STATUS DARURAT ASAP DIPERPANJANG, WARGA PILIH MENGUNGSITHOUSANDS PEOPLE ARE FLEEING DUE TO EMERGENCY HAZE STATUS

RZ LDKO CilegonPEKANBARU. Seperti yang dilansir dari Okezone.com, bahwa Pemprov Riau menetapkan status darurat kabut asap diperpanjang. Ini disebabkan kondisi udara di Bumi Lancang Kuning -julukan Riau- tidak kunjung membaik. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman menyatakan, keputusan perpanjangan darurat asap tertuang dalam surat nomor kpts.1205/9/2015 pada Senin 28 September 2015.

“Setelah mengakaji keadaan Riau, maka kita memperpajang status darurat kabut asap lagi,” kata Plt Gubernur di Pekanbaru, Selasa (29/9/2015).

Pemda Riau sendiri sudah menetapkan darurat asap berdasarkan surat nomor kpts.1163/9/2015. Status dararat asap jilid I mulai 14 September 2015 sampai dengan Senin 28 September 2015. Sementara untuk status darurat asap jilid II juga akan berlaku selama 14 hari ke depan.

Hingga saat ini, kabut asap masih melumpuhkan aktivitas belajar mengajar dari tingkat PAUD sampai SMA. Bahkan terakhir, Universitas Riau (UR) juga sudah meliburkan ribuan mahasiswa. Saat ini ribuan warga sudah terpapar penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Atas kondisi tersebut, Warga Pekanbaru akhirnya ramai-ramai memilih mengungsi ke provinsi tetangga, Sumatera Barat. Dikutip dari Tempo.co, Indra salah seorang warga Pekanbaru mengaku sangat khawatir dengan kesehatan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar karena kabut asap yang mengepung daerah itu tidak kunjung usai. Terlebih kedua anaknya terpaksa tidak masuk sekolah menyusul kebijakan pemerintah Pekanbaru yang meliburkan aktivitas belajar untuk semua tingkatan sekolah. “Selagi masih libur sekolah, sebaiknya anak-anak saya evakuasi ke Padang,” ujarnya.

Kushandayani, juga warga Pekanbaru, mengungsikan tiga anaknya ke Padang. Yani, sapaannya, lebih khawatir terhadap kesehatan anak keduanya bernama Tasya, 14 tahun, yang memiliki riwayat penyakit gangguan pernapasan. “Sejak kabut asap ini, asma anak saya sering kambuh,” tuturnya.

Pemerintah Kota Pekanbaru tengah melakukan evakuasi warganya ke posko kesehatan. Wali Kota Pekanbaru Firdaus telah membuka kantornya untuk menampung warga yang terpapar asap. Tiga ruang kantor Wali Kota dijadikan tempat evakuasi yang dapat menampung 400 orang, yaitu ruang VIP, ruang makan, dan aula.

“Petugas kesehatan keliling kami tengah menjemput warga yang memiliki anak bayi dan ibu hamil untuk dievakuasi ke sini,” ucap Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Pekanbaru Zaini Rizaldy.

Melihat kondisi tersebut, RZ mengajak masyarakat Indonesia dan dunia untuk peduli atas musibah yang menimpa saudara kita di kepulauan Riau dengan turut berdonasi program Layanan Masker dan Oksigen senilai Rp. 275.000.- yang akan disalurkan di wilauah sekitar Pekanbaru, Palembang, Pontianak, Samarinda, Balikpapan dan Banjarmasin.***

Newsroom/Diki Taufik
Pekanbaru

RZ LDKO CilegonPEKANBARU. Thousands are fleeing Pekanbaru as the Pollutant Standards Index (PSI) in the Riau province capital, which is about 280km away from Singapore, surged to a record 984 yesterday.
Many have taken to the roads, trying to find their way north to neighbouring Medan, or west to Padang, to escape the thick haze that has rendered their hometown unliveable.

The exodus via land includes people who had initially planned to fly out of the city, after their flights were grounded owing to the poor visibility caused by the haze from forest fires in the provinces of Riau, Jambi and South Sumatra.

Pekanbaru resident Benny Sukma Negara said he hightailed for West Sumatra by car yesterday after the haze hit hazardous levels.

This despite efforts by the Indonesian emergency services to douse the blaze by air, after ground operations had failed to keep the fire from raging over the weekend.

“The haze has permeated into our house over the last three days and it’s getting worse,” said Mr Benny, a university lecturer. “We wore a mask even inside our home.”

According to Indonesia’s National Disaster Management Agency (BNPB), there were 1,143 hot spots in Sumatra as of 5am yesterday. These comprise 724 in South Sumatra, 234 in Jambi, 78 in Riau, 69 in Lampung, 25 in West Sumatra, and 13 in Bengkulu. In Kalimantan, there were 266 hot spots.

BNPB spokesman Sutopo Purwo Nugroho said the large number of hot spots is proof that the illegal burning of peatland has continued despite stepped-up enforcement.

Considering this poor condition, RZ invited Indonesian people and even the world to care about the condition of people in Riau by donating for high quality mask and oxygen for only 275.000 rupiah per package. It will be distributed in Pekanbaru, Palembang, Pontianak, Samarinda, Balikpapan dan Banjarmasin. ***

Newsroom/Diki Taufik
Pekanbaru

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia