Tips Orang Tua Menghadapi Anak Remajanya

Oleh: Vindhy Fitrianti, S.Psi

Fase remaja adalah salah satu periode perkembangan yang hampir sama seperti periode perkembangan fase balita. Hal apa yang menjadikannya sama? Yang sama adalah, masing-masing memiliki karakteristik. Karakteristik ini yang sama-sama perlu kita pahami. Dengan paham, maka kita akan dapat memilih reaksi atau pola asuh yang sesuai.

Sebagai orang tua kita perlu menyesuaikan dengan cara berpikirnya saat ini untuk kemudian kita membuat pendekatan yang sesuai. Fase remaja ini kita ketahui sebagai masa peralihan dari fase kanak-kanak ke dewasa. Secara fisiologis, terjadi pematangan area frontal yang bertanggung jawab terhadap kemampuan memecahkan masalah, kemampuan membuat pertimbangan, serta membuat keputusan yang berdampak jangka panjang. Selain itu pula, terjadi perubahan hormonal yang memicu reaksi-reaksi fisiologis yang juga menimbulkan ketidaknyamanan lebih karena penyesuaian terhadap sesuatu yang terjadi untuk pertama kalinya.
Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk anak remaja kita?

Pertama tentu saja, libatkan Allah. Bukankah Allah Yang Maha Sempurna? Yang paling berkuasa memampukan kita dan anak-anak kita untuk belajar menuju kedewasaan. Yang paling berkuasa melindungi mereka. Dan yang paling mampu, melancarkan lisan-lisan setiap orang tua untuk memberikan pengajaran yang baik kepada anak-anaknya.

Kedua, gunakan sudut pandang yang tepat dalam melihat perubahan perilaku anak remaja kita. Seperti yang sudah dibahas di atas, lihatlah sebagai sebuah proses, bukan hasil akhir. Tinggal bagaimana orang tua akan mengambil peran. Sebagai penonton dan kritikus? Atau sebagai fasilitator yang membantu menghebatkan anak-anaknya.

Ketiga, ketika berdiskusi dengan anak remaja kita mengenai pilihan tindakannya, hindari kalimat “Ibu/Bapak ngerti, tapi…”. Kalimat ini seolah-olah sebuah pengertian, namun sebenarnya ini memojokkan anak. Ketimbang menggunakan kalimat tersebut, gunakanlah kalimat yang mengajaknya bereksplorasi, misalnya anak dihadapkan pada dua pilihan dan ia malah mengambil pilihan yang bukan prioritas : “Ibu ngerti kalau kamu ga enak sama sahabatmu karena kejadian tadi siang. Ibu juga ngerti kalau besok kamu harus ujian pagi-pagi. Yuk kita bicarakan gimana menurutmu solusinya untuk ngatur waktunya.”

Keempat, kendalikan emosi negatif kita selaku orang tua. Yang kerap terjadi, emosi negatif ini menjadi salah satu “musuh” orang tua saat berkomunikasi dengan anak remajanya.

Kelima, ajukan pertanyaan yang membuatnya merasa bahwa ia memiliki masalah yang ia sendirilah yang perlu menyelesaikannya. Tanya tentang pemikirannya, dan biarkan ia merasa dipercaya. Misalnya, Ketimbang memberikan pertanyaan yang memojokkan seperti, “Kenapa sih sudah seminggu ini telat terus berangkatnya?“ lebih baik ajukan pertanyaan yang membuatnya berpikir seperti “Kakak menurutmu bagaimana caranya agar berangkat tepat waktu?” JIka anak menjawab tidak tahu. Ibu bisa ajukan beberapa alternatif solusi untuk kemudian didiskusikan bersama. Cara ini juga bisa digunakan untuk membantu anak belajar mengenai perilaku proaktif ketimbang reaktif.

Keenam, kondisi pendampingan yang seperti disebutkan di poin satu hingga lima akan menjadi lebih sulit ketika sejak anak-anak kita kecil kita tidak terbiasa untuk menjadi orang tua yang komunikatif dan memfasilitasi rasa ingin tahu anak dengan berdiskusi, menjaga kedekatan dengan anak, serta tidak otoriter. OLeh karenanya, jika ada hal-hal yang keliru dalam pola pengasuhan saat anak kita kecil, tak perlu sungkan untuk mendiskusikannya dan meminta pandangannya, bahkan untuk meminta maaf.

Tags :
Konfirmasi Donasi