SETELAH RAMADHAN MANUSIA TERBAGI TIGA KELOMPOKFIVE GROUPS OF PEOPLE DURING RAMADAN

Oleh: Ahmad Agus Fitriawan

Sebagai seorang Muslim, kita patut sedih dan berat hati berpisah dengan bulan Ramadhan. Kita berharap dan berdoa agar amal ibadah kita diterima, istiqamah dalam ibadah dan amal saleh, dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan mendatang.

Berbagai keutamaan bulan Ramadhan telah memotivasi kita untuk meraihnya. Tidak mengherankan bila pada Ramadhan, masjid dan mushala penuh dengan jamaah shalat lima waktu, Tarawih, dan witir serta tadarus Alquran. Begitu pula, umat Islam berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan berinfak, bersedekah, dan lainnya.

Berakhirnya Ramadhan, menjadikan manusia terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, golongan yang tetap taat dalam kebenaran dan kebaikan. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai ghanimah rabbaniyah atau hadiah termahal dari Allah SWT untuk meraih takwa.

Kedua, golongan yang kembali kumat bakda Ramadhan. Inilah orang-orang yang dijajah oleh hawa nafsunya. Baginya, Ramadhan seperti obat nyamuk. Ketiga, golongan yang biasa-biasa saja, mau di bulan atau di luar Ramadhan, baginya sama saja, tak ada yang istimewa.

Golongan kedua dan ketiga, setali tiga uang. “Rugilah orang yang memasuki dan mengakhiri Ramadhan sementara dosanya tidak Allah ampuni.” (HR Tirmidzi). Ke mana pahala puasanya? Orang itu hanya kebagian haus dan lapar, hanya mendapat capai dan letih. Dan, inilah orang yang tekor, paling merugi tiada tara. (HR Nasa’i).

Golongan pertama ini, jika Ramadhan berlalu, berada di antara dua keadaan: antara khawatir dan harap. Khawatir jika umurnya tidak sampai ke Ramadhan berikutnya. Khawatir jika amalnya tidak bisa menebus dosa-dosanya. Dan, berharap semoga amal ibadah mereka diterima, dicatat sebagai amal saleh, dan keluar dari Ramadhan sebagai pemenang.

Sejatinya pasca Ramadhan, kita tetap istiqamah dan mampu serta terbiasa melakukan aktivitas ibadah dan amal saleh untuk hari-hari berikutnya selama 11 bulan. Sungguh Ramadhan telah memberikan pembelajaran terhadap kepribadian seorang Muslim untuk melahirkan insan yang bertakwa.

Di antaranya, pertama, semangat beribadah dan beramal saleh secara kualitas maupun kuantitas. Kedua, menjaga diri dari maksiat. Ramadhan lalu telah mengajarkan kepada kita bagaimana mengendalikan diri dan hawa nafsu lewat ibadah puasa.

Maka, sudah sepatutnya setelah Ramadhan kita mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan maksiat, baik berupa perkataan yang haram, seperti ghibah, mencaci maki, menghina, menipu, memfitnah, maupun perbuatan yang haram, seperti mencuri, merampok, mencopet, korupsi, memukul, membunuh, dan sebagainya. Dengan begitu, pasca-Ramadhan perilaku kita menjadi lebih baik.

Ketiga, suka membantu dan mencintai saudara seiman. Keempat, selalu menjaga shalat berjamaah di masjid atau mushala. Sejatinya semangat shalat berjamaah ini bisa dipertahankan dan dilanjutkan pada shalat lima waktu setelah Ramadhan.

Kelima, menjaga shalat sunah. Keenam, suka membaca Alquran. Sepeninggal Ramadhan, kita diharapkan terbiasa membaca Alquran dan berinteraksi dengannya pada setiap saat.

Semoga nuansa Ramadhan senantiasa membekas dan memancar dalam hidup dan kehidupan kita pada bulan-bulan di luar Ramadhan sehingga tujuan ibadah Ramadhan menjadikan manusia sebagai insan takwa terus terpelihara dengan baik. Amin.

Sumber: republika.co.id

Ramadan is the month of fasting, standing, generosity, self-evaluation, patience and the Qur’aan. Indeed there are many groups and paths regarding the month of Ramadan. Let’s see which group we belong to.

The first group:

is a group that sees Ramadan as a time of restrictions and preventions; a time of prohibitions from desires and lust. They do not comprehend the benefits of Ramadan. You will find them lazy and tired. They fast with great difficulties while continuing in backbiting, lying and other sins. They see the fast as nothing more than an obstacle in front of their desires.

As for the second group:

it is a group that sees the month of amadan as a month of food and drink. Most of their time is consumed going and coming from the grocery store purchasing food for themselves, families and guests. Ramadan doesn’t increase them except in appetite. We know that consuming lots of foods will cause fatigue and laziness. The worst thing that the sons of Adam can fill is their stomachs. In addition, some from amongst them actually gain weight in Ramadan.

As for the third group:

they know nothing of Ramadan except that it is obligatory. Neither the days nor the nights are spent in worship rather they might not even perform the five daily prayers. They awaken with Allah’s displeasure and sleep with Allah’s displeasure.

As for the fourth group:

it is a group who does not know Allah except and until the month of Ramadan. They attend the Jumu’ah prayer, frequent the Masjid and the women wear the hijaab for the duration of Ramadan. And when the month is over all of those good deeds come to end, that is until the next Ramadan.

As for the fifth group:

this group is a group who can not wait for the arrival of Ramadan. And when it comes they roll up their sleeves even more and they work as hard as they can. This month rejuvenates and strengthens them.

Source: http://haqislam.org/five-groups-of-people-during-ramadan/

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia