DAYA TARIK PEREMPUAN TERBAIK

Sorry, this entry is only available in English. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

gambar-kartun-muslimah-berdoaOleh: Siti Faizah

Terinspirasi dari sabda Rasulallah SAW mengenail: “Sebaik-baiknya perempuan di dunia ini ada empat, yaitu Asiyah isteri Fir’aun, Maryam puteri Imran, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad”. (HR. Bukhori dan Tirmidzi). Keutamaan keempatnya, berlaku juga di akhirat. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya ia (Khadijah) adalah perempuan penghuni surga yang paling utama bersama Fatimah binti Muhammad, Maryam putri Imran, dan Asiyah istri Fir’aun.

Keempat perempuan ini, hidup tak semasa, kecuali Fatimah dan ibunya, Khadijah ra. Namun, Allah SWT berkenan menyatukan keempatnya dalam bingkai kisah yang indah. Mereka adalah teladan bagi kaum Muslimah dalam meniti kehidupan fana ini. Garis kehidupan, pengorbanan, dan perjuangan yang mereka hadapi berbeda, unik, menarik, dan sungguh memukau.

Khadijah termasuk yang paling beruntung dilihat dari sisi keberhasilannya membangun usaha, sehingga dikenal dengan kekayaan harta, namun tidak membuatnya buta. Dikenal sebagai Ath Thahirah, pribadi yang santun, lembut, dan kasih sayang. Terlahir dari keluarga terhormat, tegas, cerdas, suka menolong, dan dermawan.

Kesyukuran, kesabaran, dan kesuksesan dirinya layak menjadi pribadi yang patut dipersunting oleh pria terbaik di dunia dan akhirat, Muhammad SAW. Cinta suaminya pun tak lekang oleh masa dan tak tertandingi oleh perempuan lain, sekaliber Aisyah ra sekalipun. Sehingga acap kali mengundang kecemburuan para istri Rasul SAW.

Fatimah, puteri yang terlahir dari rahimnya, juga termasuk perempuan pilihan Allah SWT yang kelak akan menjadi pemuka bagi perempuan di surga-Nya. Namun, garis kehidupan yang dilaluinya tidak sama. Kehidupan pernikahannya berjalan sebagai keluarga sederhana, namun hal ini ia lalui bersama suaminya Ali ra dengan suka rela, sabar, santun, ikhlas, dan taat dalam beribadah dan berbudi luhur. Bahkan, cara bicara dan berjalannya paling mirip dengan ayahanda Muhammad SAW.

Di sisi lain, Allah SWT berkenan memilih Asiyah, dengan mengisahkannya dalam Alquran Surah At Tahrim ayat 11. Ia mengabadikan nama isteri Fir’aun, raja yang terkenal bengis dan kejam pada saat ia berkuasa di zaman Musa as. Namun, di balik kemegahan istana yang gemerlap itulah, Allah Ta’ala titipkan salah satu hamba pilihan-Nya. Berhati mulia, penyayang, berpikir cemerlang, pandai berdiplomasi, manis dalam tutur, dan luhur dalam tindak tanduk, berparas cantik, berprinsip teguh, berperilaku terpuji, dan setia dengan perannya sebagai isteri dan ibu negara.

Kecantikan dan kebaikan hatinya yang membuat suaminya jatuh hati, meski tak ada keturunan yang lahir dari rahimnya. Kelihaian dalam bertutur kalimat dan kebaikannya membuat Fir’aun ingin membahagiakannya dan pasrah akan keputusannya untuk menjadikan bayi Musa sebagai anak asuhnya, meski semula ia tidak merestuinya (Al Qashash: 9).

Dari tangan lembut Asiyah, Allah SWT berkenan membuktikan Iradat-Nya, membesarkan utusan pilihan, Musa alaihissalam. Padahal, masa kelahirannya tidak memungkinkan lahir seorang anak Adam laki-laki, kecuali akan mati di tangan algojo Fir’aun. Inilah salah satu bukti kekuasaan Allah SWT agar menjadi dalih datangnya hidayah kepada Asiyah, sekaligus mukjizat atas terpilihnya Musa sebagai Rasul Allah di tengah kaumnya.

Di balik kebesaran Fir’aun dan pengakuannya sebagai tuhan di mata rakyatnya, Asiyah justru menyimpan benih keimanan dan kerinduan yang sangat mendalam akan makna keimanan yang bersumber dari Yang Maha Benar. Sontak ia nyatakan keimanan terhadap Allah SWT dan kerasulan Musa as, saat pertarungan pertama yang dimenangkan oleh Musa atas ahli sihir terkemuka di negerinya. Kebesaran namanya yang masyur, kekayaan negara yang dimilikinya tidak membuatnya silau dan terperangkap. Ia tetap tegar dan teguh dengan pilihan hidpnya bahwa Allah Yang Maha Kuasa.

Profil perempuan pilihan keempat ini pun unik, Maryam yang terlahir dari keluarga pilihan (keluarga Imran) termasuk perempuan pilihan. Ia dikaruniai keturanan yang bernama Isa as dengan cara yang tidak pada umumnya. Maha Benar Allah yang telah memberikan karunia dan keutaman kepada hamba pilihan-Nya. Ia benar-benar mempersiapkan pemberian mukjizat dengan baik. Dengan menyiapkan keluarga Imran, menempatkan Maryam di bawah pengasuhan Zakaria as, sekaligus cara Allah Ta’ala menyiapkan keluarga ini dalam menerima mukjizat kelahiran Isa as dan menjadi bukti kebenaran dan kekuasaan-Nya.

Ibarat pepatah, buah jatuh dekan pohonnya. Isa as dipilih sebagai utusan Allah, terlahir dari ibundanya Maryam yang dikenal bersih, suci, taat beribadah dan berakhlak mulia. Perempuan ini pun terlahir dari keluarga Imran yang patut menjadi contoh bagi setiap keluarga. Kisah yang mengajarkan keluarga Muslim tentang urgensi keimanan, kenikmatan hidup dalam beriman serta bersandar kepada Allah Ta’ala, bisa dibaca kembali dalam QS Ali Imran: 37-47 dan QS Maryam: 16-40.

Di balik spesifikasi perjalan hidup, pengorbanan, latar belakang, kondisi keluarga dan perihal kehidupan lainnya. Ujian hidup yang bertubi-tubi tidak membuat mereka menjadi pribadi yang lemah, namun terus belajar dan berlatih menjadi kuat dan memiliki daya tahan yang sangat kuat. Itulah pribadi Muslimah yang perlu ditegakkan dalam setiap pribadi. Kesulitan tidak membuatknya lemah. Dengan bersandar kepada Yang Maha Kuat, maka akan menjadi kuat.

Kesamaan dari keempatnya adalah pada keimanan sebagai sumber kebaikan dan keteguhannya dalam berprinsip dan berperilaku. Kebersihan hatinya, kecerdasan akalnya mampu menundukkan hawa nafsunya. Memiliki orientasi hidup yang jelas, visi dunia dan akhirat, kematangan dan kedewasaan membuat mereka tegar menghadapi berbagai ujian demi ujian untuk kehidupan akhirat yang abadi.

 

Sumber: Republika.co.id

Tags :
Donation Confirmation