SEDEKAH, HARTA YANG BISA KITA BAWA MATI

[:ID]

Sahabat, seringkali kita mendengar pepatah kekayaan tidak akan dibawa mati. Pepatah tersebut sangat populer sehingga paradigma yang kemudian muncul adalah kita tidak perlu memiliki harta seakan-akan harta tidak diperlukan sama sekali karena tidak akan membawa kebaikan pada pemiliknya setelah meninggal.

Benarkah tidak ada kekayaan yang dibawa mati?

Jika kita pikirkan lebih dalam, sesungguhnya, ada kekayaan yang bisa kita bawa samapai mati. Bagaimana bisa?

Berikut ini apa yang seseorang dapat lakukan dengan kekayaannya:

1.Melakukan sedekah dengan kelebihan hartanya

2.Dapat menolong orang atau saudara yang sedang dalam kesulitan

3.Mewakafkan tanah yang dimilikinya untuk dijadikan tempat ibadah

4.Memelihara anak yatim

5.Menyantuni janda miskin

6.Mendanai pendidikan orang yang tidak mampu

7.Menyelamatkan aqidah rakyat miskin (kemiskinan dapat mendekatkan kepada kekufuran).

8.Mendanai pembangunan masjid dan rumah Quran

9.Membantu seseorang menunaikan kewajibannya sebagai muslim

Nah, banyak sekali bukan kebaikan yang dapat dilakukan dengan harta kekayaan. Bukankah hal itu akan menjadi kekayaan yang dibawa mati? Bukankah amalan-amalan tersebut akan memberikan pahala bagi pelakunya?

Bukankah ada kebaikan yang akan terus mengalir kepada pemiliknya sekalipun dia nantinya meninggal dunia?

Sahabat, janganlah kekayaan ditempatkan di dalam hati. Jadikanlah kekayaan menjadi jalan untuk menebar kebaikan dan jalan untuk meraih ridho-Nya.

“Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian hartamu yang Alla telah menjadikanmu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antaramu dan menafkahkan sebagian hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7)

IMAM Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa hakikatnya benda kita adalah milik Allah SWT. Kita sebagai hambanya tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhai. Semua hanya titipan, siapa saja yang menginfakkan hartanya dijalan Allah maka ia akan mendapatkan pahala yang berlimpah dan amat banyak.

Ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya harta kalian bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya. Karena itu, gunakanlah kesempatan yang ada di jalan yang benar, sebelum ia hilang dan berpindah kepada orang-orang setelah kalian.

Jadi, harta hanyalah titipan Ilahi. Jika harta yang dititipkan kepada kita Allah ambil, itu karena memang ia miliki-Nya. Tidak sepantasnya kita protes, mengeluh, tidak suka, karena pada hakikatnya kita ini fakir yang hanya dipinjami harta. Dan, sebaik-baik harta yang kita nafkahkan di jalan Allah, karena itu akan mendatangkan balasan kebaikan yang berlipat. Bahkan, harta yang kita nafkahkan di jalan Allah-lah yang merupakan harta kita yang sebenarnya.[:en]

Sahabat, seringkali kita mendengar pepatah kekayaan tidak akan dibawa mati. Pepatah tersebut sangat populer sehingga paradigma yang kemudian muncul adalah kita tidak perlu memiliki harta seakan-akan harta tidak diperlukan sama sekali karena tidak akan membawa kebaikan pada pemiliknya setelah meninggal.

Benarkah tidak ada kekayaan yang dibawa mati?

Jika kita pikirkan lebih dalam, sesungguhnya, ada kekayaan yang bisa kita bawa samapai mati. Bagaimana bisa?

Berikut ini apa yang seseorang dapat lakukan dengan kekayaannya:

1.Melakukan sedekah dengan kelebihan hartanya

2.Dapat menolong orang atau saudara yang sedang dalam kesulitan

3.Mewakafkan tanah yang dimilikinya untuk dijadikan tempat ibadah

4.Memelihara anak yatim

5.Menyantuni janda miskin

6.Mendanai pendidikan orang yang tidak mampu

7.Menyelamatkan aqidah rakyat miskin (kemiskinan dapat mendekatkan kepada kekufuran).

8.Mendanai pembangunan masjid dan rumah Quran

9.Membantu seseorang menunaikan kewajibannya sebagai muslim

Nah, banyak sekali bukan kebaikan yang dapat dilakukan dengan harta kekayaan. Bukankah hal itu akan menjadi kekayaan yang dibawa mati? Bukankah amalan-amalan tersebut akan memberikan pahala bagi pelakunya?

Bukankah ada kebaikan yang akan terus mengalir kepada pemiliknya sekalipun dia nantinya meninggal dunia?

Sahabat, janganlah kekayaan ditempatkan di dalam hati. Jadikanlah kekayaan menjadi jalan untuk menebar kebaikan dan jalan untuk meraih ridho-Nya.

“Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian hartamu yang Alla telah menjadikanmu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antaramu dan menafkahkan sebagian hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7)

IMAM Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa hakikatnya benda kita adalah milik Allah SWT. Kita sebagai hambanya tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhai. Semua hanya titipan, siapa saja yang menginfakkan hartanya dijalan Allah maka ia akan mendapatkan pahala yang berlimpah dan amat banyak.

Ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya harta kalian bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya. Karena itu, gunakanlah kesempatan yang ada di jalan yang benar, sebelum ia hilang dan berpindah kepada orang-orang setelah kalian.

Jadi, harta hanyalah titipan Ilahi. Jika harta yang dititipkan kepada kita Allah ambil, itu karena memang ia miliki-Nya. Tidak sepantasnya kita protes, mengeluh, tidak suka, karena pada hakikatnya kita ini fakir yang hanya dipinjami harta. Dan, sebaik-baik harta yang kita nafkahkan di jalan Allah, karena itu akan mendatangkan balasan kebaikan yang berlipat. Bahkan, harta yang kita nafkahkan di jalan Allah-lah yang merupakan harta kita yang sebenarnya.

Maka, mari perbanyak bersedekah.[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia