SAKINAH SAJA DULU

oleh Rachmatullah Oky Raharjo

Pengamat Sosial

Lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor

 “Anakku, wong dadi manten kuwi pancen isine mung seneng. Nanging ojo ngasi sliramu malah seneng dadi manten”

(Anakku, orang menikah itu memang isinya cuma senang. Tapi jangan sampai kamu senang /hobi menikah)

Itulah petuah kakek tiga tahun yang lalu, di malam resepsi pernikahan saya. Sederhana sekali, bahkan sebagian hadirin jadi tersenyum mendengarnya. Lalu setelah mengarungi bahtera rumah tangga hampir 3 tahun lamanya, nasehat itu terasa mengena sekali saat ini. Bukan karena adanya keinginan untuk “seneng dadi manten”. Tapi adalah sebuah kenyataan bahwa memang memelihara sebuah pernikahan itu tidak semudah yang terlihat orang. Ibarat gunung, pernikahan itu sepertinya halus dan mulus bila terlihat dari jauh, tapi ternyata cukup terjal dan berliku ketika kita mendekatinya dan atau bahkan mendakinya.

Bagi anda yang sudah menikah, coba buka lagi undangan yang dulu disebarkan. Jika sudah hilang, coba ingat-ingat lagi ayat Al Quran apa yang tercantum sebagai sebuah kelaziman dalam sebuah undangan pernikahan? Saya yakin semua menjawab serempak, Ar-Rum ayat 21.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasanNya ialah diciptakanNya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikanNya kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaranNya bagi orang-orang yang berpikir”.

Betapa indahnya Allah memberi contoh kecil dari sekian tanda-tanda kekuasaanNya yang tersebar di seantero jagad raya. Allah telah menciptakan pasangan bagi masing-masing kita, dengan tujuan utama adalah litaskunuu atau mendapat ketenangan hati, ketentraman jiwa dan kesucian ruhani. Barulah tujuan kedua adalah terciptanya cinta dan kasih sayang di antara kita dan pasangan.

Ayat di atas itulah yang dijadikan landasan doa yang umum diucapkan kepada pengantin baru, “Semoga menjadi keluarga yang sakinah (tenang, tenteram), mawaddah (penuh cinta), warahmah ( penuh kasih sayang)”.

Kita yang sudah menikah sungguh ikhlas mengaminkan doa indah itu dalam hati. Tapi pernahkah kita mencoba berpikir sejenak, mengapa Allah meletakkan ketenangan dan ketenteraman hati sebagai tujuan utama menikah, baru kemudian adanya cinta dan kasih sayang di posisi kedua dan ketiga? Sehingga adanya cinta sejati seharusnya tumbuh setelah menikah dan bukan cinta berkalang nafsu sebelum menikah?

Sahabat Pejuang,

Allah adalah zat pemilik segala cinta. Dialah muara segala rindu. Allah jualah penguasa jiwa dan sayang di setiap hati kita. KepadaNya lah cinta sejati akan ditambatkan. Kepada Allahlah Rindu menggebu hendak terlabuhkan. Pernahkah antum merasa bahwa surat cintaNya begitu indah menyapa kita? Coba anda buka mushaf dan baca AyatNya yang pertama. Surat cinta yang berbalut Rindu mengharu biru itu Allah mulai dengan “BISMILLAHI AR-RAHMAN AR-RAHIM” (Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang)

Subhanallah, di antara 99 asmaNya yang agung, Allah telah memilih Ar-Rahman dan Ar-Rahiem sebagai pembuka surat cintaNya. Dua nama yang berhubungan dengan cinta. Betapa indah sapaan pertamaNya kepada kita. Allah sangat tahu, bahwa salah satu software yang dominan menguasai diri manusia adalah cinta. Maka, Dia memperkenalkan diri-Nya sebagai zat yang maha mencinta. Dan pada surat Ar-Rum di atas, Allah menjadikan pernikahan sebagai salah satu bukti kuasaNya atas cinta itu.

Pernikahan. Yah, prosesi sakral itu dimulai dengan akad nikah, sebuah penyampaian tantangan dari wali mempelai puteri kepada mempelai pria untuk alih tanggung jawab dalam mengasuh calon mempelai puteri. Kemudian hal itu disambut dengan ungkapan kesanggupan mempelai pria untuk menerima tantangan tersebut dengan menyiapkan mas kawin / mahar sebagai jawaban pertamanya.

Simpel memang. Tapi Islam menganggap hal itu sebagai sebuah prosesi yang sakral sekali. Agama menyebut peristiwa itu sebagai Fadlon Ghalidza (ikatan yang kokoh/kuat), dimana dalam sejarah umat manusia, ikatan itu hanya terjadi dua kali. Pertama ketika Nabi Musa menerima “Ten Commandements” dari Allah di lembah Tuwa, dan yang kedua adalah ketika akad nikah diucapkan oleh sepasang pengantin. MasyaAllah, prosesi sederhana nan simple itu dinilai sederajat dengan perjanjian Allah dan Nabi Musa.

Sungguh sebuah ikatan perjanjian yang kokoh. Jangan sampai dilanggar, jangan sampai terkhianati, sebab dari ikatan kokoh nan suci itulah, hal yang sebelumnya haram menjadi halal bahkan wajib. Yang sebelumnya berdosa menjadi berpahala. Dan yang sebelumnya dilarang sekarang diizinkan, bahkan diiringi dengan dengan untaian doa.

