SANG DERMAWAN YANG HATI-HATI

Oleh: Titin Titan

“Tidak seorang pun dari para sahabat Nabi yang lebih berhati-hati dalam menyampaikan hadits, tidak mau menambahi atau mengurangi sedikit pun, yang melebihi Abdullah bin Umar.”

Suatu hari di suatu tempat di Kota Mekah, unta yang ditunggangi oleh Abdullah bin Umar berhenti lalu memutar dua kali. Kemudian Abdullah bin Umar turun dan shalat dua rakaat. Hal tersebut ia lakukan semata-mata karena pernah melihat Rasulullah SAW melakukan hal serupa, meski saat itu ia tak tahu apa maksud dari beliau. Abdullah bin Umar adalah anak laki-laki Umar bin Khattab. Tentu saja perkenalannya dengan Rasulullah sudah berlangsung sejak kecil, bahkan di usia 13 tahun ia menyertai ayahandanya pergi ke Perang Badar, meski kemudian ditolak karena usianya yang masih terlalu kecil.

Abdulllah bin Umar memang terkenal sebagai pribadi yang sangat taat beribadah. Hatinya lembut, perangainya santun dan cintanya kepada Rasulullah Muhammad SAW begitu mendalam. Setelah Rasulullah wafat, apabila ia mendengar nama Rasulullah SAW disebut di hadapannya, ia menangis. Di manapun di Mekah atau Madinah, ketika ia melewati tempat yang pernah disinggahi Rasul, maka ia akan memejamkan matanya dan seketika buliran bening akan keluar dari kedua bola matanya.

Selain ketaatannya yang luar biasa, Abdullah bin Umar atau Ibn Umar juga sangat terkenal dengan sifat dermawannya. Ia begitu akrab dengan kaum dhuafa. Banyak orang fakir dan miskin duduk menunggu di tepi jalan yang diduga bakal dilewati Ibn Umar, dengan harapan mereka akan terlihat oleh Ibn Umar dan diajak ke rumahnya.

Ibn Umar jarang makan sendirian, ia sering mengundang anak yatim dan dhuafa untuk dijamu di rumahnya. Ia selalu mengundang orang-orang yang tepat dan memang membutuhkan. Bahkan Ibn Umar pernah menegur anak-anaknya yang mengundang kalangan hartawan untuk menghadiri jamuan makan di rumah mereka. “Kalian mengundang orang-orang yang dalam kekenyangan, dan kalian biarkan orang-orang kelaparan,” ungkapnya.
Pernah suatu hari Ayub ibn Wail Ar-Rasibi melihat Abdullah bin Umar tengah berutang untuk membeli makan bagi hewan tunggangannya. Ia pun penasaran, sehingga mencari tahu kepada keluarganya, kemana uang 4000 dirham juga sehelai baju dingin yang baru diterimanya.

“Ia telah membagikan-bagikan uang tersebut hingga habis dan baju dingin yang semula dipakainya pun telah diberikannya kepada orang miskin,” ujar keluarga Abdullah bin Umar.

Segera saja Ayub ibn Wail bergegas menuju pasar. Ia berdiri di tempat yang agak tinggi dan berteriak. “Hai kaum pedagang, apa yang Tuan-tuan lakukan terhadap dunia. Lihatlah Ibn Umar, datang kiriman kepadanya sebanyak empat ribu dirham, lalu dibagi-bagikannya hingga esok pagi ia membelikan hewan tunggangannya makanan secara berutang.”

Karena kehati-hatiannya pula Ibn Umar enggan dimintai fatwa ijtihad. Meskipun ia tahu persis, dalam ajaran Islam jika ijtihad itu salah akan tetep mendapat satu pahala, dan dua pahala bagi yang ijtihadnya benar. Ibn Umar begitu takut berbuat kesalahan, sehingga ia pun dengan tegas menolak jabatan sebagai kadi atau hakim yang diamanahkan oleh Khalifah Utsman r.a.

“Apakah antum tak hendak menaati perintahku?”

“Sama sekali tidak. Hanya yang saya tahu, hakim itu ada tiga macam: pertama hakim yang mengadili tanpa ilmu, maka ia dalam neraka; kedua, yang mengadili berdasarkan nafsu, ia pun dalam neraka; dan ketiga, yang berijtihad sedang ijtihadnya betul, maka ia dalam keadaan berimbang, tidak berdosa tapi tidak pula beroleh pahala. Dan saya atas nama Allah memohon kepada antum agar dibebaskan dari jabatan itu.” Ibn Umar bersikeras menolak jabatan empuk dalam pemerintahan tersebut

Ibn Umar tak pernah main-main dengan penolakannya. Ia juga tak akan rela jika jabatan kadi itu jatuh ke tangan yang salah. Dan penolakan itu sendiri sebenarnya karena Ibn Umar masih melihat di antara sahabat Rasulullah masih banyak yang shalih dan wara’ yang lebih pantas memegang jabatan itu.

Ibn Umar lahir di Mekah, 10 tahun sebelum hijrah atau 612 Masehi dan wafat dalam usia 84 tahun pada 72 Hijriyah. Sebagaimana ayahnya Umar bin Khattab, ia memegang erat keislamannya dari Rasul ada hingga tiada. Kalau Umar ibn Khattab hidup di suatu masa di mana banyak pula sahabat Rasulullah yang wara’ dan ahli ibadah, maka orang-orang semasa Abdullah ibn Umar mengatakan, zaman ketika Ibn Umar hidup, sulit menemukan sosok yang sealim dan seteguh dia.

Tags :
Konfirmasi Donasi