TANYA JAWAB SEPUTAR SYARIATUL QURBAN

Oleh Ustadz Rachmatullah Oky Raharjo

Berikut ini beberapa hal mengenai Qurban yang sering ditanyakan dalam masyarakat. Ini juga merupakan ringkasan muatan buku Qurban Kontemporer yang saat ini tengah memasuki proses editing.

1. Hukum Menyembelih Qurban

Para Ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Sedangkan menurut pendapat yang kuat hukumnya adalah wajib bagi yang memiliki kemampuan (Ahkamul Iedain hal. 26). Di antara hadits yang dijadikan dalil bagi ulama yang mewajibkan adalah:

\\\”Dari Abi Hurairah radliyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam bersabda: \\\”Barang siapa memiliki kelapangan (kemampuan) kemudian tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat Ied kami.\\\” (HR. Ahmad, Ibnu Majah,Ad-Daruqutni, Al-Hakim, sanadnya hasan, lihat Ahkamul Iedain hal. 26).

Dari hadits di atas diterangkan bahwa Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam melarang untuk mendekati tempat shalat Ied bagi orang yang memiliki kemampuan akan tetapi tidak berqurban. Hal itu menunjukkan bahwasanya dia telah meninggalkan suatu kewajiban yang seakan-akan tidak ada manfaatnya, bertaqarrub kepada Allah dengan dia meninggalkan kewajiban itu (Subulus Salam 4/169).

2. Waktu Menyembelih

Hewan kurban disembelih setelah selesai shalat Ied. Dalilnya: Dari Barra bin Azib radiallahuanhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam bersabda: \\\”Sesungguhnya perkara yang pertama kita mulai pada hari ini adalah kita shalat kemudian menyembelih. Maka barang siapa yang melakukan hal itu, dia telah mendapatkan sunnah kami. Dan barang siapa yang telah menyembelih (sebelum shalat -pent.), maka sesungguhnya sembelihan itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.\\\” (HR. Muslim no. 1961)

Diperbolehkan untuk mengakhirkan penyembelihan, yaitu menyembelih pada hari kedua dan ketiga setelah hari Ied. Sebagaimana diterangkan dalam hadits:

\\\”Dari Nabi shallallahu \\\’ alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: \\\”Setiap hari tasyriq ada sembelihan\\\” (HR. Ahmad 4/8 dari Jubair bin Muthim radhiallahu anhu, dan dihasankan oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dalam Ahkamul iedain).

Berkata Ibnul Qayyim: \\\”(Kebolehan menyembelih di hari-hari tasyriq) adalah pendapat Imam Ahmad, Malik, Abu Hanifah rahimahumullah.\\\”

Imam Ahmad berkata: \\\”Ini adalah pendapat lebih dari satu shahabat Muhammad shallallahu \\\’ alaihi wasallam, dan Al-Atsram menyebutkan diantaranya: Ibnu Umar, Ibnu Abas radiallahu anhum.\\\” (Zadul Maad 2/319).

3. Tempat Menyembelih

Dalam rangka menampakkan syiar Islam dan kaum muslimin,disunnahkan menyembelih di lapangan tempat shalat Ied. Dalilnya:

\\\”Dari Ibnu Umar radliyallahu anhu dari Nabi shallallahu \\\’ alaihi wasallam: bahwasanya beliau menyembelih (kibas dan unta) dilapangan Ied.\\\” (HR. Bukhari no. 5552 dalam Fathul Bari).

4. Larangan Memotong Rambut dan Kuku

Barang siapa hendak berqurban, tidak diperbolehkan bagi dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun, setelah masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga shalat Ied. Dalilnya:

\\\”Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam bersabda: \\\”Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong -pent.) rambut dan kukunya.\\\” (HR. Muslim No. 1977).

Imam Nawawi berkata: \\\”Maksud larangan tersebut adalah dilarang memotong kuku dengan gunting dan semacamnya, memotong rambut; baik gundul, memendekkan rambut, mencabutnya, membakarnya atau selain itu. Dan termasuk dalam hal ini, memotong bulu ketiak, kumis, kemaluan dan bulu lainnya yang ada di badan (Syarah Muslim 13/138).\\\”

Berkata Ibnu Qudamah: \\\”Siapa yang melanggar larangan tersebut hendaknya minta ampun kepada Allah dan tidak ada fidyah (tebusan) baginya, baik dilakukan sengaja atau lupa\\\” (Al-Mughni11/96).

Dari keterangan di atas maka larangan tersebut menunjukkan haram. Demikian pendapat Said bin Musayyib, Rabiah, Ahmad, Ishaq, Daud dan sebagian Madzhab Syafiiyah. Dan hal itu dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar juz 5 hal. 112 dan Syaikh Ali hasan dalam Ahkamul Iedain hal. 74.

