ZAKAT UNTUK GHORIMIN

sedekahAssalamualaikum Wr Wb

Ustadz, salah satu dari 8 ashnaf itu kan orang yang terlilit hutang? Apakah zakat itu juga berlaku untuk hutang yang dialami saudara kita sendiri, semisal kakak kandung, mengingat kehidupannya yang terbilang kurang? Dan apakah setiap mualaf yang meski dia mampu juga tetap bisa menerima zakat? Terima kasih,

Latif, Purworejo

Jawaban:
Sobat Latif yang dirahmati Allah SWT, ketentuan penyaluran zakat telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Ayat tersebut bersifat umum, tidak menjelaskan secara khusus apakah jika orang yang tidak mampu adalah saudara kita sendiri ataupun bukan, sehingga apakah dia termasuk ke dalam katagori orang yang berhak menerima zakat?

Mengenai hal ini, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Mereka berbeda pendapat, apakah saudara kandung seseorang termasuk orang yang berada dalam tanggungan hidupnya ataukah tidak? Namun pada intinya, mereka sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang menjadi tanggungan hidup kita.

Menurut jumhur ulama, yang termasuk ke dalam tanggungan hidup seseorang hanyalah anak, isteri dan orangtua. Jadi, zakat tidak boleh diberikan kepada mereka. Namun, sebagian ulama seperti Imam Al-Syaukani dan Abu Hanifah membolehkan seorang anak memberikan zakat kepada orang tua lantaran tidak ada dalil yang melarang hal tersebut.

Sedangkan saudara kandung baik kakak ataupun adik, tidak termasuk ke dalam katagori tersebut. Dalam mazhab Mâlik dan Syâfi‘î tidak ada halangan untuk memberikan zakat kepada adik atau kakak selama mereka memenuhi salah satu kriteria kelompok yang berhak menerima zakat. Oleh karena itu, bila saudara kandung tersebut termasuk ke dalam golongan yang berhak menerima zakat seperti yang disebutkan dalam QS. At-Taubah [9]: 60, maka zakat boleh diberikan kepadanya. Dalilnya adalah sabda Nabi SAW tentang orang yang memberikan zakat kepada keluarganya: “Dia memperoleh dua pahala, yaitu pahala menyambung kekerabatan dan pahala sedekah (zakat)” (HR Bukhari). Demikian pula dalam hadits yang lain Nabi saw bersabda: “Memberi zakat pada orang misikin itu adalah shadaqah, adapun memberi zakat kepada kerabat miskin adalah shadaqah dan perekat silarurahmi” (HR. Ahmad).

Oleh karena itu sobat Latif yang budiman, saudara kita yang terlilit hutang (Ghorimin) berhak menerima dana zakat, apalagi kalau dia juga termasuk dari golongan yang tidak mampu.

Demikian pula halnya seorang mu’allaf yang berkecukupan maka dia berhak pula mendapatkan dana zakat. Dikarenakan yang menjadi pertimbangan bukan hal yang bersifat materi, akan tetapi karena pertimbangan manfaat keberadaan mereka untuk kepentingan Islam. Rasulullah SAW juga pernah memberi harta zakat kepada orang kafir yang bukan miskin. Sebab mereka termasuk kriteria ‘wal mu’allafati qulubuhum’, yaitu orang-orang yang dilunakkan hatinya.

Selama ini kita seolah membatasi bahwa asnaf mu’allaf itu hanya buat mereka yang sudah masuk Islam, padahal di masa lalu, mereka yang belum masuk Islam pun berhak menerima, bila dipertimbangkan akan membawa manfaat. Bahkan mereka yang sulit diharapkan masuk Islam lantaran kerasnya permusuhan dan selalu mengusik ketenangan kaum muslimin, oleh Rasulullah SAW pun diberi juga. Targetnya mungkin bukan untuk masuk Islam, tetapi sekedar bisa melunakkan sikap kasarnya kepada umat Islam. Itu pun sudah termasuk kriteria wal muallafati qulubuhum. Mereka boleh diberikan harta dari dana zakat, sebagaimana Al-Quran telah menetapkannya. Ibnul Munzir berkata, “Umumnya para ulama sepakat (ijma’) bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang kafir, namun dikecualikan bila dia termasuk al-muallafati qulubuhum.” Tetapi tentu saja sekali lagi apabila dipertimbangkan bahwa semua itu akan membawa manfaat buat kepentingan Islam. Misalnya, hati mereka semakin terpaut dan tertarik serta bersimpati kepada umat Islam. Karena mereka tidak dikucilkan dan dibeda-bedakan. Siapa tahu suatu saat Allah SWT akan memberikan hidayah kepada mereka, lewat sikap santun kita kepada mereka.

Kalau para misionaris berhasil membujuk jutaan umat Islam murtad dan masuk agama mereka, lewat berbagai macam bujukan dan bantuan kemanusiaan, maka sesungguhnya di dalam syariat Islam pun diberikan ruang untuk ‘membujuk’ mereka agar masuk Islam. Meskipun kita tidak menamakannya dengan istilah menyogok, tetapi melunakkan hati orang kafir termasuk bagian dari cara dakwah yang efektif dan dianjurkan. Bahkan meski harus lewat pemberian materi.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tags :
Konfirmasi Donasi