RAMADHAN KOK BOROS?

Ramadhan bulan puasa atau bulan boros? Nah, pertanyaan ini kita sendiri yang punya jawabannya. Kalau akhir Ramadhan malah pusing gara-gara mikirin anggaran yang defisit, pasti jawabnya “Ramadhan bulan boros”. Aneh memang, mengingat seharusnya bulan tersebut membangun mental ekonomis kita. Berikut ada beberapa poin yang berkaitan dengan mengembalikan semangat ekonomis dan sosial Ramadhan serta hubungannya dengan “kantong” kita.

1.    Sunnah bukan mubah

Di dalam Ramadhan, hal-hal yang mubah pun terlarang di siang hari. Filosofi selalu menghindari yang mubah dan lebih mendahulukan yang sunnah dan wajib, sudah tergerus oleh logika zaman, logika masyarakat yang serba slebor. Nilai-nilai inilah yang dulu pernah ada pada para salafushalih dan mereka yang menjayakan Islam. Mereka memprioritaskan dengan skala sangat tinggi untuk hal-hal yang wajib dan sunnah. Sebaliknya, mereka menghindari sekuat-kuatnya hal-hal yang mubah dan makruh apalagi haram. Dalam logika mereka, setiap hal yang akan mereka lakukan senantiasa terencana dalam hitung-hitungan pertanyaan, “Apakah hal ini bermanfaat bagiku? Bagi dunia dan akhiratku? Bila bermanfaat maka dikerjakan, dan bila tidak akan membawa faedah maka takkan pernah dilaksanakan. Berbeda dengan logika kita kini yang malah sering kali bertanya, “Kalo ngerjain ini, dosa gak ya? Hingga akhirnya lebih dekat dengan kemudharatan dan terjauhkan dari faedah dan kemanfaatan.

Logika tersebut adalah logika kita sebagai muslim, yang bisa saja kita sebut dengan logika ekonomis dunia akhirat. Logika ini selalu mencari kemanfaatan baik untuk dunia, terlebih untuk akhirat. Lalu yang tidak akan memberikan manfaat maka tinggalkanlah. Memasuki Ramadhan, logika ini adalah basis kita berfikir dalam pengelolaan keuangan. Apakah mejeng di jalan ada manfaatnya bagi kita, apakah bermewah-mewah saat berbuka ada manfaatnya bagi kita, apakah kebut-kebutan setelah sholat subuh ada manfaatnya bagi kita? Tanyakanlah “apakah-apakah” lainnya yang akan kita lakukan di bulan Ramadhan ada manfaatnya bagi kita. Bila tidak ada, tinggalkan! Karena nafsu adalah tenaga yang bisa kita arahkan untuk kebaikan dan kemanfaatan atau keburukan dan kemudaratan.

2.    Rencanakan bukan dadakan

Di bulan Ramadhan hingga akhirnya perencanaan adalah hal yang sangat penting. Sebenarnya bukan hanya di bulan Ramadhan tetapi di setiap hari yang akan kita lalui, perencanaan adalah hal yang pertama dan utama. Khususnya di bulan yang istimewa ini, perencanaan bisa dikategorikan sebagai hal yang wajib kita lakukan. Perencanaan dalam aksi ibadah kita, perencanaan dalam mensikapi waktu waktu kerja kita yang kebanyakan tersesuaikan oleh kondisi di dalam Ramadhan, dan juga dalam bahasan ini adalah perencanaan keuangan kita. Skala prioritas harus hadir pada bagian awal perencanan keuangan bulan Ramadhan. Filosofi ekonomi dunia akhirat pada poin pertama adalah hal yang harus menjadi acuan. Bila logika tersebut diaplikasikan, sudah pasti, pada bulan Ramadhan, kita malah akan lebih bisa berhemat dan menabung lebih banyak. Hal ini akan sangat membantu menghemat anggaran pengeluaran dan bisa dialokasikan pada mata anggaran lainnya yang mungkin  kita munculkan pada Ramadhan ini. Mata anggaran tersebut bisa jadi anggaran untuk pulang kampung dan silaturahim, serta mata anggaran lainnya. Khusus untuk anggaran pulang kampung, sebaiknya sudah tersisihkan dari jauh jauh hari sebelum bulan Ramadhan. Namun, tetap saja semua mata anggaran tersebut harus berbasiskan pada pertanyaan “Adakah manfaatnya bagi dunia dan akhiratku?”

3.    Emas bukan uang

Bila penghematan terjadi bulan Ramadhan dan apalagi biasanya Tunjangan Hari Raya didapatkan, maka sebaiknya dana yang masuk segera ditabung, dan terencanakan terlebih dahulu sebelum habis tanpa faedah. Sebaik-baik alat untuk menabung adalah dengan membelikan dana yang disisihkan dan didapat dengan emas dan manyimpannya. Metode menabung emas terbukti lebih baik dari pada menabung dengan cara menyimpan uang. Apalagi dengan harga emas yang terus menerus naik, bahkan angka kenaikan bisa mencapai 10-20 persen pertahunnya. Hal ini juga bisa dilakukan untuk dana yang kita sisihkan tiap bulan untuk anggaran pulang kampung atau bahkan untuk segala macam mata tabungan yang kita lakukan.

4.    Zakat dan sedekah, bukan foya foya

Uang yang ditabung dan dihasilkan jangan sampai terlewat dari kewajiban berzakat. Walaupun bisa saja kita mengeluarkan zakat pada setiap bulan saat gajian (bagi kita yang gajian), sudah menjadi budaya para salafushalih untuk menghitung hitung semua komponen keuangan dan perdagangan yang mereka lakukan dan dapatkan selama setahun lalu. Perhitungan ini hanya untuk satu tujuan, yaitu tertunaikannya zakat dan sedekah sebelum akhir Ramadhan. Begitu pula kita seharusnya, maka mata anggaran yang paling atas dalam skala prioritas sudah seharusnya adalah zakat, infak dan shadaqoh kita yang wajib lebih banyak dari bulan bulan sebelumnya. Hingga dana yang sering kali terbuang tanpa makna diakhir Ramadhan, akan menjadi pohon kebaikan yang berbuah 700 kali lipat.

Demikian tulisan singkat tentang hal hal utama yang seharusnya diaplikasikan dalam tata kelola keuangan kita dan keluarga pada bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat.

Tags :
Konfirmasi Donasi