5. Jenis Sembelihan

\\\”Dari Jabir, berkata: Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam bersabda: \\\”Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, akan tetapi jika kalian merasa berat hendaklah menyembelih jazaah.\\\” (HR. Muslim 6/72 dan Abu Daud 2797).

Syaikh Al-Albani menerangkan:

• Musinnah yaitu jenis unta, sapi dan kambing atau kibas. Umur kambing adalah ketika masuk tahun ketiga, sedangkan unta, masuk tahun keenam.

• Jazaah yaitu kambing atau kibas yang berumur setahun pas menurut pendapat jumhur ulama (Silsilah Ad-Dlaifah 1/160).

Dan yang terbaik dari jenis sembelihan tadi adalah kibas (domba) jantan bertanduk bagus, warna putih bercampur hitam di sekitar mata dan kakinya. Yang demikian karena termasuk sifat-sifat yang disunnahkan Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam dan beliau menyembelih hewan yang memiliki sifat tersebut.

\\\”Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam memerintahkan menyembelih kibas yang bertanduk baik, dan sekitar kaki, perut dan matanya berwarna hitam. Kemudian didatangkan kepada beliau, lalu disembelih.\\\” (HR. Abu Daud, dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 2423)

6. Hewan kurban Tidak Cacat

Termasuk tuntunan Nabi shallallahu \\\’ alaihi wasallam yaitu memilih hewan yang selamat dari cacat dan memilih yang terbaik. Beliau melarang menyembelih hewan yang terputus telinganya, terpecah tanduknya, matanya pece, terputus bagian depan atau belakang telinganya, terbelah atau terkoyak telinganya. Adapun kibas yang dikebiri boleh untuk disembelih. (Ahkamul Iedain hal. 75)

Aib yang menjadikan hewan terlarang untuk di qurban

1. Buta sebelah atau kedua matanya

2. Pincang salah satu kakinya

3. Sakit parah/berbahaya

4. Kurus yang sedikit dagingnya.

5. Terpotong kuping dan buntutnya.

Sedangkan yang tidak ada tanduknya dan yang sudah dikebiri DIBOLEHKAN karena keduanya membuat daging hewan tersebut menjadi subur.

7. Boleh Berserikat

Satu ekor hewan kurban boleh diniatkan pahalanya untuk dirinya dan keluarganya meskipun dalam jumlah yang banyak.

Dalilnya: \\\”Berkata Atha bin Yasar: Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari, bagaimana sifat sembelihan di masa Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam, beliau menjawab: \\\”Jika seseorang berkurban seekor kambing, maka untuk dia dan keluarganya. Kemudian mereka makan dan memberi makan dari kurban tersebut.\\\” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Malik, Al-Baihaqi dan sanadnya hasan, lihat Ahkamul Iedain hal. 76).

\\\”Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan kemudian tiba hari Ied. Maka kami berserikat tujuh orang pada seekor sapi dan sepuluh orang pada seekor unta.\\\” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1213).

9. Cara Menyembelih

Menyembelih dengan pisau yang tajam, mengucapkan \\\”bismillah wallahu akbar\\\” (dengan nama Allah dan Allah Maha Besar), membaringkan sembelihan pada sisi kirinya karena yang demikian mudah bagi si penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya, dan menahan lehernya dengan tangan kiri. Dalilnya:

\\\”Dari Anas bin Malik, dia berkata: Bahwasanya Nabi shallallahu \\\’ alaihi wasallam menyembelih dua ekor kibasnya yang bagus dan bertanduk. Beliau mengucapkan basmallah dan takbir dan meletakkan kakinya di samping lehernya.\\\” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya).

Dan disunnahkan bagi yang berkorban, memotong sendiri sembelihannya atau mewakilkan kepada orang lain (Ahkamul Iedain hal. 77).

10. Membagikan Daging kurban

Bagi yang menyembelih disunnahkan makan daging qurbannya, menghadiahkan karib kerabatnya, bershadaqah pada fakir miskin, dan menyimpannya untuk perbekalan lebih dari 3 hari. Nabi shallallahu \\\’ alaihi wasallam bersabda: \\\”Makanlah, simpanlah untuk perbekalan dan bershadaqahlah.\\\” (HR.Bukhari Muslim).

Daging sembelihan, kulitnya, rambutnya dan yang bermanfaat dari kurban tersebut tidak boleh diperjualbelikan menurut pendapat jumhur ulama, dan seorang tukang sembelih tidak mendapatkan daging kurban. Tetapi yang dia dapatkan hanyalah upah dari yang berkurban. Dalilnya:

\\\”Dari Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam memerintahkan aku untuk menyembelih hewan kurbannya dan membagi-bagi dagingnya, kulitnya, dan alat-alat untuk melindungi tubuhnya, dan tidak memberi tukang potong sedikitpun dari kurban tersebut.\\\” (HR. Bukhari Muslim).

