STYLE MANAJEMEN KITA MIRIP PERUSAHAAN BESAR

Tanpa dukungan finansial yang memadai, Dompet Sosial Ummul Qura\\\’ (DSUQ) didirikan untuk menyantuni anak-anak yatim di tahun 1996. Abu Syauqi, sosok yang sangat berperan melahirkan lembaga tersebut meyakini bahwa modal otak jauh lebih penting dibanding uang. Dengan keyakinan yang sangat kuat, dia terus mengembangkan DSUQ.

Lewat DSUQ, Abu mendobrak tradisi manajerial yang selama ini berkembang di lembaga-lembaga Islam dan mengadopsi prinsip-prinsip manajemen modern. Abu juga giat menjalankan benchmarking untuk menyerap ilmu dari pola manajemen di perusahaan-perusahaan modern. Dia keliling ke Singapura, Turki, Belanda, Malaysia, juga beberapa negara lain untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengelola DSUQ. Pertumbuhan lembaga ini pun menjadi sangat pesat.

Pada 2003, DSUQ kemudian berubah nama menjadi Rumah Zakat Indonesia (RZI). Kini, RZI sudah memiliki 700 karyawan di 44 kantor jaringan di Indonesia.

Bagaimana Anda mengawal perjalanan DSUQ hingga menjadi RZI?
Dulu tahun 1996, Abu punya gagasan itu. Tapi, Abu  kan tidak punya modal, tidak punya koneksi media. Abu hanya punya koneksi otak saja. Otak ini yang sebenarnya bisa kita manfaatkan, karena dia memiliki kekuatan yang sangat spektakuler. Makanya Abu nyatakan bisa membantu anak miskin. Sebenarnya gagasan itu berawal dari sebuah hadits, \”Barang siapa bisa menyantuni tiga anak yatim maka pahalanya sama dengan orang jihad, puasa, dan tahajud seumur hidup. \”Dan kata Rasulullah SAW, \”Saya akan menjadi saudaranya di surga.\” Dari situ Abu ingin menyantuni anak yatim tapi kurang duit. Berarti menyantuni ini kan tidak harus uang sendiri. Dari situlah muncul DSUQ.

Waktu itu Abu membawa-bawa foto anak yatim, datanya, data kematian orang tuanya, lengkap. Itu Abu tawarkan ke teman-teman. Karena Abu suka ceramah, banyak pejabat, kawan dan segala macam. Waktu itu membawa 10 foto, dalam sehari habis diambil. Abu buat lagi 100 dan habis. Terus-menerus upaya ini dijalankan dan akhirnya berkembang.

Lama-lama yang datang ke DSUQ bukan hanya anak yatim tapi juga fakir miskin, orang yang terlilit utang, segala  macem . Maka kita berpikir untuk mengembangkannya menjadi lembaga sosial. Kita promosikan sebagai lembaga infak, zakat, dan sedekah. Sambutannya saat itu luar biasa. Tahun 2003 kita ubah menjadi RZI.

Dulu lembaga seperti ini dikelola dengan manajemen tradisional. Bagaimana Anda mendobrak tradisi itu?
Kita tetap tampil sebagai lembaga sosial, tapi  style manajemennya kita buat menjadi seperti perusahaan. Makanya Abu mengadakan  benchmark ke luar negeri, ke Singapura, Turki, Belanda. Ke perusahaan-perusahaan peraih profit di Indonesia maupun luar negeri. Saya diajari oleh konglomerat dari Singapura.  Saya  nggak pernah  benchmark ke lembaga Islam. Saya pilih perusahaan-perusahaan seperti Telkom, Indosat, Trans TV, bahkan tahun kemarin kita mengajukan ke Singapore Airlines untuk belajar pelayanan.

Ada alasan tertentu yang membuat Anda memilih lembaga selain Islam?
Karena selama ini perusahan-perusahaan itulah yang menonjol profesionalismenya. Hikmah itu  kan barang mukmin yang hilang. Kita harus mengambilnya dari siapa pun adanya.

