[:ID]3 GOLONGAN YANG HARAM MENIKMATI SURGA[:en]3 GROUPS THAT ARE FORBIDDEN TO ENJOY HEAVEN[:]

[:ID]Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban terhadap amanah kepemimpinan yang dibebankan di atas pundak kita, sekecil apa pun kepemimpinan itu. Dari mulai penguasa negara yang memimpin sekian banyak rakyatnya, sampai kepada seorang pembantu rumah tangga juga akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya itu.

Termasuk, seorang laki-laki dalam rumah tangganya. Ia adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang ada dalam rumah tangganya, terutama terhadap istri dan anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Jadi, tidak terbatas hanya kepada anak perempuannya saja. Tanggung jawab di sini mencakup tanggung jawab nafkah, pendidikan, dan mengarahkan mereka kepada jalan Allah SWT.

Dalam hal mendidik dan mengarahkan keluarga menuju jalan Allah SWT ini, Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS al-Tahrim [66]: 6).

Allah SWT memerintahkan kepada Rasul-Nya dan tentu juga kita sebagai umatnya untuk mendidik dan menyuruh anggota keluarga kita agar selalu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT, seperti mendirikan shalat dan bersabar dalam melakukan hal itu (QS Thaha [20]: 132).

Nabi SAW juga memberikan bimbingan bagi umatnya cara membiasakan anak untuk beribadah sejak dari usia dini. Beliau SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Terhadap orang tua, baik ayah maupun ibu, seorang anak berkewajiban untuk berbakti dan selalu berbuat baik serta mengingatkan dengan cara yang baik jika kedua orang berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Nabi SAW.

Para ulama sepakat bahwa seorang Muslim wajib menafkahi orang tuanya jika mereka memang membutuhkan karena banyaknya dalil dari Alquran dan hadis Nabi SAW yang menegaskan kewajiban untuk berbakti kepada orang tua. Dan, berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu amalan yang paling afdal di sisi Allah SWT.

Sebaliknya, durhaka kepada kedua orang tua adalah salah satu dosa besar. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS Luqman [31]: 14).

Dan ketika orang tua mengajak atau menyuruh untuk berbuat dosa atau maksiat maka seorang anak tidak boleh mengikuti ajakan itu, tapi harus tetap menghormati dan bergaul dengan dengan cara yang baik. (QS Luqman [31]: 15).

Juga ada kewajiban untuk memberikan nasihat dan mengingatkan tentang perintah dan larangan Allah SWT sesuai dengan tugas dan kewajiban seorang Muslim untuk melakukan amar makruf nahi mungkar yang tentunya lebih utama kepada orang-orang terdekatnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiga golongan yang Allah SWT haramkan baginya surga, yaitu pecandu khamar, orang yang durhaka kepada orang tuanya, dan lelaki dayyuts (laki-laki yang acuh dan tidak ambil peduli dengan siapa istri dan anak-anaknya bergaul, pergi, bertemu) yang membiarkan kemaksiatan dilakukan dalam rumah tangganya.” (HR Ahmad dan al-Nasa`i).

Berdasarkan itu, seseorang bertanggung jawab jika ada anggota keluarga yang melakukan dosa atau kemaksiatan, sedangkan ia membiarkan hal itu terjadi atau menjadi sebab mereka melakukan dosa dan maksiat tersebut atau ia tidak mendidik dan mengarahkan mereka, sehingga mereka meninggalkan perintah Allah SWT dan melakukan kemaksiatan.

sumber: republika.co.id

 

[:en]

Rasulullah SAW asserted that each of us will be held accountable for the mandate of leadership that is placed on our shoulders, no matter how small the leadership is. From the start of the ruler of the state who leads his many people, to a domestic servant will also be held accountable for his leadership.

Including, a man in his household. He is a leader in his household and is responsible for everything in his household, especially for his wife and children, both men and women. So, not limited to only his daughter. The responsibilities here include the responsibility of earning, education and directing them towards the path of Allah SWT.

In terms of educating and directing the family towards the path of Allah SWT, Allah SWT said, “O you who believe, preserve yourself and your family from the fires of hell the fuel of which is man and stone; guardians of angels who are rude, hard, and do not disobey Allah for what He has commanded them and always do what is commanded.” (QS al-Tahrim [66]: 6).

Allah SWT commands His Messenger and of course also we as his people to educate and order our family members to always carry out what is commanded by Allah SWT, such as establishing prayers and be patient in doing so (QS Thaha [20]: 132).

Prophet SAW also provides guidance for his people on how to familiarize children in worshipping Allah from an early age. He said, “Order your children to pray when they are seven, and beat them up when they are not praying at the age of ten, and separate their beds from yours.” (Narrated by Ahmad and Abu Daud).

To parents, both father, and mother, a child is obliged to do filial piety and to always do good and remind them to be in the path of good in a nice way if the child does something that is not in accordance with the guidance of the Qur’an and the Sunnah of the Prophet SAW.

The scholars agree that a Muslim is obliged to support his parents if they do need it. Because there are many propositions from the Qur’an and the hadith of the Prophet SAW which emphasizes the obligation to serve parents. And, filial piety to both parents is one of the most effective practices in the sight of Allah SWT.

On the contrary, disobedience to both parents is one of the greatest sins. “And We command humans (to do good) to their two parents; your mother had conceived you in a state of weakness that had increased and weaned you for two years. Be thankful to Me and to your parents, only to Me is your return.” (QS Luqman [31]: 14).

And when parents invite or order you to sin or do something immoral, then a child must not follow the invitation, but must still respect and get along in a good way. (QS Luqman [31]: 15).

There is also an obligation to give advice and a reminder about the commands and prohibitions of Allah SWT in accordance with the duties and obligations of a Muslim to do amar makruf nahi mungkar which is certainly more important to the people closest to him.

Rasulullah SAW said, “Three groups that Allah SWT forbids him heaven, namely addicts khamar (alcoholic drink), people who sin their parents, and dayyuts men (men who are indifferent and do not care about who his wife and children hang out, go or meet with) those who let disobedience carried out in the household.” (Narrated by Ahmad and al-Nasa`i).

Based on that, a person is responsible if a family member commits a sin or disobedience, while he allows that to happen or become the reason, they commit the sin and immorality or he did not educate and direct them, in the end, they left the command of Allah SWT and do disobedience.

Source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia