TANGISAN ORANG KAYA

OLEH IMAM NAWAWI

Dari Sa’ad bin Ibrahim, dari bapaknya (Ibrahim), ia berkata, “Abdurrahman bin Auf RA pernah disuguhi makanan, sedangkan kala itu ia tengah berpuasa. Abdurrahman bin Auf berkata, ‘Mush’ab bin Umair telah terbunuh (mati syahid), dan ia lebih baik dariku. Namun, ia hanya dikafankan dengan sehelai kain yang apabila ditutupi bagian kepalanya, maka bagian kakinya terlihat, dan apabila ditutupi di bagian kakinya, maka bagian kepalanya terlihat’.”

Abdurrahman bin Auf kemudian berkata, ‘Hamzah telah terbunuh dan ia lebih baik dariku. Kemudian, kehidupan dunia dilapangkan untuk kita sedemikian rupa’. Lantas Abdurrahman bin Auf berkata, ‘Kami telah diberikan bagian dari kehidupan dunia, sebagaimana yang telah kami terima dan kami benar-benar takut apabila kebaikan-kebaikan kami dibalas di dunia (sehingga ia tidak tersisa lagi di akhirat)’, kemudian Abdurrahman bin Auf pun menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari).

Pertanyaannya, mengapa Abdurrahman bin Auf menangis dan tidak berkenan makan kala teringat sahabat-sahabatnya yang gugur di jalan Allah? Sebab, di hadapan Allah, kemuliaan seorang Muslim hanya kala dirinya bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan hati yang selamat.

Sedangkan, kekayaan yang dimiliki oleh Abdurrahman bin Auf jika tidak benar-benar dibelanjakan sebagaimana perintah Allah, alamat keburukan akan menimpa dirinya baik di dunia maupun di akhirat.

Orang kaya yang bertakwa akan terus menghitung hartanya untuk dibagikan kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta, dan itu terus dilakukan, baik kala lapang maupun sempit. Tidak sempat lagi dirinya berpikir kapan berpesta, kapan hura-hura, apalagi sampai melalaikan orang-orang yang syariat memerintahkan dirinya untuk peduli.

Kerisauan dirinya hanyalah soal takwa dalam dirinya. Sebab Allah telah menegaskan bahwa sebaik-baik pakaian adalah takwa. Jadi, tidak ada perkara paling penting bagi insan yang dianugerai kekayaan selain berpikir bagaimana kualitas takwa dalam dirinya. “Dan pakaian takwa itu adalah sebaik-baik pakaian.” (QS. Al-A’raf [8]: 26).

Orang-orang kaya setelah kepergian Abdurrahman bin Auf dapat belajar dan meneladani sikap hati-hati tersebut. Rasulullah SAW pun tidak melarang umatnya menjadi manusia-manusia yang kaya.

“Tidak masalah memiliki kekayaan bagi orang yang bertakwa kepada Allah. Sementara kesehatan bagi orang yang bertakwa kepada Allah, lebih baik dari pada kekayaan. Dan jiwa yang tenang termasuk kenikmatan. (HR. Ahmad).

sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia