SAATNYA KITA MENATA DIRI

Oleh : Abu Syauqi


Ramadhan menjadi kesempatan kita mengkonsentrasikan lebih baik untuk ‘menengok’ jiwa spiritualitas kita yang barangkali lama tak disapa. Satu bulan sebenarnya tempo yang sangat pendek, buktinya kita kadang tak sadar kalau ternyata kita telah melewati beberapa hari atau pekan puasa. Rasanya biasa saja, fisik kita tak lagi menggelepar menahan lapar, puasa sudah melewati tahap biasa.

 

Katakanlah kita telah sanggup menata fisik kita untuk terbiasa menahan letih dan dahaga, sangat penting kiranya untuk memaksimalkan Ramadhan penuh berkah ini dengan program penataan diri yang lebih serius. Kebaikan memang harus dibiasakan. Layaknya ilmu manajemen, kita perlu menyiapkan perencanaan, pengorganisasian, implementasi dan evaluasi. Perencanaan diri ini sangat penting, karena logikanya tak ada evaluasi jika tanpa ada rencana. Saya selalu mengingatkan berulang kali di beberapa forum bahwa “Hidup ini harus direncanakan!” Mengapa? Karena membangun rumah saja harus digambar, kenapa kehidupan yg panjang ini tidak digambar? Karenanya mari manfaatkan di awal 10 hari pertama puasa ini untuk menyiapkan target-target pribadi termasuk mensinergikan rencana tersebut bersama keluarga juga mungkin lingkungan kerja kita.  

 

Lalu apa kuncinya?

Setiap kita bisa menyebutkan satu persatu formulanya, tapi ada satu yang cukup penting untuk program penataan diri ini. Kuncinya adalah penataan emosi. Dari pengalaman saya bergaul dengan banyak kalangan, melakukan refleksi atas setiap perjalanan baik pribadi maupun tokoh sejarah ternyata terungkap bahwa siapa yg susah mengendalikan emosinya, susah mengendalikan dirinya, uangnya, juga keluarganya.

 

Puasa juga menjadi media kita mengendalikan emosi, bukan hanya sekedar tak boleh mengumbar amarah tapi juga mengarahkan antena pikiran kita menuju pikiran-pikiran positif dan yang lebih penting adalah produktif. Tentu untuk bisa lebih optimal kita perlu bekal, dan bekal penting untuk semakin tertata diri kita, emosi kita dan produktivitas kita adalah dengan memiliki Wawasan yang Luas. Coba bayangkan kita mengambil keputusan tanpa dukungan informasi dan pengetahuan?  Tak hanya di dunia bisa-bisa kita juga celaka hingga alam pasca dunia!

 
Oleh sebab itu mari temani hidup kita dengan buku.
Biasakanlah membaca banyak hal. Kita harus mampu mengantisipasi, semua dengan bekal pengetahuan dan wawasan. Wawasan akan mendorong pada keberanian dan kita harus berani bereksperimen. Sebuah doktrin berlawanan terjadi di budaya kita dengan di Cina, dalam budaya kita sejak kecil diajarkan bahwa gagal itu aib, di Cina sebaliknya, setiap anak didorong justru untuk berani gagal agar bisa semakin tahu dan maju.

 
Semoga kita dikaruniai kesehatan, hidayah dan ilmu yang semakin bertambah untuk menyempurnakan ramadhan ini sebagai momentum memperbaiki dan menata diri kita lebih baik dari sebelumnya.

Wallahu a’lam bishshowab.

 

Tags :
Konfirmasi Donasi