Bagaimana respons lembaga-lembaga itu saat tahu ilmunya akan \’dicuri\’?
Mereka sangat bagus. Dari Telkom, dari Indosat, dari Adaro, dan banyak lagi. Mereka sangat membantu. Mereka bukan sekadar tahu kalau ilmunya akan dipakai untuk orang Islam. Mereka juga mengirimkan ahli-ahlinya untuk melatih kita. Abu pernah mendapat kiriman tiga doktor ahli riset yang datang ke sini untuk memberikan riset lengkap. Kalau kita harus bayar, itu mahal sekali. Contoh juga iklan Helmi Yahya. Itu seharusnya Rp 300 juta satu tahun. Tapi itu Abu tidak bayar. Itu makanya saya bilang agar lembaga Islam tidak tampil kumuh. Kita bisa tampil bagus, menarik, juga bersaing. Kita juga bisa bersaing dalam hal fasilitas, kesejahteraan kita juga tidak kalah.

Kita pasang  billboard di kota-kota yang ada kantor RZI, kecuali Bandung, itu gratis. Saya hanya manfaatkan lobi. Helmi Yahya, juga tidak dibayar sepeser pun karena pertemanan. Iklan di TV juga harganya sangat miring. Di  Republika juga banyak membantu. Jadi ini (sambil menunjuk kepala) yang lebih mahal.

Sampai sekarang masih muncul pertanyaan skeptis dari lembaga sejenis?
Masih banyak. Saya terangkan kepada teman-teman. Saya terangkan semuanya. Kita tidak mengambil lebih dari 12,5 %. Bahkan uang zakat itu kita hanya pakai 10,4 %. Tidak lebih dari itu.

Bagaimana Anda menularkan kreativitas di lingkungan RZI?
Kita membuat  human resource development (HRD). Nah, Abu  concern pada pendidikan manusia. Kami sewa para ahli di luar membangun HRD. Abu ajak eksekutif di sebuah perusahaan terkenal. Yang bersangkutan bersedia bukan karena uang, tapi lebih karena visi saya. Saya minta dia kelola HRD. Dari HRD inilah kita membuat pelatihan-pelatihan khusus. Kita juga kembangkan teknologi informasi. Saat ini, pukul 8.00 WIB, Abu bisa tahu karyawan di seluruh Indonesia yang terlambat masuk. Per detik uang yang masuk dan uang keluar, saya juga tahu.
 
Disiplin juga ditegakkan tidak main-main. Di Rumah Zakat, pegawai yang terlambat dipotong Rp 100.000,00. Terlambat satu detik saja, langsung dipotong. Kalau dewan direksi, terlambat satu detik saja dipotong Rp 750.000,00. Dari sini kita bisa berkembang terus. Ini membuat pertumbuhan Rumah Zakat spektakuler. Kita dipercaya di dalam dan di luar negeri. Sekarang ini warga dari Singapura, Jepang, Australia, Kanada, Belanda, dari Timur Tengah mempercayai kita. Ada yang perorangan, ada juga lembaga. Ada juga orang yang beragama shinto.
 
Dari Belgia ada juga warga yang mengumpulkan uang dari gereja-gereja, lalu dikirim ke kita. Tapi mayoritas dari umat Muslim. Kita bisa jaring mereka dengan macam-macam cara. Ada yang lewat internet, ada juga yang dulu kuliah di sini, terus kenal kita. Ada juga orang Sudan yang lama kuliah di sini sekarang membantu kita mengelola web. Jadi, kita bisa membangun lembaga multinasional.

Dulu kita kenal kornet qurban DSUQ, ada juga pola asuh anak yatim, dan sebagainya. Bagaimana Anda mengembangkan inovasi-inovasi itu?
Kornet qurban, awalnya saya melihat ibadah qurban itu hanya terjebak pada upacara. Sementara makna di balik upacara itu diabaikan. Saya melihat, ibadah-ibadah dalam Islam itu sangat produktif. Tapi kita kurang mengefektifkannya dan mengefisienkannya. Contoh, kita ada qurban, kita ada infaq, shodaqoh, bahkan kita ada wakaf yang di agama lain tidak ada. Itu dahsyat sekali. Di kita juga ada ekonomi Islam. Kan nggak ada asuransi Budha atau bank Hindu, dan sebagainya. Kita kelola daging qurban dengan dibuat kornet agar bisa membantu masyarakat di daerah terpencil. Mereka sangat senang. Semua inovasi yang muncul di sini adalah hasil kreativitas teman-teman di sini. Bukan cuma saya.

