AHMAD ARDI HUSSEIN, PERUBAHAN TELAH MENDEWASAKANNYA

PEKANBARU. AHMAD ARDI HUSSEIN, PERUBAHAN TELAH MENDEWASAKANNYAAhmad Ardi Hussein, sekilas ia terlihat sedikit arogan namun sebetulnya ia sosok yang jenaka dan periang, ada-ada saja tingkahnya yang bisa memancing tawa kawan-kawannya. Tertawanya yang khas pun terkadang memancing tawa yang lainnya. Pun ketika dimarahi atau ditegur teman-temannya, alih-alih marah Ia malah tertawa, begitulah keceriaan Ardi selalu terpancar di wajahnya.

“Banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri Ardi sejak SMP,” ungkap ibunda Ardi.
Ardi yang saat ini duduk di kelas 7 Madinah SMP Juara Pekanbaru ditinggal ayahnya saat duduk dikelas 5 SD. Hal ini sangat berdampak sekali untuk Ardi dan keluarga, kondisi ekonomi yang tiba-tiba terpuruk membuatnya belum bisa menerima keadaan yang tiba-tiba berubah. Apa yang ia mau harus tetap dipenuhi, keras dan cendrung berontak begitulah Ardi yang dahulu.

Tapi tidak untuk saat ini, Ardi sudah banyak berubah Ia bisa lebih qona’ah dan mensyukuri apa yang ia punya, kalau dulu uang jajannya Rp 10.000 sekarang ia tidak protes jika diberi uang jajan Rp 5.000 saja. Dulu ia selalu minta menu ayam untuk bekal makannya, tapi sekarang apapun lauknya ia terima, ia tak lagi banyak menuntut. Saat menerima BSM (Bantuan Siswa Miskin) Ardi meminta uminya untuk dibelikan sepeda agar uminya tidak repot-repot lagi menjemput Ardi setiap hari. Ardi tidak muluk-muluk ingin dibelikan sepeda baru, sepeda bekas pun tak masalah baginya. Ini sangatlah berbeda dengan sosok Ardi yang dulu.

Suatu sore, saat pulang sekolah Ardi dijemput oleh umi dan adiknya, melihat umi dan adiknya dari kejauhan wajahnya masam dan kelihatan sangat kesal. Setelah menghampiri umi dan adiknya Ardi lantas menegur adiknya, “Adik kenapa tidak pakai jilbab? Abang malu sama teman-teman abang adik tidak pakai jilbab, lain kali tidak usah ikut jemput abang lagi kalau tidak pakai jilbab!,” tegur Ardi pada adiknya.

Ternyata itu yang membuatnya kesal sore itu, masya Allah walau jilbab bukan kewajiban untuknya tapi ia mendegarkan dengan baik apa yang bapak ibu guru sampaikan di sekolah tentang kewajiban berjilbab. Dan ia ingin adik perempuannya juga menerapkan kewajiban itu.

Rasa syukurnya terus bertambah sejak bertemu teman-teman barunya di SMP Juara Pekanbaru, ia baru menyadari ternyata masih banyak yang tak seberuntungnya, walau ayah kandungnya telah tiada tapi ia masih bisa merasakan kasih sayang umi yang sangat menyayanginya tidak seperti Rido teman dekatnya yang saat ini tak lagi bersama kedua orang tuanya. Tak jarang ketika pulang sekolah ia meminta izin ibunya untuk mengajak Rido pulang bersama,
“Umi boleh Rido pulang sama kita? Rido tidak ada yang jemput,” pinta Ardi. Jiwa sosialnya perlahan mulai tumbuh seiring kebersamaannya bersama anak-anak Juara lainnya.

Ia menyadari betapa banyak hal yang harus ia syukuri dalam hidup ini, ia mungkin tidak mendapatkan kemewahan dari orang tuanya tapi apa yang ia miliki saat ini jauh lebih baik dibanding yang teman-temannya dapatkan. Kesyukurannya juga ditunjukkan dari hasil belajarnya, di semester lalu ia menduduki posisi terbaik kedua di kelasnya, belajarnya pun sangat konsisten ia juga aktif di beberapa ekstrakulikuler yang ada. Itulah yang menarik dari Ardi, walau senang bercanda dan tak mau diam, tapi ia tau kapan waktunya ia harus serius dan fokus. Begitulah Ardi, sosok sang pembelajar sejati.***

Newsroom/Yuliza Fitri
Pekanbaru

Tags :
Konfirmasi Donasi