ZAKAT IBU RUMAH TANGGA

Assalamualaikum,

Ustadz, Apakah istri yang tidak bekerja dan hanya menerima dari suami, harus mengeluarkan zakat, sedang suami sudah mengeluarkan 2,5% tiap bulan? Apakah harta yang sudah sampai haulnya dan sudah dikeluarkan zakatnya, untuk tahun depan dihitung kembali?

Terima kasih
Ade Adriani, Jakarta

Waalaikumsalam wr.wb.

Ibu Ade yang dirahmati Allah, seorang istri adalah tanggungan suaminya. Dalam hal harta sesuai dengan ketentuan Allah dalam Al-quran bahwa harta istri adalah milik istri sedangkan harta suami adalah milik keluarga. Dalam hal pengeluaran zakat, suami dan istri yang berpenghasilan dihitung sebagai individu. Hak antara suami dan istri untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT adalah setara.

“Sungguh, laki-laki muslim dan perempuan muslim, laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, laki-laki yang tetap dalam ketaatannya dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki yang jujur dan perempuan yang jujur, laki-laki yang sabar dan perempuan yang sabar, laki-laki yang khusyuk dan perempuan yang khusyuk, laki-laki yang bersedekah dan perempuan yang bersedekah, laki-laki yang berpuasa dan perempuan yang berpuasa, laki-laki yang memelihara kehormatannya dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki yang banyak menyebut (nama) Allah dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Al-Ahzab: 35).

Hal ini menunjukkan bahwa suami dan istri dapat berlomba-lomba dalam kebaikan menunaikan zakat karena seorang istri juga berhak mendapatkan pahala yang sama dengan suaminya. Apabila harta suami atau harta istri sudah masuk nisab zakat (batas terendah dari kewajiban zakat), maka keduanya wajib memberikan zakat untuk hartanya masing-masing. Namun, apabila belum memenuhi nisab zakat, maka tidak diwajibkan menunaikan zakat.

Nisab zakat penghasilan

Nisab zakat penghasilan ada dua jenis:
Pertama, zakat penghasilan apabila ditunaikan pertahun maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2.5% jika telah mencapai nisab (85 gram emas) dari total penghasilan bersih yang diterima setelah dikurangi total hutang dan kewajiban. Jika asumsi emas per gram Rp 400.000,- maka nisab zakat harta adalah 85 x Rp 400.000,- = Rp 38.250.000,- per tahun. Apabila penghasilan dikurangi total hutang dan kewajiban mencapai Rp 38.250.000,- maka Ibu wajib berzakat.

Kedua, apabila zakat penghasilan ditunaikan setiap bulan, maka zakatnya wajib dikeluarkan sebesar 2.5% apabila telah
mencapai nisab (653 kg beras) dari total penghasilan bersih yang diterima setiap bulannya. Jika asumsi harga beras per kilogram adalah Rp 8000,- maka nisab zakat penghasilan adalah 653 x Rp 8000,- = Rp5.224.000,- per bulan.

Begitupun Ibu Ade, apabila suami Ibu sudah berzakat dan Ibu tidak berpenghasilan maka cukuplah suami Ibu yang menunaikan zakat penghasilan. Namun, Allah tidak menutupi peluang Ibu untuk beramal. Ibu dapat berinfak atau berwakaf tunai untuk mendapatkan keberkahan harta atau uang bulanan atau uang harian yang diberikan oleh suami Ibu.

Tentang Haul

Haul adalah kepemilikan harta dalam periode setahun. Apabila penghasilan atau harta ibu sudah mencapai nisab dan sudah dimiliki selama setahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Harta yang sudah dikeluarkan zakatnya tentu akan terambil beberapa persennya. Salah satu hal yang identik dengan zakat adalah harta berkembang. Jadi, dengan zakat, Allah SWT akan memberikan berkah dan kemudahan agar penghasilan yang dizakati akan berkembang tiap tahunnya.Apabila tahun ini suami ibu sudah berzakat dan tahun depan bisnis suami ibu kembali berkembang dan memenuhi nisab zakat, maka suami ibu wajib menunaikan zakat atas penghasilan yang didapat.

Wallahua’lam

Tags :
Konfirmasi Donasi