakan pengikut. Organisasi hebat tidak pernah kekurangan pemimpin dari internal organisasi.

Idealnya, Rumah Zakat bisa membentuk organisasi dimana setiap amilnya memiliki gambaran bahwa dirinya adalah seorang CEO yang sedang menjalani persiapan. Misalnya sedang menjadi Relawan, Zisco, dan lain-lain.

Lingkungan yang selalu meningkatkan diri

Budaya organisasi untuk selalu meningkatkan diri harus dimulai dari paradigma setiap anggotanya. Misalkan, tidak mengenal kata ‘sempurna’ sehingga selalu ada tempat untuk peningkatan, selalu melihat langsung bagaimana organisasi berjalan dengan jujur dan rendah hati, serta selalu berusaha untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan.

Pemimpin bertanggung jawab menciptakan lingkungan kerja yang mengarahkan setiap anggota untuk berkonstribusi meningkatkan sistem organisasi melalui kegiatan identifikasi masalah, mencari tahu akar penyebab masalah, saling bertukar hasil pembelajaran (best practice dan lesson learned), serta kerapihan dokumentasi sebagai hasil peningkatan sistem sebagai catatan sejarah organisasi. Peningkatan sistem harus menjadi pusat kegiatan organisasi sehari-hari di setiap tingkatan, rendah sampai puncak.

Optimisasi Sistem

Perkembangan organisasi yang membesar (ditandai dengan bertambahnya cabang, varian produk dan proyek) memiliki beberapa potensi. Diantaranya adalah penambahan beban transfer informasi, menambah birokrasi, memperlambat waktu pengambilan keputusan, dan tumpang tindih wewenang. Tentu saja ini menjadi tantangan organisasi Rumah Zakat Indonesia di 2009 yang bisa dicegah dengan melakukan peningkatan sistem.

Peningkatan sistem menuntut optimisasi dari waktu ke waktu. Hanya saja seringkali kita salah melakukan optimisasi pada sistem yang belum stabil. Sehingga, hasilnya bukannya membaik malah memburuk. Syarat mutlak optimisasi ialah stabilitas. Stabilitas sistem dapat dicapai dengan menyusun ulang sistem dengan yang memiliki cirri-ciri, proses ‘bersih’, sederhana, dan aliran berulang.

Akhirnya jika Rumah Zakat Indonesia ingin menjadi organisasi yang hebat, maka diperlukanlah sebuah lingkungan dengan sistem yang stabil, didukung oleh anggota yang berkompeten, kondusif dalam menciptakan pemimpin, dan selalu berusaha belajar serta mengembangkan diri guna peningkatan sistem.

Selamat menyambut tahun-tahun yang lebih menantang dengan terus belajar memperbaiki diri. Wallahua’lam.***

 

 

Tags :
Konfirmasi Donasi