ZAKAT PERHIASAN ISTRI

Oleh: Kardita Kintabuwana, Lc, MA.

Sobat Zakat yang dirahmati Allah SWT, semua ulama sepakat bahwa membayar zakat harta yang sudah mencapai nishab itu hukumnya fardhu ’ain (kewajiban individu) bagi pemiliknya, baik itu suami maupun istri. Apabila seseorang -baik laki-laki maupun perempuan- telah memiliki harta yang telah mencapai nishab dan tiba saatnya untuk mengeluarkan zakatnya (telah berlalu satu tahun), maka ia berkewajiban mengeluarkan zakatnya.

Kewajiban zakat adalah kewajiban seorang hamba kepada Allah SWT. Seseorang yang belum menunaikan zakat atas hartanya berarti ia berhutang kepada Allah SWT. Dan hutang tersebut tidak gugur sampai orang tersebut menunaikannya. Oleh karena itu, apabila seorang perempuan atau isteri mempunyai harta pribadi misalnya perhiasan yang lebih dari kewajaran (karena jumhur ulama berpendapat bahwa perhiasan wanita yang wajar tidak dikeluarkan zakatnya) maka ia berkewajiban mengeluarkan zakatnya manakala telah memenuhi syarat wajib zakat. Perlu diketahui bahwa kewajiban suami terhadap isteri yang harus ditunaikan adalah nafkah.

Pertanyaannya apakah membayar zakat bagian dari nafkah yang harus ditunaikan pihak suami terhadap isteri?

Jika itu masuk dalam bagian nafkah, berarti suami harus menanggung zakat itu. Mari kita simak batasan nafkah, Dalam hadis dari Muawiyah bin Haidah ra, beliau bertanya kepada Nabi SAW: “Ya Rasulullah, apa hak istri yang menjadi tanggung jawab kami?” Jawab Nabi saw: “Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud. Hadits ini dihasankan Syaikh Syuaib al-Arnauth).

Dalam Fatawa Islam ditegaskan: Nafkah mencakup: makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan segala sarana yang menjadi kebutuhan istri untuk hidup dengan layak. (Fatawa Islam no. 3054). Oleh karena itu dari keterangan di atas nampak jelas bahwa membayar zakat isteri bukan termasuk dari nafkah yang wajib ditunaikan oleh suami. Oleh karena itu sobat zakat yang budiman, tidak ada kewajiban bagi si suami untuk membayarkan zakat perhiasan isterinya. Akan tetapi kewajiban atas suami untuk mengingatkan sang isteri dalam menunaikan kewajibannya. Hal ini dilakukan dalam rangka saling menasihati dalam kebenaran. Namun tidak ada salahnya apabila suami ingin memberikan sebagian hartanya kepada isterinya lalu si isteri menggunakannya untuk membayar zakat hartanya.

Dalam hal ini tidak ada larangan dan ini merupakan hal yang baik dan terpuji. Syaikh Abdullah bin Baaz pernah menjawab tentang hal itu seraya berkata: “Suami tidak wajib mengeluarkan zakat isterinya, namun jika dia mau membantu dan istrinya ridla maka tidak masalah. Pada dasarnya kewajiban zakat perhiasan itu atas dirinya, karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa dialah yang berkewajiban mengeluarkan zakatnya dan bukan suaminya” (Risalah Pilihan, karya Syaikh Bin Baaz, hal. 131). Mudah-mudahan penjelasan yang sederhana ini bermanfaat. Wallahu a’lam bi ash-Showab

Tags :
Konfirmasi Donasi