MENIRU DIET SEHAT RASULULLAH

Bowl of dried dates on white wooden background

Dewan Pakar PB Wanita Al Irsyad Sofiah Balfas menjelaskan self-healing yang diartikan sebagai upaya yang dilakukan diri sendiri untuk menyembuhkan dirinya. Berdasarkan penelitian yang dilansir di Psychology Today, setiap orang mampu menyembuhkan diri sendiri sekitar 18 hingga 75 persen.

Self-healing yang diyakini Sofiah, bukan hanya berazas pada penemuan medis, tapi juga petunjuk dalam Alquran dan tuntunan yang diberikan Rasulullah SAW. “Saya percaya Allah sudah menitiskan kita petunjuk melalui Alquran, dimana ada arah arahnya secara detail melalui sabda dan gaya hidup Rasulullah,” ujar Sofiah saat mengisi kajian virtual PB Wanita Al Irsyad, Selasa (30/6).

Rasulullah, menurut Sofia adalah panutan terbaik, dimana seluruh gaya hidupnya patut untuk dicontoh. Sofia mengakui, semakin banyak buku mengenai pola hidup Rasulullah yang dia baca, maka semakin takjublah dia pada gaya hidup Rasulullah yang sangat sehat.

“Saya semakin membaca gaya hidup Rasulullah, khususnya pola makan beliau, semakin saya takjub. Karena Rasulullah ternyata sudah menerapkan diet-diet sehat yang tren saat ini, sejak berabad-abad lalu,” kata dia.

Rasulullah memiliki pola makan yang patut diikuti, mengingat Rasulullah tidak pernah terbiasa mengonsumsi makanan atau minuman secara berlebihan. Sofiah mengatakan, berdasarkan buku dan hadits yang dibacanya, Rasulullah ternyata selalu memperhatikan tiga siklus tubuh dalam memproses makanan.

“Pada pagi hari, biasanya Rasulullah hanya minum segelas campuran air dan madu. Dan pada waktu dhuha, Rasulullah hanya makan kurma Ajwa,” ujar Sofiah.

Rasulullah punya kebiasaan tidur setelah isya dan biasanya empat jam sebelumnya beliau tidak mengonsumsi apa pun. Ini sejalan dengan siklus tubuh yang mungkin belum banyak diketahui.

Dia menjelaskan, tubuh memiliki tiga siklus saat mengolah makanan. Pertama adalah proses penyerapan makanan yang berlangsung sejak pukul 20.00 hingga 04.00. Pada jam-jam tersebut, disarankan tidak memakan makanan berat, agar makanan dapat terserap maksimal dan tubuh tidak terbebani dengan makanan baru.

“Kedua, pukul 04.00 hingga 12.00 adalah proses pembuangan makanan maka jangan mengonsumsi makanan yang memberatkan proses pembuangan. Lalu apa yang sebaiknya dikonsumsi? Makanlah kurma atau buah,” kata Sofia.

Ketiga, pukul 12.00-20.00 silakan makan berat tapi tetap secukupnya. Setelah pukul 20.00, sebaiknya setop mengonsumsi apa pun kecuali air putih.

Adapun alasan masih banyaknya penyakit yang menyarang dalam tubuh, kata Sofia, karena sulitnya umat Muslim mengikuti petunjuk yang sejatinya sudah tertera jelas melalui Alquran dan sunnah. Kegagalan yang sering terjadi dalam proses self-healing melalui puasa, kata Sofia, diakibatkan oleh dua hal.

Pertama, kurangnya keikhlasan saat berpuasa. Seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya suatu amal yang jika dikerjakan dengan ikhlas, namun tidak benar maka amal tersebut tidak diterima. Dan jika suatu amal jika dikerjakan dengan cara yang benar namun tidak disertai niat yang ikhlas maka amal tersebut tidak diterima.”

“Lalu kenapa kita belum bisa merasakan manfaat walaupun telah berpuasa?

Kuncinya adalah ikhlas dulu. Jika puasa kita tidak dilakukan secara ikhlas, maka tidak akan terjadi detoksifikasi dan puasa kita tidak akan diterima. Makanya coba kita introspeksi diri niat kita berpuasa,” ujar Sofiah.

Bagaimana cara kita tau puasa kita ikhlas atau belum? Dengan cara melihat cara kita berbuka. “Jika waktu berbuka digunakan sebagai waktu balas dendam dengan memakan banyak sekali makanan sekaligus. Maka tidak ada keikhlasan dalam puasa kita,” ujarnya.

Source: republika.co.id

Tags:
Donation Confirmation
en_USEnglish
id_IDBahasa Indonesia en_USEnglish