MOZAIK PANTAS DAPATKAN PREDIKAT KOPERASI BERKUALITAS

“Saya merasa bangga dengan Mozaik, karena di usianya yang masih Balita telah mampu menjalankan usahanya dan aktivitas koperasi yang rutin. Sehingga benar-benar menjadi koperasi yang berkualitas,” papar Kurnadi dari Dinas Koperasi Kota Bandung dihadapan peserta RAT Koperasi Mozaik pertengahan bulan Februari lalu di gedung Korpri Jl Turangga Bandung. Dia juga memaparkan bahwa jumlah koperasi di kota Bandung mencapai 300 buah dari yang terdaftar hampir 160 alias separuhnya koperasi vakum tanpa aktivitas.

Gambaran di atas setidaknya bisa jadi alasan pihak Rumah Zakat Indonesia sebagai lembaga yang memayungi serta membidani keberadaan Mozaik yang sampai detik ini masih berbadan hukum Koperasi untuk semakin termotivasi. Bukan hanya paparan dari pejabat Dinas Koperasi Bandung tersebut yang menjadi bahan pijakan Mozaik untuk beralih menjadi badan hukum BPR (Badan Perkreditan Rakyat) atau mungkin cikal bakal sebuah lembaga keuangan yang berbadan hukum perbankan yang akan berada di bawah kendali langsung Bank sentral (Bank Indonesia).

Pasalnya sampai hari ini Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Mozaik khususnya Bandung yang oleh Rumah Zakat Indonesia dijadikan pilot project percontohan sebelum membuka jaringan di daerah lain telah mampu memberdayakan pengusaha-pengusaha kecil dengan dana mencapai Rp. 2.600.000.000,-. Jumlah peminjam modal lebih dari 150 pengusaha yang sebagian besar bergerak di perdagangan kecil dan menempati kios-kios atau lapak di pasar tradisional.

Bantuan modal Rp. 2,6 Milyar disalurkan kepada pengusaha kecil yang dikelompokkan melalui program KUKMI (Kelompok Usaha Kecil Mandiri) dan tersebar di beberapa kecamatan sesuai dengan kawasan Intergrated Community Development (ICD) yang menjadi kawasan terpadu pemberdayaan masyarakat binaan Rumah Zakat Indonesia.

Ade Sarimanah (47) pedagang bahan pokok yang kesehariannya menempati ruang 2×2 di pasar tradisional kawasan Binong Jl. Gatot Soebroto ikut merasakan manfaat kehadiran Mozaik, dengan mendapatkan pinjaman sebesar Rp. 1.000.000,- dan sekarang mendapat kepercayaan dari Mozaik dengan kucuran bantuan modal meningkat menjadi Rp. 2.000.000,- barang dagangannya pun semakin hari semakin bertambah, semakin mendatangkan keuntungan. “Hal lain yang penting adalah harta yang didapat lebih barokah,” tutur ibu dengan 2 anak disela kesibukannya melayani pelanggan.

Lain lagi dengan Teti Royani (31) yang bersuamikan Doni Kusumanegara (37) setelah pertama kali mendapatkan dana bantuan modal sebesar Rp. 1.000.000,- untuk warung nasinya. Tidak lama kemudian pasangan yang mempunyai 4 anak diberikan kepercayaan untuk mengelola kucuran dana Rp. 4.000.000,- sehingga selain usaha warung nasinya yang semakin berkembang. Ia pun kini mempunyai 4 unit ”Play Station” beserta 4 unit televisinya, alhasil masyarakat di sekitar rumahnya yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh rajut banyak yang berminat mendatangi rumahnya untuk mencoba mencicipi masakan warung nasi sambil memainkan stik Play Stationnya. Bahkan pernah menurut Aris, Account Executive LKMS Mozaik kliennya pernah ditawari dana pinjaman sebesar Rp. 10.000.000,-. Namun ia menolak dengan alasan takut tidak amanah. “Hawatos teu kabayar (khawatir tidak terbayar),” ujar Doni sambil menyiapkan barang dagangannya.

Dana yang dikelola LKMS Mozaik berasal dari dana terikat yang diamanahkan kepada Rumah Zakat Indonesia sebagai lembaga yang menaunginya. Hal ini menjadikan proses pemberdayaan ekonomi yang melibatkan masyarakat menengah ke bawah ini memiliki tantangan tersendiri. Menurut Firman Nurdi selaku Manager LKMS Mozaik Bandung di sela aktivitasnya, Mozaik sekarang mampu memberikan Sisa Hasil Usaha dengan raihan sebesar Rp.206.900.000,-.

Perjalanan kelembagaan Mozaik yang baru sekitar satu tahun ini, proses edukasi terhadap pengusaha kecil yang terdaftar sebagai nasabah Mozaik untuk proaktif dalam pengembalian dana pinjamannya. Namun proses pembelajaran senantiasa mengarahkan tren perkembangan Mozaik, positif. Diharapkan pula perkembangan ini menjadikan Mozaik yang berbadan hukum Koperasi ini dapat betransformasi menjadi BPR. Lebih jauh lagi, bukan tidak mungkin dengan adanya sinergi dengan berbagai stakeholdernya dapat menjadi Bank komersial yang tetap mengedepankan kepentingan-kepentingan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.***

Newsroom/Alamsyah Nuruzzaman
Bandung

Tags :
Konfirmasi Donasi