PENERAPAN MULTIPLE INTELLIGENCES

SEMARANG. Non Formal Education (NFE) cabang Semarang menggelar Upgrading Mentor 2011 dengan tema “Penerapan Multiple Intelligences” di Aula Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Semarang, Minggu (13/12). Kegiatan ini dikuti mentor anak asuh dan relawan Rumah Zakat cabang Semarang. Acara tersebut menghadirkan pembicara tingkat Nasional seperti Drs. Ciptono pendiri sekaligus kepala SLB Kota Semarang dan Handayani Julansari Psikolog guru SDIT.
   
Menjadi seorang mentor ternyata tidak mudah. Butuh bekal khusus untuk menjalani perannya. Selain sabar juga harus teliti akan potensi dan bakat anak asuh karena dengan kecermatan mentor akan mudah mengarahkan kecenderungan anak dominan kearah mana? Hal tersebut menjadi perhatian khusus sehingga diadakannya kegiatan Updrading Mentor 2011 ini. “Alasan menempatkan kegiatan Upgrading Mentor 2011 di SLB Kota Semarang untuk memberikan inspirasi dan mendekatkan pola pikir para mentor dalam menjalankan perannya sebagai seorang pengasuh dalam mengenali dan memahami potensi anak didiknya,” tutur pemberi materi.

Drs. Ciptono dalam menyampaikan materi juga menjelaskan, sebagai seorang guru atau pengasuh harus senantiasa sabar dan mengenali potensi-potensi anak dengan teliti.Jangan sekali-kali memaksakan anak untuk mengikuti kemauan kita tanpa melihat kapasitas yang ada. Itulah bedanya sekolah umum dengan sekolah SLB. Jika sekolah umum mengutamakan kecerdasan otak (IQ) tapi SLB mengutamakan kecerdasan Multiple Intelligency. Sekolah umum, anak dituntut untuk mengikuti kurikulum tapi di SLB, kurikulum yang harus mengikuti anak karena pada dasarnya setiap anak itu dilahirkan dalam keberagaman. Ada anak normal, ada juga anak yang memerlukan kebutuhan khusus seperti halnya anak-anak autis atau bisa diartikan AUTISME yang artinya Acuh, Usil, Terlambat bicara, Imajinasi lemah, Sosialisasi jelek, Motorik terhenti, dan Egois.

Tambah Ciptono, “Sebagai Guru yang baik harus bisa memenuhi 11 kriteria, yaitu fleksibel, optimis, respek, cekatan, humoris, inspiratif, lembut, disiplin, responsif, ngefrend /bisa menjadi teman, dan suka dengan anak. Tanpa adanya hal tersebut anak didik akan merasa jenuh dan malas untuk belajar. Akan tetapi jika seorang pengasuh atau guru sudah bisa memenuhi 11 kriteria tersebut saya jamin pasti akan menjadi guru yang diidolakan dan akan menjadi guru yang senantiasa ditunggu murid. Selain itu jangan sekali-kali seorang guru melakukan tindakan fisik karena hal tersebut akan selamanya diingat sang anak”.

Hal tersebut juga ditegaskan pemateri kedua yaitu Handayani Julansari bahwa hakikat pengajaran dan pengasuhan itu harus ada pencermatan dan telaah yang penuh kepada anak dengan segala potensinya, harus ada penghargaan dan respek pada setiap potensi, menghantarkan anak mengoptimalkan potensi utamanya, dan tidak terjebak pada situasi perbandingan yang tidak proposional.

Mempelajari kecerdasan Multiple Intelligency memang sangat dibutuhkan seorang pengajar dan orang dewasa. Akan tetapi tidak semua lembaga pendidikan menerapkan Multiple Intelligency pada peserta didik, karena di Indonesia sendiri dalam menentukan sesuatu masih berdasarkan IQ tidak pada Multiple Intelligency seseorang. Sedangkan dalam kecerdasan Multiple Intelligency dibagi menjadi 8 bagian kecerdasan yaitu kecerdasan linguistik, matematik, kinestetik, visual, intrapersonal, emosional, musik, dan natural. Beda dengan negara-negara maju seperti halnya negara Jerman yang sudah mengakui adanya 8 kemampuan tersebut. ***

Newsroom/Kustina
Semarang

Tags :
Donation Confirmation