Dengan RZI, apakah Anda merasa mimpi Anda sudah tercapai?

Oh, ini baru mulai. Dalam 10 tahun ini kita baru membangun infrastruktur. Jadi dalam membangun Rumah Zakat ini, mobil Abu habis. Kadang tanah Abu dipakai juga. Jadi 10 tahun itu adalah tahun-tahun sulit. Kita baru mulai. Tapi kita masih harus malu karena ada Gramen Bank, ada juga NGO bernama Brac. Itu raksasa NGO yang membuat Bangladesh menjadi negara tercepat dalam pengentasan kemiskinan. Jadi, NGO-NGO itu bukan menggerogoti pemerintah, tapi membantu pemerintah. Jadi untuk Rumah Zakat itu baru mulai. Kita sedang berpikir apakah Rumah Zakat akan menjadi NGO atau bagaimana.

Anda memimpikan Rumah Zakat bakal seperti apa?
Kita ingin jadi NGO besar yang memberdayakan masyarakat dan bisa membantu pemerintah. Kami ingin menunjukkan bahwa NGO saja bisa membantu masyarakat, apalagi pemerintah. Saya tidak akan menggerogoti pemerintah.Berkali-kali ada dana APBD yang ditawarkan dalam jumlah besar. Tapi saya tolak. Saya takut nanti diperiksa KPK (sambil tertawa). Tapi itu betul, saya tolak. Bukannya saya tidak butuh. Tapi sekarang terlalu banyak orang saleh yang bersedia mempercayai kita.

Lembaga sejenis ini sangat mudah dipandang negatif. Bagaimana Anda menciptakan mekanisme kontrol?
Kita rutin diaudit akuntan publik. Hasilnya kita umumkan di koran. Silakan kalau mau digeledah. Bahkan kami sangat siap untuk menyesuaikan dengan pedoman standar akuntansi. Ini untuk menjawab keragu-raguan.

Untuk menciptakan sistem akuntansi seperti ini RZI perlu akuntan andal. Bagaimana Anda mendapatkannya?
Kita ambil dari universitas-universitas. Saat ini ada sekitar 30-an akuntan yang mendukung Rumah Zakat untuk memperbaiki sistem keuangan di kantor RZI di 44 kantor jaringan yang tersebar di 23 kota di Indonesia. Mereka masih muda-muda dari berbagai kampus.

Pernahkan Anda mengalami masa sangat berat?
Itu di awal-awal. Kita tidak punya uang. Saya dulu penceramah. Sebelum membangun DSUQ, sekali ceramah dikasih Rp 500.000,00. Setelah membuat DSUQ kan saya tinggakan ceramah. Waktu itu saya digaji DSUQ Rp 750.000,00 per bulan. Dulu DSUQ juga tidak ada mobil, jadi mobil saya dipakai operasional. Sampai saya pernah tidak memegang uang sepeser pun. Saya ditilang Rp 5.000,00 dan saya tidak sanggup membayarnya.

Apa yang memotivasi Anda untuk terus berjalan menghadapi kesulitan itu?
Saya hanya ingat satu nasihat dari orang tua. Kalau kamu menolong orang miskin, Allah yang akan menolongmu. Jadi ada saatnya Allah menolong saya. Dan itu benar. Kalau dalam usaha, saya sekarang ini sedang bagus-bagusnya. Krisis ini membuat saya lebih maju.

*Tulisan ini hasil wawancara dengan Irfan Junaidi dan Edi Yusuf,  dimuat di harian umum Republika, Senin 6 Juli 2009.

 

Tags :
Konfirmasi Donasi