11. Bagi Yang Tidak Berkurban

Kaum muslimin yang tidak mampu untuk berkorban, mereka akan mendapatkan pahala seperti halnya orang yang berkorban dari umat Muhammad shallallahu \\\’ alaihi wasallam. Hal ini diterangkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah shallallahu \\\’ alaihi wasallam bersabda: \\\”Bismillah Wallahu Akbar, ini (kurban) dariku dan dari umatku yang tidak menyembelih.\\\” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no. 2436).

Hukum Daging Qurban

1. Diperkenankan bagi yang berqurban untuk makan daging hewan qurbannya dan menyimpannya.\\\”Makanlah, berilah makan dan simpanlah.\\\” (HR. Bukhori dan Muslim)

2. Dianjurkan dalam pembagian dagingnya sebagai berikut : sepertiga untuk dimakan/disimpan, sepertiga untuk di hadiahkan dan sepertiga untuk dishodaqohkan.\\\”Dan hendaknya diberikan kepada keluarganya sepertiga, tetangganya yang miskin sepertiga dan dishodaqohkan kepada yang meminta sepertiga.\\\” (HR. Hafidz Abu Musa)

3. Tidak diperkenankan untuk menjual kulitnya.\\\”Barang siapa menjual kulit qurban maka tidaklah sah qurbannya.\\\” (HR.Hakim dan Baihaqi)

4. Tidak diperkenankan untuk membayar penyembelih dengan daging qurban atau kulitnya.\\\”Berkata Ali bin Abi Tholib : Aku diperintahkan Rasulullah saw untuk mengurus qurbannya dan membagi kulitnya… dan aku dilarang untuk memberi penyembelih sebagian darinya sebagai upah\\\”, beliau melanjutkan : \\\”kami memberinya dari bagian kami. \\\” (HR. Bukhari dan Muslim)

KURBAN PATUNGAN

Hukum patungan berqurban menurut pendapat mayoritas ahli fiqih (fuqaha) bahwa seekor kambing dan sejenisnya tidak boleh dijadikan qurban kecuali untuk satu orang, sementara seekor unta atau seekor sapi boleh dijadikan qurban untuk tujuh orang.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Jabir ra: \\\”Kami berqurban bersama Rasulullah saw. pada peristiwa Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.\\\” (HR.Jama\\\’ah).

Namun menurut ulama dari kalangan mazhab Hanbali, Maliki dan Syafi\\\’I DIBOLEHKAN untuk berkorban seekor kambing atau seekor unta atau seekor sapi untuk seorang beserta anggota keluargaanya berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra. bahwa \\\”Nabi saw berqurban dengan satu kambing kibas dengan niat untuk Muhammad, Keluarga Muhammmad…\\\” (HR. Muslim)

Ibnu Majah meriwayatakan dari Abu Ayyub bahwa seseorang pada zaman Nabi saw berqurban dengan satu kambing kibas atas nama dirinya dan keluarganya, lalu mereka memakannya dan membagi-bagikannya….\\\”

Namun demikian disyaratkan bagi yang diatasnamakan tersebut harus memenuhi tiga syarat yaitu: keluarga dekat, termasuk tanggungannya dan bertempat tinggal bersamanya.

Jadi, bila patungan dengan teman-teman untuk menyembelih satu ekor kambing atas nama mereka semua tidak dibolehkan. Namun sebaiknya dibuat semacam arisan qurban dan digilir setiap tahun anggota patungan atau arisan yang diatas namakannya. Sementara orang-orang yang belum mendapatkan giliran atas nama qurban tetap mendapatkan pahala dalam konteks ta\\\’awun ‘ala birri wat taqwa (bertolong menolong dalam kebajikan dan ketakwaan) meskipun tidak jatuh untuknya pahala sunnah qurban tersebut kecuali bagi yang diatasnamana untuknya.

Sebenarnya substansi syariat qurban adalah memberikan dan mengurbankan seseuatu yang kita miliki semampu kita kepada lingkungan dan kaum yang memerlukan. Dengan demikian semangat qurban ini yang harus tetap dijalankan sehingga Bilal bin Rabah dan Abu Hurairah serta beberapa sahabat terpaksa hanya mampu berqurban ayam untuk ikut bersedekah qurban untuk menyatakan ketakwaaan kepada Allah SWT sebagaimana diriwayatkan Imam Ash-Shan\\\’ani dalam kitab Subulus Salam (IV/179) Demikian pula sahabat muda Ibnu ‘Abbas pernah ketika dating hari raya qurban memerintahkan kepada pelayannya untuk membelikan daging dengan dua keping dirham serta membagikannya kepada masyarakat dengan memberitahukan hal itu sebagai qurban Ibnu ‘Abbas.

Allah SWT berfirman: \\\”Allah tidak akan menerima daging dan darah qurban, melainkan Allah akan menerima ketakwaan dari kalian.\\\” (QS. Al-Hajj:37)

Wallahu A\\\’lam Bi As-Showab

 

 

 

Tags :
Konfirmasi Donasi