Para imam mazhab dikenal sebagai sosok dengan integritas yang tinggi. Tidak sedikit diantara mereka yang merasakan kekejaman khalifah demi mempertahankan integritasnya. Mereka lebih memilih dinginnya jeruji penjara ketimbang mengikuti kezaliman penguasa.

Meski tetap menaruh hormat kepada sultan, para imam ini kerap menjaga jarak dengan kekuasaan. Salah satunya, kita bisa saksikan dalam nasihat Imam Abu Hanifah yang dikenal sebagai pendiri Mazhab Hanafi kepada muridnya Abu Yusuf yang diabadikan Syekh Mahmud Al Mishri dalam Sa’atan wa Sa’atin wa Nawadir wa ‘Ajaib.

“Wahai Yusuf, muliakanlah sultan, hormatilah kedudukannya. Jangan sekali-kali berdusta di hadapannya. Jangan  menemuinya setiap saat dan pada setiap keadaan jika engkau tidak ada kebutuhan yang bersifat keilmuan. Karena jika engkau terlalu sering menemuinya, ia akan menyepelekan dan mengecilkanmu. Kedudukanmu menjadi kecil di hadapan matanya.”

“Wahai Yusuf, bersikaplah engkau kepadanya sebagaimana sikapmu terhadap api. Engkau menggunakan manfaatnya namun engkau menjauhinya dan tidak mendekatinya karena engkau akan terbakar dan tersakiti. Karena sultan itu melihat dirinya tidak seperti orang lain memandang diri mereka. “

“Wahai Yusuf, hindari banyak bicara di hadapan orang yang posisinya dekat dengan sultan karena mereka akan memanfaatkan kekeliruanmu untuk menunjukkan kepada orang-orang yang ada di sekililingnya bahwa ia lebih berilmu dari dirimu. Dengan kekeliruanmu itu, engkau akan terlihat kerdil di hadapan orang banyak. Jika engkau menemui sultan, ketahuilah siapa dirimu dan siapa mereka yang ada di sekililingnya.”

Kisah ini menjadi gambaran betapa berharga izzah buat para pemilik ilmu. Bagi mereka, ilmu adalah cahaya. Cahaya yang dapat menunjukkan seseorang menuju jalan yang benar. Cahaya yang dibutuhkan semua lapisan orang tanpa membedakan  penguasa dan jelata.

sumber: republika.co.id