Lalu apakah berhenti sampai disitu? Ah, tentu saja tidak. Itu barulah awal mulanya. Selanjutnya, tentu saja perjuangan yang sesungguhnya. Hidup baru yang sesungguhnya, dan tak lagi menjadi raha semalam. Menikah pada hakekatnya bukanlah sekedar menyatukan dua hati anak manusia dalam mahligai rumah tangga. Tapi lebih dari itu, pernikahan adalah sinergi dua keluarga. Pernikahan adalah penyatuan dua hati, dua keluarga, dua budaya berbeda dan dua sifat yang tiada sama..Maka disinilah hikmah kenapa Allah meletakkan “sakinah” terlebih dahulu daripada “mawaddah wa rahmah”.

Sakinah adalah ketentraman. Sakinah adalah ketengan hati. Dan itulah tujuan utama pernikahan. Dua mempelai yang memiliki karakter berbeda, dan dari dua keluarga dengan adat dan budaya yang berbeda. Tentu perlu waktu untuk bisa saling memahami dan mengisi. Akan banyak kelemahan yang nampak dari masing-masing pasangannya setelah menikah. Segala kelebihan yang terlihat sebelum menikah, bisa jadi berganti dengan kebiasaan aslinya yang mungkin kurang berkenan.

Tentu saja, siapa sih yang mau tampil seadanya di depan calon suami/istrinya? Nah, sang suami mungkin bisa menerima kelemahan isterinya dan begitupun sebaliknya. Namun bagaimana dengan keluarga masing-masing? Bisakah juga menerima perbedaan budaya, tradisi dan kebiasaan itu?

Di sinilah perlu adanya kearifan untuk membangun keluarga sakinah itu. Al Quran dengan sangat indah menegaskan bahwa istri adalah pakaian dari suami dan demikian pula sebaliknya. Fungsi utama pakaian adalah menutup aurat yang mengartikan bahwa setiap suami adalah penutup aib istrinya dan seorang istri adalah penutup aib suaminya. Pantang bagi seorang suami/istri membuka aib pasangannya di depan orang lain, meskipun itu di depan keluarganya sendiri, sambil terus memperkenalkan adat dan budaya masing-masing untuk bisa saling mengerti dan memahami. Sehingga biarlah kesalah fahaman hanya milik berdua, asal keluarga masing-masing jangan sampai tahu. Karena memang begitulah yang diminta Allah, sebagai penutup aurat pasangan masing-masing.

Nah, fungsi pakaian yang kedua adalah sebagai hiasan. Memaknai bahwa sepasang pengantin adalah pantulan kepantasan pasangannya. Kalaulah istri senantiasa nampak gembira di mata keluarga dan tetangganya. Bukankah orang akan beranggapan bahwa keluarga itu adalah keluraga yang bahagia? Dan bukankah itu bisa menjadi doa buat kita? Maka hiasilah pasangan kita. Biarkanlah dia nampak cantik/tampan di mata keluarga. Sampaikanlah segala kebaikan dan sifat mulianya, dan tutuplah rapat-rapat segala aibnya. Itulah rintisan awal keluarga sakinah yang sesungguhnya.

Jika sakinah sudah berwujud. Maka cintapun pasti akan ikut. Bagaimana tidak? Setiap hari bertemu pandang, saling tersenyum dan menyapa riang, bertegur sapa dan saling menyayang, saling menutup aib dan mendendangkan keindahan. Saling memuji dan mengingatkan. Saling membantu dan memudahkan. Lalu apa alasan cinta tak tumbuh laksana cendawan di musim hujan? Dan inilah cinta yang menenteramkan. Cinta yang melanggengkan pernikahan. Cinta yang senantiasa mengantar setiap detik nafas dalam edaran darah menyatu padu dalam beningnya nuansa syahdu sucinya kalbu. Bersama dalam semangat tak jeda, dalam perjalanan menapak bumi, meniti jalan, menggapai dunia.

Dan kalaulah cinta sudah terbina, maka kelak kasih sayang juga akan senantiasa terjaga. Kasih sayang tidak akan bicara lagi cantiknya paras dan indahnya busana. Kasih sayang hanyalah melihat kebaikan dan kesetiaan semata. Sakinahlah yang membentuk, lalu cinta yang membina, dan kasih sayangpun akan mekar dengan indahnya. Seorang lelaki boleh saja mengalami puber kedua. Dia boleh merasa kembali muda, tapi pandanganya tidak akan pernah lengah dari istri tercinta. Bahkan jikalau ada yang sekalipun yang menggoda, hatinya akan kokoh terjaga. Dia sambil tersenyum akan berkata, “ Sekarang aku sudah memiliki harta, tentu banyak yang memuji dan banyak yang mau lagi menjadi istriku yang kedua atau ketiga. Tapi siapakah dulu yang mendampingku ketika aku tak punya apa-apa? Siapakah yang memberi semangat padaku ketika ada masalah di tempat kerja? Siapakah yang setia mengasuh buah hatiku ketika aku sedang sibuk bekerja? Siapakah yang rela menungguku pulang malam di samping pintu dan tetap menyiapkan hidangan bahkan ketika keletihan badanku menderita? Ah, jika jawabannya adalah istriku yang tercinta, lalu apa alasanku menduakan cintanya?”.

Subhanallah, indah nian Tuhan mengatur cintaNya, menebarkannya di setiap relung hati umatNya dan memberi petunjuk bagaimana memelihara untaian ayat-ayat cintaNya. Semoga kita bisa meletakkan cinta mulia itu di setiap nyala dan di hati kita. Menggapai sakinah, memetik mawaddah, dalam senandung indah nada-nada rindu penuh Rahmah.

Wallahu a’lam bis shawab

 

Tags :
Konfirmasi Donasi