ZAID, PEMUDA CERDAS PENULIS WAHYU AL QUR’AN

“Aku siap berkorban untuk Anda, ya, Rasulullah. Izinkan aku ikut berjihad di bawah komando Anda.” Anak berusia 13 tahun tersebut terus merengek kepada Rasulullah sembari menggenggam pedang yang tingginya hampir sama dengan badannya. Namun Rasulullah dengan penuh kasih sayang melarang anak tersebut untuk turut dalam perang Badar dan menyuruhnya segera pulang. Beliau menepuk-nepuk bahu anak kecil itu untuk menghiburnya, karena ia memang masih terlalu muda untuk terjun dalam medan jihad.

Sambil menyeret pedangnya, anak itu pulang dengan wajah kecewa. Ia sedih karena tidak mendapat kehormatan menyertai Rasulullah dalam peperangan. Sementara Rasulullah diam-diam kagum terhadap anak kecil tersebut. Tatap matanya cerdas, semangatnya untuk membela Islam juga patut diacungi jempol untuk anak seusianya. Ternyata selain sang anak yang merasakan kesedihan mendalam, Ibunya pun mempunyai perasaan yang sama. Sebab ia sangat berharap anaknya pergi ke medan perang menggantikan ayahnya yang telah terbunuhdi medan perang Bu’ats ketika usia Zaid baru menginjak enam tahun.

Zaid adalah anak muda yang cerdas. Ketika Rasulullah sampai di madinah, usianya baru 11 tahun dan ia sudah menghafal 17 surat Al Qur’an yang kemudian langsung di murajaah oleh Rasulullah SAW. Zaid juga berhasil menyempurnakan hafalan qur’annya ketika Rasulullah SAW masih hidup. Kemampuan bahasa dan tulis-menulis Zaid juga di atas rata-rata. Bahkan Rasulullah sempat menyuruhnya belajar beberapa bahasa asing termasuk bahasa kaum Yahudi, dan hebatnya Zaid dapat mempelajarinya dengan cepat. Selain itu ia juga mahir bahasa Persia, Roma serta Habasyah. Karena kemampuan bahasa itulah Zaid menjadi salah satu penulis surat-surat dakwah Rasulullah SAW. “Aku pernah menulis Rasulullah SAW kepada kaum Yahudi dan ketika datang balasan dari mereka, aku juga yang membacakannya untuk beliau,” ujar Zaid.

Rasulullah sering memanggil Zaid untuk menuliskan wahyu Al Qur’an yang datang secara bertahap, meski sebenarnya ia bukan satu-satunya penulis wahyu. Masih ada Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab. Jika tiga nama pertama berasal dari sahabat Muhajirin, maka Zaid dan Ubay bin Ka’ab adalah bagian dari sahabat Anshar.

Karena keistimewaan Zaid itulah kemudian Abu Bakar menyuruhnya untuk memenuhi permintaan Umar yang ingin mengumpulkan Al Qur’an menjadi satu mengingat banyak penghafal Al Qur’an yang syahid di pertempuran Yamamah. Awalnya Abu Bakar juga kurang setuju dengan usul Umar untuk mengumpulkan wahyu Allah tersebut karena menganggap hal tesebut adalah bid’ah yang tak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Akan tetapi setelah istikharah akhirnya Abu Bakar menyetujuinya dan memberikan mandat kepada Zaid untuk menghimpun catatan dan hafalan Al Qur’an yang tercecer di antara para sahabat yang masih hidup. “Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas, Zaid. Kami tidak pernah meragukan kemampuanmu. Engkau juga selalu diperintahkan Nabi SAW untuk menuliskan wahyu, maka kumpulkanlah ayat-ayat Qur’an tersebut..” Abu Bakar memberikan mandat kepada Zaid bin Tsabit.

Reaksi Zaid bin Tsabit tak ada bedanya dengan reaksi Abu Bakar ketika menerima usulan Umar bin Khattab. “Demi Allah, ini adalah pekerjaan yang berat. Seandainya kalian memerintahkan aku untuk memindahkan sebuah gunung, rasanya itu lebih ringan daripada tugas menghimpun Al Qur’an yang engkau perintahkan tersebut,” ujar Zaid.

Setelah diyakinkan akhirnya Zaid menerima amanah tersebut dan mulai mendatangi para sahabat untuk mengumpulkan hafalan Al Qur’an. Sebenarnya Zaid sudah mempunyai hafalan yang lengkap yang bahkan langsung disetorkan kepada Rasulullah, tapi ia tidak mau gegabah dan hanya mengandalkan hafalan sendiri. Ia mengumpulkan hafalan para sahabat yang ditulis di daun, tulang, pelepah kurma, kulit dan sebagainya untuk kemudian ia tulis ulang dalam lembaran-lembaran dan mengikatnya menjadi satu. Ia mengecek hafalan yang dimiliki dengan hafalan para sahabat yang lain. Dengan cermat ia mendatangi satu-satu para sahabat untuk menyamakan dan meminimalisir kekeliruan yang bisa saja terjadi. Itulah mushaf pertama yang dimiliki umat Islam dan Zaid memerlukan waktu satu tahun untuk menyelesaikan semua.

Pada masa Rasulullah, Al Qur’an diturunkan dengan tujuh macam bacaan (qira’ah sab’ah). Rasulullah sengaja memintanya demikian untuk memudahkan umat muslim yang mempunyai karakter bahasa yang berbeda-beda, sehingga pelafalan juga berbeda. Karena itu ketika sudah mengikuti salah satu bacaan (qiraat) maka sudah dianggap benar.

Adalah Hudzaifah bin Yaman dan beberapa sahabat lainnya yang kemudian mengusulkan kepada Khalifah Utsman bin Affan untuk menyatukan mushaf Al Qur’an dalam satu bacaan saja. Mereka khawatir akan terjadi perpecahan dengan banyaknya jenis bacaan mengingat wilayah Islam sudah merambah ke Eropa, bukan hanya di jazirah Arab saja. Awalnya Utsman tidak setuju dengan usul tersebut, sama halnya dengan Abu Bakar, ia takut perbuatan itu jatuh ke dalam bid’ah. Namun kemudian Utsman menyetujuinya setelah istikharah dengan mempertimbangkan segala mudharat dan manfaatnya.

Zaid bin Tsabit kembali mendapat amanah besar ini. Menyusun kodifikasi Al Qur’an menjadi satu bacaan saja untuk kemudian disebarkan seluas-luasanya, sehingga mushaf Utsmani itulah yang sekarang beredar di sekitar kita dan kita baca sehari-hari.

Tags :
Konfirmasi Donasi