KISAH RIAN FEBRIANSYAH, ANAK TUNA GRAHITA DI SD JUARA BANDUNG

RZ LDKO CilegonBANDUNG. (30/01). Adalah Rian Febriansyah, anak tuna grahita yang divonis Mental Retarded oleh psikolog. Rian, sapaan akrabnya, adalah anak dari pasangan almarhum Bapak Suherman dan Ibu lilis. Rian berumur 12 tahun, namun masih duduk di kelas II. Menurut psikolog meski usia Rian 12 tahun, namun Rian masih seperti anak berusia 4 tahun. Proses diterimanya Rian sebagai murid SD Juara Bandung tidaklah mudah. Banyak pertimbangan yang melibatkan semua guru SD Juara.

Awal masuk sekolah pun menjadi kendala tersendiri bagi guru kelas I. Pengkondisian terhadap Rian dan teman sekelasnya pun menjadi perhatian yang lebih. Bahkan ejekan sering terdengar di telinga Rian. Tentu saja ini semakin menjadikan Rian tidak semangat. Rian kerap keluar kelas tanpa alasan ketika pelajaran berlangsung. Jelas saja, soalnya Rian belum bisa menulis, membaca apalagi berhitung. Guru kelas I dan guru-guru yang lain selalu membujuk Rian untuk masuk ke kelas. Tidak hanya itu, ketika teman-temannya beraktivitas melakukan rutinitas kegiatan sekolah, seperti sholat dan senam, Rian sering duduk sendiri tanpa alasan.

Setelah Rian naik kelas II, tentu itu menjadi tanggung jawab para guru. Pertama-tama mencari tahu apa kelebihan Rian, agar bisa mendorong rasa semangat dan percaya dirinya terlebih dahulu. Hari demi hari, minggu demi minggu mengamati Rian. Ternyata dia sangat tertarik dengan permainan lompat tali. Selain itu, rasa empati Rian juga tinggi. Guru pernah mendapati Rian sedang memberikan semangat kepada temannya yang sedang menangis.

Pihak sekolah juga melakukan kunjungan ke rumah Rian. Selama perjalanan Rian bercerita. Rian bercerita bahwa Dia mempunyai cita-cita menjadi seorang polisi. Rian juga mempunyai keinginan untuk bisa naik pesawat terbang. Hingga akhirnya guru SD Juara bandung menemukan lagi salah satu kelebihan Rian, yaitu pandai bercerita.

Dari beberapa informasi yang didapatkan, pihak sekolah mempunyai gagasan untuk menjadikan Rian lebih percaya diri. Tibalah saat permainan loncat tali. lalu menunjuk Rian untuk menjadi ketua kelompok. Namun saat semua murid ditanya “Siapa yang menjadi ketua kelompok?”, semuanya langsung menunjuk Rian sambil berteriak “Riaaaannn…”. Rian pun tak malu-malu mengacungkan tangannya yang mengisyaratkan bahwa dirinya mampu menjadi seorang ketua kelompok.

Rian kini lebih percaya diri dan penuh semangat. Meski belum bisa menulis, Rian selalu berusaha untuk bisa menulis. Rian sering sekali bertanya dan meminta kepada guru-guru untuk diajarkan menulis. Rian selalu melakukan instruksi guru dengan mudah tanpa harus ada bujukan lagi. Rian juga senang mengikuti pelajaran bersama-sama dengan teman-teman yang lainnya.***

Sumber : Fanspages Rumah Zakat

Tags :
Konfirmasi Donasi