ZAKAT DALAM PEMBANGUNAN SOSIAL EKONOMI UMAT

Oleh:

Dr. Adhyaksa Dault, SH., M.Si

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga

Salah satu problematika mendasar yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia adalah kemiskinan. Menurut hasil survey sosial-ekonomi nasional oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, pada Maret 2007 jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 37,17 juta. Angka tesebut mengalami penurunan dibandingan tahun sebelumnya yakni 39,30 juta.

Meski ada penurunan namun kita tidak boleh lenggah. Sebab, jumlah penduduk miskin dari tahun 1996-2007 terus berfluktuasi. Terkadang turun namun sering juga mengalami peningkatan. Hal itu diperburuk lagi dengan terus meningkatnya harga-harga bahan pokok sementara pendapatan masyarakat cenderung tetap.

Pemberantasan kemiskinan harus menjadi agenda bersama umat Islam Indonesia. Kita tak bisa berpangku tangan dan menuntut pemerintah untuk mengatasinya. Program-program pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah cenderung menjadi sarana korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Untuk itulah umat Islam harus berjuang melawan kemiskinan. Alasan utamanya adalah untuk menjaga keimanan kita seperti yang diperintahkan Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 2. Salah satu caranya adalah dengan memberdayakan zakat yang dapat dilakukan bila umat Islam sudah memiliki kesadaran untuk melakukannya.

Ajaran Islam memberikan peringatan dan ancaman keras terhadap orang yang enggan membayar zakat. Di akhirat kelak, harta benda yang disimpan tanpa dikeluarkan akan berubah menjadi azab bagi pemiliknya (QS. 9: 34-35). Sementara dalam kehidupan dunia, orang yang tidak mau berzakat maka harta bendanya akan hancur.

Keberadaan zakat sangat tergantung pada lembaga yang mengelolanya. Secara yuridis formal, lembaga amil zakat (LAZ) yang diatur dalam UU No 38/1999. Saat ini zakat tak hanya dimonopoli oleh LAZ negara yakni BAZNAS, melainkan banyak yang dikelola oleh swasta. Pengelolaan zakat sangatlah penting agar dapat menanggulangi dan mengatasi kemiskinan di negara ini.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh LAZ. Pertama adalah mengelola zakat secara profesional dan akuntabel. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kepercayaan wajib zakat (Muzakki). Kedua adalah memberikan zakat kepada para penerima (Mustahik) yang mau menggunakan dana tersebut untuk berwirausaha.

Ketiga adalah mengelola zakat menjadi produktif (atas izin muzakki) yang dapat berkembang sehingga dana zakat tidak habis. Selanjutnya adalah adanya segmentasi sasaran yang jelas dan terencana. Tidak perlu banyak tetapi cukup mengambil sekelompok orang yang dapat memberikan pengaruh dan mampu menggerakan ekonomi rakyat.

Kemudian LAZ juga harus membangun jaringan dengan pemberdaya penerima zakat. Jaringan sangat penting guna memperlancar proses pembinaan dan pemberdayaan mustahik dalam bentuk modal usaha. Hal yang terakhir adalah pemberian bantuan pendidikan dan kesehatan bagi anak. Berdasarkan data UNICEF 2006, jumlah balita penderita gizi buruk di Indonesia menjadi 2,4 juta. Bila hal ini dibiarkan maka generasi penerus perjuangan umat yang handal akan hilang.# 

Tags :
Konfirmasi Donasi