ZAKAT ; SEBUAH KEWAJIBAN YANG TERABAIKAN

Oleh : Iskandar Zulkarnaen

Ada beberapa alasan penulis untuk membuat tulisan tentang zakat ini. Pertama, penulis melihat bahwa potensi zakat yang ada di Indonesia sungguh luar biasa besar. Menurut data yang diperoleh dari PIRAC, potensi zakat yang ada di Indonesia sekitar 20 triliun rupiah. Meski ada beberapa data yang berasal dari sumber lain agak berbeda dalam menaksir jumlah potensi zakat, namun tetap zakat mempunyai potensi yang sangat besar, dan ini merupakan peluang besar untuk memberdayakan umat.

Kedua, zakat merupakan kewajiban yang dibebankan Allah kepada kaum Muslimin yang mempunyai kelebihan harta untuk disalurkan kepada mereka yang berhak menerimannya. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam surat At-Taubah ayat 60 :

?Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.?

Kedudukan zakat dalam Islam sangat penting, sampai-sampai Allah selalu mengiringi kata shalat dengan kata zakat dalam kebanyakan ayat-ayat Al-Qur?an, dan kita mengetahui kedudukan shalat dalam Islam sangatlah penting. Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang menunaikan zakat dan mengancam orang-orang yang melalaikannya. Bahkan khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq memerangi orang-orang yang dengan sengaja meninggalkan zakat. Semua ini membuktikan pentingnya kedudukan zakat dalam Islam.

Meskipun kedudukan zakat dalam Islam sangatlah penting, namun masih banyak masyarakat mampu dari kaum Muslimin yang tidak mengetahui tentang kewajiban zakat, atau mungkin sebagian dari mereka sudah mengetahui, namun zakat yang baru mereka ketahui hanyalah zakat fitrah yang ditunaikan setiap tiba bulan ramadhan. Padahal zakat bukan hanya zakat fitrah saja, masih banyak sumber-sumber zakat lainnya seperti zakat perdagangan, zakat pertanian, zakat peternakan, zakat harta simpanan, zakat emas dan perak, zakat profesi dan sumber-sumber zakat lainnya.

Sebagian masyarakat ada yang sudah mengetahui tentang sumber-sumber zakat lain selain zakat fitrah, namun disisi lain mereka juga tidak mengetahui tata cara dan ketentuan-ketentuannya, sehingga banyak diantara mereka yang memperlakukan zakat sebagaimana halnya infaq.

Dalam menunaikan zakat, ada satu hal yang juga harus diperhatikan, yaitu perbedaan-perbedaan yang terkadang muncul dalam tata cara dan ketentuan zakat, karena dalam berbagai permasalahan zakat para ulama tidak satu kata dan satu pendapat, sehingga dapat kita temukan dalam permasalahan zakat ini pendapat-pendapat dan ketentuan-ketentuan yang berbeda antara satu ulama dengan ulama lainnya, antara satu kitab dengan kitab lainnya, dan antara satu madzhab dengan madzhab lainnya.

Masalah ini perlu mendapatkan perhatian, karena tidak sedikit masalah timbul yang diakibatkan perbedaan pendapat, bahkan bukan hanya dalam permasalahan zakat saja, tapi juga dalam berbagai permasalahan agama lainnya, seperti perbedaan pendapat dalam masalah shalat, perbedaan pendapat dalam masalah bersuci, perbedaan pendapat dalam masalah haji, dan perbedaan-perbedaan pendapat lainnya dalam masalah fiqhiyyah yang sifatnya furu?iyyah.

Sampai saat ini masih banyak masyarakat Muslim, khususnya masyarakat Muslim Indonesia, yang sibuk saling mencela dan menyalahkan sampai pada tingkat permusuhan tercela yang sebenarnya sangat dilarang agama, hanya karena perbedaan pendapat yang mereka anut dalam berbagai masalah fiqhiyyah yang bersifat furu?iyyah. Sebenarnya, perbedaan yang bersifat furu?iyyah dan selama perbedaan itu masih dalam ruang lingkup syar?i, Islam sangat mentolelir hal tersebut. Banyak contoh perbedaan pendapat yang terjadi baik diantara para sahabat ataupun yang terjadi diantara para tabi?in sesudahnya, tapi mereka tidak pernah saling mencaci dan mencela, atau memaksakan orang-orang untuk mengikuti pendapatnya meskipun masih banyak pendapat-pendapat lainnya.

