[:ID]SYUKUR YANG MENGUBAH NASIB[:en]BEING GRATEFUL CHANGES FATE[:]

[:ID]Oleh: Nur Farida

Syukur dapat mengubah nasib seseorang, dari baik menjadi lebih baik dan dari buruk menjadi baik. Ketika seseorang mendapatkan nikmat, rezeki, kebaikan atau sejenisnya, ia bersyukur, maka Allah mengubah nasibnya dengan bertambahnya nikmat dari.

Pun ketika rezeki yang diharapkan seseorang belum didapatkan, atau ketika harapan, cita-cita, dan keinginan belum juga kesampaian, atau ketika ia didera hal yang ia anggap buruk, syukur bisa mengubah nasib buruk itu dan membaliknya.

Karena itu, Nabi menyuruh kita bersyukur dalam kondisi apa pun. Ketika melihat orang lain mengalami hal yang tak kita alami, misalnya, kita mesti bersyukur. Nabi mengatakan, “apabila seorang melihat orang cacat, lalu berkata (tanpa didengar oleh orang tadi), ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang diujikan Allah kepadanya dan melebihkan aku de ngan kelebihan sempurna atas kebanyakan makhluk- Nya,’ maka dia tidak akan terkena ujian se per ti itu betapapun keadaannya.” (HR Abu Dawud).

Pun ketika diri kita yang mengalami hal buruk, kita mesti tetap bersyukur. Nabi Ayub, misalnya, ketika diuji Allah dengan penyakit menahun yang berat, serta kehilangan anak-anak dan harta , beliau tetap sabar dan bersyukur dengan apa yang menimpa dirinya.

Bahkan, beliau selalu memuji Allah dalam kondisi yang sangat parah itu. Allah pun mengembalikan semua yang hilang dari sisi Nabi Ayub, bahkan memberikan yang lebih banyak daripada yang sebelumnya seperti ditegaskan Allah bahwa orang yang bersyukur pasti akan dilipatgandakan nikmatnya.

Orang yang tetap bersyukur ketika mendapatkan musibah dengan tetap memuji Allah dan tak pernah melupakan-Nya ditegaskan Nabi tak hanya akan mendapatkan balasan yang terbaik di dunia, tetapi juga di akhirat. Nabi mengatakan, “apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya para malaikat-Nya, ‘apakah kamu sudah mencabut ruh anak hamba-Ku?’

Mereka menjawab, ‘ya.’ Allah bertanya lagi, ‘apakah kamu sudah mengambil buah hatinya?’ Mereka menjawab, ‘ya.’ Allah bertanya lagi, ‘lalu, apa yang diucapkan hamba-Ku itu?’ Mereka menjawab, ‘ia memuji-Mu serta mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un).’ Allah lalu berfirman. ‘Dirikanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah dalam surga dan namakanlah rumah itu dengan sebutan Baitul Hamd (Rumah Pujian).'” (HR at-Tirmidzi).

Sedih dan gundah gulana ketika mengalami hal buruk dan menyakitkan adalah manusiawi. Nabi Yaqub yang kehilangan putranya, Yusuf, juga bersedih, bahkan kesedihan itu sampai membuat matanya buta. (QS Yusuf [12]: 84). Meski begitu, beliau tetap berdoa dan bersyukur atau memuji Allah. Pada akhirnya, ia bertemu kembali dengan putranya itu dan matanya kembali bisa melihat ketika mencium pakaian Yusuf (QS Yusuf [12]: 96).

Syukur adalah kunci untuk mengubah nasib kita menjadi lebih baik. Kita bersyukur ketika kita mendapatkan nikmat. Kita juga bersyukur ketika kita kehilangan nikmat atau sesuatu yang sangat berharga dari dalam kehidupan kita. Dengan syukur, nikmat yang sudah ada akan ditambah oleh Allah. (QS Ibrahim [14]: 7). Dengan¬†syukur¬†pula, segala ujian, cobaan, musibah, dan hal-hal yang menyakitkan kita akan segera diganti oleh Allah dengan yang sebaliknya. Syukur sendiri, seperti ditegaskan Nabi, adalah setengah dari iman, “Iman terbagi dua; setengahnya dalam sabar dan setengahnya lagi dalam syukur.” (HR al- Baihaqi). Wallahu a’lam.

sumber: republika.co.id[:en]

By: Nur Farida

Gratitude and being thankful can change one’s destiny, from good to better and from bad to good. When someone gets a favor, fortune, kindness or the like, he is grateful, then Allah changes his destiny by increasing the favor.

Even when the sustenance that a person has hoped for has not been obtained, or when hopes, ideals, and desires have not yet been accomplished, or when one is faced with something they thought is bad, being thankful could change that bad luck and turn it over.

Therefore, the Prophet (PBUH) told us to be grateful in any condition. When we see other people experiencing things that we do not experience, for example, we must be grateful. The Prophet said, “if someone sees a crippled person, then says (without being heard by that person), ‘Praise be to Allah for saving me from what Allah has tested him and given me more perfect advantages over most of His creatures,’ then he would not be subjected to such a test no matter what circumstances.” (HR Abu Dawud).

Even when we experience something bad, we must remain grateful. The Prophet Ayub, for example, when he was tested by Allah with severe chronic illnesses and the loss of children and property, he remained patient and grateful for what happened to him.

In fact, he always praised Allah in that very severe condition. Allah also returned all that was lost from the side of Prophet Ayub, even giving more than before as asserted by Allah that people who are grateful will surely have their blessings multiplied.

People who remain grateful when they get a disaster by continuing to praise Allah and never forgetting Him was confirmed by the Prophet not only will get the best reply in the world, but also in the hereafter. The Prophet said, “When the son of a servant dies, Allah asks His angels, ‘Have you taken away the spirit of my servant’s son?’

They answered, ‘Yes.’ Allah asked again, ‘have you taken the baby?’ They answered, “yes.” Allah asked again, ‘Then what did my servant say?’ They answered, ‘He praised you and uttered istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). ‘ Allah then said, ‘Set up for my servant a house in heaven and call it the house called Baitul Hamd (House of Praise).’ “(HR At-Tirmidhi).

Being sad and depressed when experiencing bad and painful things are characteristics of being human. The Prophet Yaqub who lost his son, Joseph, was also sad, even the sadness made his eyes blind. (Surah Yusuf [12]: 84). Even so, he continued to pray and give thanks and praise Allah. In the end, he met his son again and his eyes could see again when he kissed Yusuf’s clothes (QS Yusuf [12]: 96).

Gratitude is the key to changing our destiny for the better. We are grateful when we get a favor. We are also grateful when we lose favor or something very valuable in our lives. With gratitude, the blessings that already exist will be added by Allah. (Surah Ibrahim [14]: 7). With gratitude too, all tests, trials, calamities, and things that hurt us will soon be replaced by Allah with the opposite. Gratitude itself, as the Prophet emphasized, is half of faith, “Faith is divided in half; half is in patience and half is in gratitude.” (HR al-Baihaqi). Wallahu a’lam.

Source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia