RAHASIA LAILATUL QADRWHY LAYLATUL QADR IS KEPT SECRET

Oleh: Haedar Nashir

Setiap Ramadhan tiba, senantiasa diperbincangkan tentang Lailatul Qadr. Malam kemuliaan yang selalu dirindukan dan diburu oleh setiap Muslim yang berpuasa di setiap tarikan napasnya.

Namun, ketika mencari makna dan sosok yang pasti tentang malam al-Qadr itu, termasuk kapan ia hadir, semuanya menjadi ranah misteri: Wallahu ‘alam. Insan beriman hanya berusaha memahaminya di atas keyakinan yang utuh bahwa malam yang disebutkan itu hadir adanya.

Allah pun melemparkan pertanyaan retoris sebagai wujud ketakverbalan mengenai kehadiran malam kemuliaan tersebut. Wama adraka ma lailat al-qadr? Tahukah kamu apa Lailatur Qadr itu?

Dalam Alquran, surah Al-Qadr: 1-5, Allah hanya memberi isyarat makna, “Lailat al-Qadr khairu min alfi syahr”, ia lebih baik dari seribu bulan. Di dalamnya turun malaikat dan ruh dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.

Malam itu penuh keselamatan sampai terbit fajar. Para mufasir banyak yang mengaitkan malam Al-Qadr sebagai “malam diturunkannya Alquran” itu dengan “malam penuh berkah” sebagaimana terkandung dalam surah Ad-Dukhan ayat 3-4.

“Sesungguhnya, Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu ditetapkan segala urusan bijaksana.”

Sayyid Qutb dengan indah menggoreskan tafsirnya mengenai malam al-Qadr itu. Pembicaraan dalam surah al-Qadr ini adalah tentang malam yang dijanjikan dan disaksikan serta dicatat oleh seluruh wujud dengan penuh kegembiraan, semangat, dan kekhusyukkan.

Malam perhubungan mutlak antara bumi dan alam tertinggi. Malam permulaan turunnya Alquran ke dalam hati Nabi Muhammad. Malam peristiwa agung yang bumi tidak pernah menyaksikan malam yang seperti itu dalam keagungan, petunjuk, dan dampaknya pada manusia.

Sayyid Qutb menyimpulkan, malam al-Qadr itu begitu agung. Cahaya fajar yang dikemukakan dalam nash surah ini, serasi dengan cahaya wahyu Ilahi dan cahaya malaikat, juga dengan ruh keislaman yang mengepakkan sayapnya ke seluruh semesta.

Pada malam al-Qadr itu dijelaskan segala urusan. Diletakkan nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan norma-norma. Ditetapkan kadar ukuran yang lebih besar daripada kadar perseorangan, yaitu kadar umat, negara, dan bangsa.

Bahkan, lebih banyak dan agung, yaitu kadar hakikat, peraturan, dan hati nurani. Kadang-kadang, karena kebodohan manusia, mereka lupa terhadap kadar kemuliaan malam itu, hakikat peristiwanya, dan keagungan perkaranya sehingga mereka kehilangan karunia Allah.

Lailatul Qadr berada dalam radar yang melampaui pengetahuan manusia, hatta untuk menentukan kapan malam itu tiba pada bulan Ramadhan. Hadis-hadis Nabi akhir zaman pun hanya memberi sejumlah isyarat hari, tetapi tidak memastikannya.

Karena itu, setiap Muslim yang berpuasa dan ingin meraih malam al-Qadr yang penuh kemuliaan, keberkahan, dan keagungan itu harus melakukan segala ibadah yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah dengan penuh ketaatan.

Jadikan malam al-Qadr yang penuh rahasia itu sebagai azam revolusi pencerahan diri selaku Muslim yang berperilaku mulia, agung, dan menyebarluaskan berkah kebajikan semesta. Jika perubahan perilaku itu dapat dipancarkan dalam kehidupan nyata di kala dan pasca-Ramadhan maka Muslim yang berpuasa hakikatnya telah meraih al-Qadr sebagai malam penuh cahaya keagungan, kemuliaan, dan keberkahan yang mencerahkan

Sumber: republika.co.id
RAHASIA LAILATUL QADR
“Why has Allah Subhanahu wa Ta’ala not informed His servants of an exact date, on which the Night of Power [Lailat al-Qadr] is certain to occur?”

Suppose someone raises the question: “Why has Allah Subhanahu wa Ta’ala not informed His servants of an exact date, on which the Night of Power [Lailat al-Qadr] is certain to occur, just as He has provided them with precise and unambiguous information concerning the night of the Day of Congregational Prayer [Lailat al-Juma]?”

The appropriate response will be to tell the questioner: “His purpose (Exalted is He) is to make sure that His servants do not take it for granted that they have performed good deeds on that particular night. Were it not for this element of uncertainty, they could make the claim:

‘We have performed good deeds on a night that is better than a thousand months, so Allah has granted us forgiveness, and in His sight we are now entitled to spiritual degrees and Gardens of Paradise.’ They might therefore abandon all further effort to do good works, and simply rest on their laurels. Having thus fallen prey to unduly optimistic expectation, they would then be doomed to perdition.”

It should also be noted that, as a similar measure of precaution, Allah Subhanahu wa Ta’ala (Almighty and Glorious is He) has refrained from informing His servants as to when their individual lifetimes are due to expire. Were it not so, a person with a long life still ahead of him could say: “I intend to give free rein to my carnal desires, indulging in all the pleasures this world has to offer, and enjoying its comforts to the full. Eventually, of course, when the expiration of my term draws near, I shall repent and devote myself to the worshipful service of my Lord. I shall then die as a penitent and reformed character.”

In actual fact, Allah Subhanahu wa Ta’ala (Exalted is He) has kept their appointed terms concealed from them, so they must always be cautious and wary of death. Under these circumstances, they have a permanent incentive to practice good conduct, to pursue repentance with dilgent perseverance, and to make constant efforts to improve their behavior. Death, whenever it comes to claim them, will therefore find them in a very good spiritual state. As well as receiving their allotted shares [aqsåm] of pleasure and sensual enjoyment in this world, they will be safely delivered from Allah Subhanahu wa Ta’ala’s torment in the hereafter, by the mercy [rahma] of Allah Subhanahu wa Ta’ala.

The following anonymous saying is also worth quoting:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala has concealed five things inside five:

(1) He has concealed Allah Subhanahu wa Ta’ala’a good pleasure inside worshipful acts of obedience.(ta’at)

(2) He has concealed His wrath inside sinful acts of disobedience (ma’asi)

(3) He has concealed the middle prayer (As Salawat Al-Wusta) among the other ritual prayers (salawat)

(4) He has concealed His saintly friend (Wali)among the rest of His creatures;

(5) He has concealed the Night of Power [Lailat al-Qadr] within the month of Ramadan.”

Source: http://www.yanabi.com/index.php?/topic/291864-why-exact-night-of-laylatul-qadr-is-kept-secret/

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia