ZAKAT PROFESI DARI PENGHASILAN SUAMI DAN ISTRI

Oleh Kardita Kintabuwana, Lc, MA

Dewan Syariah Rumah Zakat Indonesia

Assalamualaikum. Ustadz, saya dan suami adalah dokter. Kami sudah menikah 5 tahun.  Satu tahun ini saya kembali bekerja setelah setahun sebelumnya sempat berhenti. Ustadz, bagaimanakah cara membayar zakat kami? Apakah penghasilan dari suami digabungkan dulu ke saya baru dihitung jumlah zakatnya? Lalu, sebaiknya membayar zakat itu tiap tahun atau per bulan ya? Kemudian, setiap tahun saya membayar asuransi. Apakah itu juga diperhitungkan zakatnya? Kemudian bagaimana dengan cicilan rumah/mobil, apakah masuk dalam hutang pribadi?

Zahra,

Medan

Wa’alaikumsalam wr wb. Ibu Zahra yang dimuliakan Allah berikut ini akan saya jawab pertanyaan ibu melalui beberapa poin agar lebih memudahkan.

1.      Karena zakat profesi dikenakan kepada hasil penghasilan suatu profesi setiap pribadi maka sebaiknya masing-masing (istri/suami) menghitung zakatnya secara perorangan lalu kalau setelah itu hasilnya dijumlahkan dan diberikan kepada salah seorang mustahik atau diserahkan ke lembaga amil zakat maka hal itu tidak menjadi masalah. Tapi perlu menjadi catatan bahwa istri atau suami dikenakan kewajiban zakat apabila telah mencapai nishab setara 520 kg beras (mis: 1 kg beras Rp. 5.000 maka 520 kg beras = Rp. 2.600.000) dari penghasilan perbulan. Misalnya: penghasilan istri setiap bulan Rp. 1 juta dan penghasilan suami Rp. 3.000.000 maka istri belum dikenakan kewajiban zakat krn belum mencapai nishab, sedangkan suami sudah terkena kewajiban. Selain itu sebaiknya sebagaimana pendapat DR. Yusuf Al-Qaradhawi zakat dikeluarkan dari penghasilan kotor (bruto) sebelum dikurangi dengan biaya kebutuhan hidup perbulan dan hutang jatuh tempo untuk kehati-hatian. Namun kalau terlalu memberatkan karena penghasilan blm terlalu besar dan biaya kebutuhan hidup perbulan terlalu banyak maka tidak apa-apa dari penghasilan bersih.

 

Contoh soal:

Istri memiliki penghasilan misalnya Rp. 3.000.000/bulan dan selama 3 tahun (36 bulan) belum membayar zakat dan suami mempunyai pengasilan Rp. 5.000.000/bulan dan baru setahun bekerja (12 bulan). Penghasilan mereka berdua sudah mencapai nishab (lebih dari Rp. 2.600.000). Maka zakat profesi mereka:

·        Zakat yg dikeluarkan istri       : Rp. 3.000.000 x 36 x 2,5% = Rp. 2.700.000

·        Zakat yg dikeluarkan suami : Rp. 5.000.000 x 12 x 2,5% = Rp. 1.500.000

·        Total zakat yg dikeluarkan   :                                                   Rp. 4.200.000

 

2.      Harta yang kita miliki  yang telah tersimpan selama satu tahun baik dalam bentuk simpanan, tabungan, ataupun deposito maka apabila telah mencapai nishabnya harus dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%. Perhitungannya:

Saldo akhir – bunga (jika di bank konvensional) x 2,5%

3.      Karena rumah dan kendaraan merupakan kebutuhan primer menurut pandangan sebagian ulama (selama keduanya tidak melebihi batas kewajaran) maka cicilan pembayaran perbulan dari keduanya dianggap  hutang jatuh tempo. Tetapi sekali lagi untuk kehati-hatian lebih baik zakat dikeluarkan dari penghasilan bruto kalau penghasilan kita cukup besar.

4.      Cicilan pembayaran asuransi perbulan dianggap sebagai hutang jatuh tempo. Jadi kalau mau mengikuti cara perhitungan zakat dari penghasilan bersih maka sbb:

Penghasilan kotor perbulan – hutang jatuh tempo x 2,5%

5.      Membayar zakat bisa per bulan dan bisa per tahun. Tetapi sebaiknya perbulan agar lebih mudah dan gaji kita masih belum dipergunakan untuk kebutuhan lainnya yang tidak terduga sehingga kita tidak bisa membayar setelah itu.

Wallahu a’lam bi ash-shawab

 

Tags :
Konfirmasi Donasi