ZAKAT DAN TANDA KEHIDUPAN

oleh: H. Muhammad Jamhuri, Lc
Direktur STAI ASy-Syukriyyah Kota Tangerang

Di antara tanda adanya kehidupan alam semesta adalah adanya aliran atau sesuatu yang mengalir. Allah SWT berfirman “Dan Kami turunkan air hujan dari langit lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuhan” (QS : 31 : 10). Di alam surga pun terdapat sungai-sungai yang mengalir, “?bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai dibawahnya ?” QS : 18 : 31 “? di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang mengalir?” QS : 55 : 50.

Kalau kita memperhatikan tubuh kita, maka terdapat aliran darah yang mengandung oksigen yang dipompa oleh jantung. Jika aliran tersumbat, maka akan menyebabkan fungsi tubuh tidak normal. Apalagi jika sumber utama pemompa darah berupa jantung berhenti maka aliran darah terhenti dan tubuh pun tidak bisa bergerak lagi alias mati.

Alat elektronik, baik berupa televisi, radio, telepon dan lainnya bisa berjalan sesuai fungsinya karena adanya aliran. Jika tidak ada aliran, maka alat-alat tersebut tidak berfungsi apa-apa.

Dengan demikian maka “adanya kehidupan” ditandai dengan “adanya aliran”, oleh karena itu upaya “menghidupkan sesuatu” misalnya : perekonomian, harus ditandai dengan adanya upaya “mengalirkan sesuatu” (yang terkait dengan perekonomian).

Sistem ekonomi islam telah meletakkan prinsip aliran ekonomi yang adil melalui zakat. Zakat bukan hanya berfungsi mengalirkan kekayaan agar tidak menumpuk pada golongan tertentu saja (funding to distribute) sebagi aspek sosial, tapi juga berfungsi sebagai pengendalian atau kontrol (effor to following).

Diwajibkannya zakat sebagai pengendalian harta merupakan pengendalian sifat manusia, dimana sifat manusia diberikan rasa indah kepada harta. “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini yaitu : wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak dan sawah ladang.” ( QS 3 : 14 ) Cinta pada wanita dikendalikan dengan nikah, cinta pada anak dikendalikan oleh suatu prinsip bahwa anak adalah amanah dan cinta pada harta dikendalikan oleh zakat.
Dengan demikian, zakat lebih merupakan sebuah upaya pengendalian harta masyarakat agar mengalir (tidak menumpuk) menuju aktivitas investasi.

Bila di suatu masyarakat telah terbangun budaya zakat, maka disana terdapat kehidupan. Sebab zakat menyebabkan perekonomian lebih bergairah. Coba perhatikan pada bulan Ramadhan dimana mayoritas kaum muslimin membayar zakat (baik zakat maal maupun zakat firah), terlihat sekali kegairahan ekonomi. Para produsen diuntungkan dengan suasana Ramadhan, bukan hanya para produsen muslim saja, namun juga produsen non muslim, sama-sama diuntungkan. Jadi, ketika uang dan kekayaan berputar cepat di masyarakat, maka roda ekonomi semakin bergairah. Sebaliknya ketika harta hanya bertumpuk di golongan tertentu saja baik karena tidak adanya kewajiban membayar zakat, atau adanya sistem riba dan ihtikar (penimbunan), maka roda perekenomian semakin menjadi lesu. Bila aliran kekayaan ini tersumbat, maka yang terjadi adalah petaka. Inflasi melanjung naik, daya beli masyarakat lemah dan ujungnya timbul kecemburuan kaum miskin terhadap golongan orang kaya dan penguasa yang berbuntut kerusuhan. Bagai air bah yang terbendung tinggi dan menghancurkan tanggul dan bendungan.

Oleh karena itu, Ibnu Kholdun dalam muqoddimahnya menyamakan harta kekayaan seperti air. Jika air mengalir dengan lancar maka akan tampak indah, bersih, jernih, dan memberikan manfaat banyak pada masyarakat yang dialiri air tersebut. Sebaliknya, bila air itu diam dan tidak mengalir, maka air akan tergenang, mengendap hitam dan mengeluarkan bau yang tidak sedap serta menjadi sumber penyakit. Agar harta tidak menimbulkan dampak negatif, maka alirkanlah harta itu melalui zakat.***

Tags :
Konfirmasi Donasi