Sebagai contoh, kita melihat perbedaan antara Abu Bakar dan Umar Bin Khattab dalam mensikapi orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat. begitupun perbedaan yang terjadi diantara dua sahabat terkenal Ibnu Umar dan Ibnu Abbas dalam berbagai masalah fiqhiyyah, seperti beberapa contoh berikut ini ; Ibnu Umar selalu membasuh bagian dalam matanya dalam berwudhu dan juga berpendapat bahwa menyentuh wanita dapat membatalkan wudhu, tapi Ibnu Abbas tidak berpendapat demikian. Ibnu Umar berpendapat bahwa berhenti di Mihshab (nama sebuah tempat) termasuk sunnah nabi, sementara Ibnu Abbas berpendapat bahwa hal tersebut tidak temasuk sunnah, karena berhenti di Mihshab tidak dimasukkan dalam syariah.

Begitupun dengan keempat Imam Madzhab terkenal seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi?i dan Imam Hanbali, diantara mereka banyak perbedaan pendapat dalam berbagai masalah fiqhiyyah. Tapi satu hal yang kita dapati dari mereka adalah meskipun mereka banyak berbeda pendapat dalam berbagai masalah agama khususnya yang bersifat furu?iyyah, mereka sangat toleran diantara sesama mereka dan tidak memaksakan apa yang menjadi pendapat mereka, dan tidak mencela orang-orang yang tidak mengikuti pendapat mereka.

Tidak pernah kita dapatkan dalam sejarah adanya saling cela dan saling caci yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar Bin Khattab disebabkan perbedaan pendapat. Begitupun dengan Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, juga para Imam Madzhab yang empat, mereka tidak pernah saling mencela dan saling mencaci hanya karena ada orang yang berpendapat lain dari dirinya. Imam Hanafi tidak pernah mencela Imam Malik hanya karena berbeda pendapat dengannya, begitupun dengan imam-imam lainnya.

Mereka adalah para ulama yang mempunyai kapasitas keilmuan yang luar biasa luas, diantara mereka ada yang telah menulis ratusan bahkan ribuan kitab, tapi semua itu tidak menjadikan mereka sombong dan merasa paling benar, mereka akan mengikuti yang benar kalau memang pendapatnya salah dan menyuruh orang untuk mengambil pendapat lain yang lebih rojih. Untuk pembahasan yang lebih lanjut tentang perbedaan pendapat ini dijelaskan secara lengkap oleh Syekh Yusuf Qardhawi dalam bukunya yang berjudul Fiqhul Ikhtilaf, yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Dalam tulisan ini, ada beberapa poin penting yang ingin penulis sampaikan kepada seluruh masyarakat :

Pertama, zakat adalah kewajiban yang disyariatkan Allah kepada seluruh kaum Muslimin yang mempunyai kelebihan harta, dan orang yang meninggalkannya akan mendapatkan sanksi baik dunia maupun akhirat. Untuk itu, sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat Islam untuk saling mengingatkan dan menyadarkan masyarakat untuk menunaikan zakat.

Kedua, dalam berbagai permasalahan zakat, para ulama tidak sekata dan sependapat, sehingga kita berkewajiban untuk saling menghargai apa yang menjadi pendapat orang lain yang tidak sependapat dengan kita, selama pendapat-pendapat yang ada masih dalam ruang lingkup syar?i.

Ketiga, zakat bukan hanya zakat fitrah yang hanya ditunaikan dibulan ramadhan, namun masih banyak sumber-sumber zakat lainnya yang harus ditunaikan diluar bulan ramadhan.

Keempat, zakat berbeda dengan infaq. Zakat memiliki ketentuan-ketentuan yang tidak dimiliki infaq seperti nishab, haul dan kadar zakat.

Kelima, potensi zakat di Indonesia sangat besar, sehingga potensi zakat yang besar ini dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan umat. Hal ini dapat terealisasi jika masyarakat menyalurkan zakat melalui lembaga zakat, karena disamping telah dicontohkan oleh Rosulullah, menyalurkan zakat melalui lembaga zakat akan lebih optimal.

Sebagai penutup, penulis mencantumkan sebuah ayat dan sebuah hadits yang sangat baik untuk kita renungi. Rosulullah bersabda :

“Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu.” (HR. Al Bazar dan Baehaqi).

?Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai..?. (Ali Imran : 92). Wallohu?alam.

Tags :
Konfirmasi Donasi