[:ID]AIR SEJARAH[:en]THE POWER OF HISTORY[:]

[:ID]

imagesOleh: Wisnu Tanggap Prabowo

Dengan air, segala yang bermanfaat dapat tumbuh dari tanah dengan izin Allah. Dengan air sejarah, ia dapat menyuburkan dan mengangkat limpahan harta tak ternilai yang terpendam di dalam tanah. Warisan para Rasul, para sahabat Muhajirin dan Anshar, para syuhada, serta ahli ilmu yang kini jasad mereka berada di dalam tanah, hanya dapat terangkat kembali melalui air sejarah.

Ilmu, ketulusan, semangat dan loyalitas mereka akan tumbuh ke tengah-tengah kita. Sehingga umat Islam dapat menikmati buah-buahan dan keteduhan pohon-pohon rindang dan rimbun di tengah-tengah umat.

Sejarah seperti pohon (syajarotun). Berawal dari bibit, ia tumbuh menjulang tinggi dalam suatu waktu, sehingga ia menjadi rimbun, rindang, dan menghasilkan buah-buahan dengan beragam warna dan rasa.

Ibnu Khaldun rahimahullah mengatakan, sejarah adalah ilmu tentang hikmah, berkaitan dengan telaah mengenai masyarakat beserta pemahaman karakter peristiwa-peristiwa yang mengitarinya.

Mempelajari sejarah tokoh-tokoh Islam adalah salah satu pintu amalan menuju surga. Sebab, Rasulullah pernah berkata kepada seorang badui tentang amalan apa yang ia persiapkan untuk menyongsong hari kiamat. Badui itu berkata, ia tidak memiliki shalat, saum, dan sedekah yang banyak. Ia hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu Nabi bersabda, “Anta ma’a man ahbabta, engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”

Membaca sirah Nabi SAW akan menumbuhkan kecintaan padanya. Kecintaan kepada Rasulullah SAW akan mendatangkan Kecintaan Allah. “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”(QS Ali’Imron: 31).

Membaca biografi empat khulafa’ur rasyidin membawa kita pada kecintaan terhadap mereka. Mencintai keempat khalifah yang sudah dijanjikan surga dari Allâh melalui lisan Rasul-Nya semakin mendekatkan kita untuk bersama dengan orang yang kita cintai di akhirat kelak.

Mencintai adalah ibadah hati yang agung, dan sebaik-baiknya mencintai adalah kepada Allâh  dan Rasulullah. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari kedua orang tuanya, anak-anaknya, dan manusia seluruhnya.”

Mempelajari sejarah Islam beserta para tokohnya, yakni para Nabi dan Rasul, para sahabat Nabi, syuhada, dan para imam dan ulama umat, tidak saja merupakan aktivitas intelektual seorang Muslim di zaman fitnah ini, namun juga akan menumbuhkan rasa cinta terhadap mereka yang mencintai Allâh dan Allâh mencinta mereka.

Mencintai sesuatu membutuhkan makrifat tentang siapa dan apa yang kita cintai itu. Pintu makrifat para Nabi dan Rasul dan generasi yang meneladani mereka dengan baik dapat kita pelajari melalui sejarah, sirah, dan biografi mereka.

Ini adalah ibadah hati yang agung dan dapat membawa seseorang ke surga ketika amalan lahirnya tidaklah terlampau istimewa.

 

Sumber: Republika.co.id

[:en]imagesBy : Wisnu Tanggap Prabowo

With water, all that is useful can be grown on land with the permission of Allah. With history, it can nourish and lift the overflow of the priceless treasures buried in the ground. The legacy of the Prophet, the Friends of Muhajirin and Anshar, the martyrs, and scientists that are now their bodies are in the ground, can only be lifted back through the history.

Their Science, sincerity, passion and loyalty will grow into our midst. So that Muslims can enjoy fruits and shade from the trees and lush in the midst of us.

History is like the trees (syajarotun). Starting from seed, it grows tall in a time, so it becomes a lush, leafy, and produces fruits with a variety of colors and flavors.

Ibn Khaldun rahimahullah said, history is the science of wisdom, pertaining to the study of society and its understanding of the character of the events surrounding them.

Studying the history of Islamic figures is one of deed to heaven. Therefore, the Prophet Muhammad once said to a Bedouin about deeds what he prepared to meet doomsday. Bedouin said, he did not have a prayer, fasting, and alms that much. He just loves Allah and His Messenger. At once the Prophet said” Anta ma’a man ahbabta, you, with whom you love.”

Read history of Prophet will foster a love to him. The love of the Prophet Muhammad brings the love of God. “Say: ‘If you (really) love Allah, follow me (Muhammad), Allah will love you and forgive your sins” (QS Ali’Imron: 31).

Read history of four khulafa’ur Rashidin brings us to love them, loved the four caliphs who promised paradise of Allah through the prophet orally will bring us closer to together with our loved ones in the afterlife.

Love is the great heart of worship, and the best love is to love Allah and the Messenger. In a hadith, the Prophet said, “None of you becomes a believer until I am dearer to him than his childrenhis parents and all mankind.”

Studying the history of Islam and the characters, the Prophets and Messengers, the Prophet’s companions, martyrs, and the priests and scholars, not just an intellectual activity of a Muslim at this time, but will also foster a sense of love for those who love Allah and Allah will love them.

Loves something requires makrifat about who and what we love. We can learn makrifat Doors of Prophets and Messengers and the generations who imitate them through history, sirah, and their biographies.

This is the heart of worship and can take a person into heaven when his deeds are not too special.

Source: Republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia